A War: Antara Moral dan Kemanusiaan

by Ireuna

A War: Antara Moral dan Kemanusiaan
EDITOR'S RATING    

Film perang tidak selalu harus diramaikan oleh tembakan dan ledakan. Emosi para prajurit dan bagaimana keluarga yang ditinggalkan juga bisa diangkat, seperti yang tersaji dalam A War.

Dalam hidup, tidak sedikit kita mengalami hal-hal rumit yang memaksa kita untuk melakukan pengambilan keputusan dan tindakan cepat. Itu hal yang lumrah terjadi. Namun, bagaimana jika keputusan itu harus diambil di tengah situasi yang kacau balau? Dari sudut pandang inilah A Wa rmenampilkan dilema seorang komandan yang keputusannya untuk menyelamatkan anak buahnya ternyata berujung penghakiman. Film Denmark garapan sutradara Tobias Lindholm ini mengalirkan drama dengan pelan, lambat, seakan menonton film dokumentasi. Mengisahkan tentang kegiatan para tentara Denmark di Afganishtan yang bertugas melindungi warga sipil dari serangan Taliban, A War menampilkan banyak hal yang bisa menjadi pertimbangan dalam melakukan peperangan

Claus Pedersen (Pilou Asbaek) adalah seorang komandan untuk regu yang bertugas melindungi warga sipil dari serangan Taliban. Bertugas di wilayahnya, Claus telah melihat banyak hal dan sebagai komandan pasukan, ia telah memimpin banyak tugas pengintaian. Namun, hidup tidaklah sempurna. Setelah menolong warga sipil yang meminta tolong padanya, ia justru mendapati kenyataan bahwa Taliban semakin dekat. Ketika para tentara Denmark berpatroli siang harinya, setiap malam Taliban datang menghampiri warga sipil. Akhirnya, siang itu kawasan penduduk berubah menjadi medan perang. Baku tembak terjadi dan salah satu anak buahnya terkena tembakan. Seperti memegang pedang bermata dua, Claus tak punya pilihan dan tak bisa menunggu terlalu lama untuk menyelamatkan anak buahnya. Di depannya ada anak buahnya yang sekarat, sementara ia sedang berada di kawasan penduduk dan menerima tembakan bertubi-tubi dari segala arah. Perasaan trauma, ketakutan, dan kesedihan, bercampur aduk saat itu dan Claus harus mengambil keputusan. Meski keputusannya sangat dihargai oleh semua anak buahnya, kenyataannya Claus harus menerima konsekuensi atas segala keputusannya saat peperangan terakhirnya. 

Ini bukan film action seperti film-film tentang perang lainnya. Jika dihitung, hanya ada 1 kali adegan baku tembak yang benar-benar penuh kejutan. Sisanya, ini bahkan film yang cenderung sepi dan tenang. Bukan aksi yang ditonjolkan di sini, melainkan emosi, suasana, dan kontras antara apa yang terjadi di Afganishtan saat Claus berperang dengan yang terjadi di Denmark yang menyorot kehidupan keluarga Claus. Meski merupakan drama yang memang cukup lambat pada awalnya, Lindholm mampu membuka lembaran demi lembaran adegan dengan pasti, membuat kita tak akan melewatkan detik demi detiknya yang bergerak lambat. Ini drama tentang keluarga, tentang bagaimana seorang ayah dan komandan bersikap dan berusaha bertanggung jawab dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja Claus tidak bisa memilih keduanya, karena itulah dilema yang dihadirkan tidak dibuat-buat dan mengalir begitu saja.

Perang tidak selalu tampil dalam bentuk baku tembak, bombardir, atau invasi kelompok yang lebih kuat ke tempat kelompok yang lebih lemah. Nyatanya, Lindholm dalam film ini menyerukan bahwa perang yang sebenarnya ada di dalam batin. Kenyataan akan perang di depan mata yang membawa kepedihan memang tak bisa dimungkiri. Namun, siapa yang harus disalahkan ketika terlalu banyak korban yang berjatuhan saat perang? Apakah si pengambil keputusan, atau keadaan?

Artikel Terkait