Tema humanis yang dikemas dalam drama komedi asal Italia ini tak hanya berhasil menyabet Best Screenplay di David di Donatelli Award, tapi juga hati para penonton di pembukaan Europe on Screen 2016!

Berkarir menjadi seorang politikus memang sangat rumit, apalagi ketika sudah menduduki posisi penting. Setiap ucapan, ekspresi, bahkan satu tarikan senyum yang diambil terkadang dihubung-hubungkan dengan sikap partai secara keseluruhan. Lama-lama terasa menyesakkan, dan rasanya membuat ingin kabur saja. Tema humanis yang dikemas dalam drama komedi ini menjadi sangat menarik dan menyentuh berkat arahan sutradara Roberto Andò. Viva La Libertà (Long Life Freedom) merupakan film Italia produksi tahun 2013, dan telah memenangkan Best Screenplay at the David di Donatelli (Italian Oscar) Awards di tahun yang sama. Berkat kemenangan itu pula, film ini berhasil dinominasikan sebagai Audience Choice Award dalam Chicago International Film Festival 2013.
Viva la libertà ini mengangkat kisah Enrico Oliveri, pimpinan partai oposisi sekaligus senator yang sedang galau karena kredibilitasnya di partai dipertanyakan oleh hampir semua orang. Dia dianggap sudah tidak bisa menyuarakan aspirasi para pendukung partai, dan rekan-rekannya pun dibuat bingung karena Enrico cenderung diam seakan sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak sanggup menanggung tekanan dari berbagai pihak, Enrico memutuskan untuk kabur. Tidak ada yang tahu ia ke mana dan yang paling panik tentulah Andrea Bottini (Valerio Mastandrea), satu-satunya orang kepercayaan Enrico, karena ia tidak bisa mengabarkan begitu saja ke rekan-rekan partai. Demi menghindari skandal yang lebih besar, ia memutar otak dan diam-diam mengambil keputusan super gila: meminta Giovanni Ernani, saudara kembar identik Enrico, untuk menggantikan posisi Enrico di parlemen. Membiarkan organisasi besar ‘dipegang’ oleh mad man, tanpa tahu akan berakhir seperti apa.

Karakter Enrico Oliveri dan Giovanni Ernani diperankan oleh Toni Servillo, aktor senior yang sudah malang melintang di dunia perfilman Italia sebagai aktor dan sutradara sejak 1987. Di film ini, Servillo benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai aktor berpengalaman ketika adegan Enrico atau Giovanni dan sebaliknya, berpindah. Enrico digambarkan sebagai pimpinan partai yang penuh rahasia, depresi, dan memilih untuk tidak terbuka tentang hal apapun bahkan ke istrinya sendiri. Di sisi lain, Giovanni seorang filsuf ekspresif yang berkarir sebagai penulis buku sangat terkenal namun memilih untuk tinggal di mental health care karena merasa butuh pengobatan. Hanya dengan sedikit perubahan pada ekspresi mata plus senyuman yang agak ‘nakal’, Toni Servillo sukses membuat penonton takjub dan bisa dengan apik mengantarkan cerita sampai akhir dengan sangat mulus.

Tema cerita yang mengangkat heboh dan rumitnya dunia politik pun tidak terasa panas berkat sinematografi yang baik dari Maurizio Calvesi dan music score yang ringan oleh Marco Betta. Tidak ada emosi berlebihan yang ditampilkan, yang ada hanyalah emosi personal yang ditampilkan dalam diamnya sang politikus dan sorot mata serta senyuman penuh makna dari si saudara kembar. Giovanni yang gaya bicaranya selalu puitis dan ‘ngena’ justru membuat partai Enrico dipercaya kembali oleh masyarakat. Enrico dalam pelariannya pun kembali menemukan dunianya yang sudah 25 tahun hilang. Menuju akhir cerita, penonton seolah dibukakan mata oleh Giovanni: when politicians and political institutions fail, only the spirit and individual efforts of the people can rescue a nation from crisis. Jangan menunggu orang lain untuk melakukan perubahan. Ketika satu individu merasa ada yang tidak ‘pas’ dengan sesuatu, mulailah mencari perbaikan dari diri sendiri.
Film apik berdurasi 94 menit ini ditayangkan pada 29 April 2016 lalu, sebagai opening film Europe on Screen 2016 di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta dan berhasil membuat penonton bersorak dan bertepuk tangan ketika film ini berakhir. Film yang dirating untuk semua umur (meski sebenarnya ada beberapa adegan nudity) ini akan kembali ditayangkan secara gratis di dua tempat: Erasmus Huis (30 April) dan GoetheHaus (7 Mei). Untuk Jelata yang ingin menikmati film ini, atau film-film Eropa berkualitas lainnya,
