Jika A Walk to Remember masih bisa dinikmati dengan jalinan kisah yang menarik dan lagu-lagu yang memikat, berbanding terbalik dengan The Choice yang terlalu bertele-tele dan melelahkan saat mencapai klimaks.

Nicholas Sparks memang piawai dalam membuat novel yang mengharu biru pembacanya. Beberapa bahkan sudah diadaptasi ke layar lebar dan berhasil meraih banyak penonton, sebut saja Message in a Bottle, A Walk to Remember, hingga The Notebook. Deretan nama tenar pun seakan tertarik untuk ikut bergabung dalam proyek film ini. Kini, menyambut hari kasih sayang, satu lagi novel Sparks yang dilayarlebarkan berjudul The Choice.
Gabby (Teresa Palmer) adalah seorang mahasiswi yang sedang belajar untuk mengikuti ujian kedokteran. Ia tinggal di sebuah rumah tepi danau, tepat di sebelah rumah Travis (Benjamin Walker), seorang dokter hewan lokal. Keduanya sendiri saat ini sedang menjalin hubungan dengan orang lain, Gabby dengan seorang dokter bernama Ryan McCarthy (Tom Welling) dan sudah bertunangan, sementara Travis menjalani hubungan putus-sambung dengan Monica (Alexandra Daddario). Namun, kondisi ini tidak menghalangi keduanya untuk dekat. Lalu, apakah hubungan asmara antara Gabby dan Travis dapat berjalan mulus?
Kalau Jelata sudah pernah menyaksikan film-film adaptasi novel Nicholas Sparks sebelumnya, tentu tahu formula yang diketengahkan. Dari orang asing, kedua tokoh utama perlahan mulai saling mengenal, jatuh cinta, hingga akhirnya kisah cinta mereka harus terpisahkan oleh sebuah kondisi. Hal itu juga terjadi pada The Choice. Beberapa dialog memang cukup mampu mengundang tawa, akting Teresa Palmer sebagai Gabby yang ceplas-ceplos pun terasa tidak membosankan meskipun belum sekarismatik Rachel McAdams atau sememikat Mandy Moore.

Sayangnya, dialog dan akting Palmer tidak sanggup menutupi kelemahan film ini dari segi durasi. Lamanya waktu putar akan membuat Jelata yang tidak terlalu suka film romantis nan mendayu-dayu akan merosot di kursi. Jalinan kisah dari awal perkenalan hingga sampai pada konflik yang ditujukan untuk membuat penonton terenyuh pun terasa terlalu bertele-tele sehingga Jelata sudah terlalu lelah dan tidak peduli pada nasib sang tokoh utama. Semua itu masih ditambah dengan kurangnya chemistry antara Walker dan Palmer sehingga kisah cinta mereka bisa dikatakan terasa hambar. Kehadiran Alexandra Daddario dan Tom Welling pun seakan hanya pemanis yang tak perlu karena kurangnya kedalaman karakter mereka.
Bagi Anda yang menyukai kisah-kisah manis ala Nicholas Sparks, The Choice jelas merupakan tontonan yang tidak mungkin dilewatkan. Namun, dibanding kisah-kisah adaptasi lain dari pengarang novel kenamaan tersebut, The Choice bukanlah adaptasi terbaiknya.