Talak 3: Bukan Drama Religi, tapi Drama Komedi

by dr. kawe

Talak 3: Bukan Drama Religi, tapi Drama Komedi
EDITOR'S RATING    

Meskipun dari judulnya terkesan mengangkat mengenai hukum perceraian dalam agama Islam, namun Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth mengemasnya menjadi sebuah drama komedi agar mudah diterima masyarakat

Menjadi amunisi awal tahun bagi MD Pictures setelah kemarin sukses dengan Surga yang Tak Dirindukan, hadir sebuah drama komedi berjudul Talak 3. Seperti yang sudah pernah disampaikan Hanung Bramantyo, bahwa film ini bukanlah film religi dan tidak bermaksud mengolok-olok agama ataupun institusi tertentu. Lantas, bagaimana kisahnya?

Bagas dan Risa sudah bercerai karena emosi, namun utang rumah yang harus dilunasi dan terancam disita memaksa mereka untuk bekerja sama kembali. Jawaban dari masalah tersebut adalah sebuah Wedding Expo yang proposalnya mereka kerjakan bersama. Akan tetapi, terdapat satu syarat sebelum proyek tersebut dapat dijalankan: keduanya harus menikah kembali dan memastikan bahwa tidak ada pertengkaran selama proyek tersebut. Hal yang dengan mudah disanggupi Bagas langsung berbuah kebingungan bagi pasangan ini karena ternyata kata ‘talak 3’ yang dijatuhkan Bagas kepada Risa membuat keduanya tidak bisa langsung menikah kembali. Risa harus menjalani proses muhalil, yaitu dinikahi oleh pria lain kemudian diceraikan sehingga ia menjadi sah untuk dinikahi Bagas. Mulailah berbagai akal dicari Bagas, mulai dari memalsukan surat nikah dan cerai, memalsukan data diri, hingga mencari suami kontrak. Pilihan jatuh kepada Bimo yang telah mengenal Risa sejak SMP. Namun, apa jadinya ketika ternyata Bimo telah memendam perasaan sejak lama kepada teman masa kecilnya tersebut?

Hadirnya tiga nama besar dalam satu layar (Vino Bastian, Reza Rahadian, dan Laudya Chintya Bella) jelas merupakan jaminan mutu bahwa akting yang dihadirkan tidak standar. Dan memang, ketiganya melunasi harapan banyak pihak yang yakin bahwa performa mereka tidak akan mengecewakan. Vino menjelma menjadi Bagas yang blak-blakan, bertindak tanpa pikir panjang, dan penuh emosi; Reza menjadi Bimo yang kalem dan kerap berada di bayang-bayang kedua temannya sebelum akhirnya mendapat porsinya sendiri; dan Bella sukses memerankan Risa yang tadinya tidak punya pendirian, namun seiring berjalannya cerita mulai punya sikap. Akting ketiganya berhasil terjalin dalam sebuah kisah yang meski mengangkat salah satu hukum Islam, namun tidak jatuh menjadi religi yang mendayu-dayu dari awal sampai akhir.  Sesekali drama diselingi dengan adegan komedi yang melibatkan karakter Hasim, Jonur, dan Basuki. Agak disayangkan memang bahwa komedi hanya muncul pada saat ketiganya hadir, sementara kala Bagas-Risa-Bimo hadir di layar, suasana kembali menjadi penuh drama.

Dengan latar kota Yogyakarta yang apik, tidak salah memang acungan jempol patut dilayangkan kepada Hanung dan Ismail Basbeth yang berduet menjadi sutradara. Selain berhasil menghadirkan cerita yang cukup mengena, penempatan komedinya pun terasa pas. Tidak berlebihan hingga menjadi slapstick dan bikin bosan, tapi juga tidak terlalu sedikit hingga condong ke arah drama. Kalau Jelata jeli, gimmick khusus bertebaran sepanjang film di saat Pak Hasmi sebagai kepala KUA muncul. Di manapun beliau berada, Jelata bisa melihat petunjuk-petunjuk spesial bahwa Pak Hasmi merupakan pengarang komik Gundala Putera Petir, entah itu tempelan kertas di papan pengumuman hingga coretan iseng di dinding kamar mandi.  

Kekurangan mungkin hanya menjelang bagian akhir yang terasa dragging dan njlimet dengan banyaknya flashback. Aerial shot pun yang beberapa kali munculpun terasa blur di layar, sayangnya adegan ini beberapa kali dimunculkan sehingga saya yang duduk di depan agak terganggu. Namun, secara keseluruhan, Talak 3 memberikan hiburan berimbang antara drama dengan komedi plus ditambah akting tiga tokoh sentralnya yang kuat dan bonus Pak Hasmi Gundala yang di luar dugaan bisa juga tampil komikal.

 

Artikel Terkait