Jika film pertamanya mengedepankan sosok Snow White melawan Sang Ratu Jahat, kini sekuelnya lebih berfokus pada sosok si Pemburu. Akankah jajaran bintang baru yang muncul di dalamnya sanggup mengangkat kualitas film ini?

Tahun 2012 menjadi tahun Snow White karena dua filmnya rilis berdekatan. Mirror Mirror yang dibintangi Lily Collins lebih ringan dan penuh warna, sementara Snow White & The Huntsman yang dibintangi Kristen Stewart lebih kelam. Keduanya menyajikan kisah legendaris mengenai Putih (atau yang biasa disebut juga 'Puteri') Salju dengan cara mereka masing-masing. Sayangnya, hanya satu yang bertahan dan dibuatkan sekuelnya, yaitu Snow White & The Huntsman. Tahun 2016 ini, sekuel yang kini berganti judul menjadi The Huntsman: Winter’s War ini rilis tanpa menyertakan Stewart. Namun, sebagai gantinya, bintang-bintang kaliber Oscar masuk. Apa kualitasnya sanggup melebihi film pertama?
Jauh sebelum Ravenna berhadapan dengan Snow White, ia hidup dengan menguasai kerajaan-kerajaan yang ada berbekal kecantikan, kekuatan, dan cerminnya. Ravenna selalu ditemani sang adik yang setia, Freya. Naas, sebuah kejadian menimpa Freya hingga ia berubah menjadi Ratu Es dan memutuskan untuk berpisah dari Ravenna guna membangun kerajaannya sendiri. Di sini, ia melatih anak-anak yang diculiknya untuk menjadi pasukan terkuat, Huntsman. Dua yang terbaik, Erik dan Sara, ternyata melanggar peraturan utama Freya: jatuh cinta. Apa yang terjadi kemudian? Apakah keduanya dapat bersatu? Lalu, apa yang terjadi dengan Ravenna setelah dikalahkan Snow White?
Berbicara mengenai sekuel/prekuel ini, satu hal yang langsung mencolok mata tentu jajaran pemainnya yang tidak sembarangan. Stewart memang tidak mengulang kembali perannya sebagai Snow White, namun tidak lantas berarti film ini kehilangan daya tariknya. Pasalnya, nama Emily Blunt dan Jessica Chastain muncul guna memerankan Freya dan Sara. Pemilihan peran ini tentulah langsung menjadi obrolan di tengah penikmat film. Jika film pertamanya bisa dikatakan lemah karena akting Stewart yang kurang meyakinkan, apakah film kedua ini akan berkebalikan 180 derajat?

Sayangnya, harapan tersebut sedikit meleset. Emily Blunt tampil meyakinkan sebagai Ratu Es dengan ekspresinya yang dingin. Interaksinya dengan Ravenna juga cukup memikat. Namun, saat ia berhadapan dengan Chastain, justru terasa biasa saja. Begitu juga dengan Chastain yang terlihat kurang total dalam berakting sehingga alih-alih memikat, 114 menit yang ada terasa bak jalan tol yang lurus dan kurang belokan. Untunglah, Charlize Theron yang kali ini tampil lebih “kalem” dibanding film pertama cukup menyelamatkan ¼ awal dan ¼ akhir film. Dibandingkan Snow White & The Huntsman, Theron lebih bermain dengan ekspresi dan gestur alih-alih berteriak sana-sini untuk menggambarkan dirinya sebagai The Evil Queen.
Guna menambah keramaian film ini, dimunculkan empat kurcaci yang menemani Huntsman dalam perjalanannya merebut cermin kembali. Namun, kehadiran mereka seperti hanya tempelan dan tidak memiliki peran sebesar kurcaci dalam dunia The Lord of the Rings atau The Hobbit. Entah ingin membuat film ini seepik dua film sebelumnya, kehadiran para manusia mungil tersebut seakan memberikan nuansa yang nyaris sama. Tentu saja skalanya tidak semasif itu. Temanya mungkin akan mengingatkan kita pada Frozen yang sama-sama mengangkat kisah kakak-adik dengan salah satu di antaranya memiliki kekuatan es yang mematikan. Namun, film ini jelas jauh dari kategori 'Semua Umur' dan tidak akan ada lagu "Let It Go" mengalun di sepanjang film.
Secara keseluruhan, The Huntsman: Winter’s War memiliki kualitas setingkat di atas pendahulunya. Namun, dari segi kisah, cukup panjang dan bertele-tele hingga bisa jadi akan membuat Jelata menguap bosan. Kecuali kalau tiga pemain wanita yang mumpuni sanggup memastikan Jelata melek hingga film usai.
