Krampus: "Memaksa" Kita Kembali ke Semangat Natal

by dr. kawe

Krampus:
EDITOR'S RATING    

Sebuah film yang siap menyambut Natal. Namun awas, bisa-bisa Jelata bermimpi buruk karenanya.

Mendekati Natal wajar bila banyak film-film keluarga dengan tema yang penuh keriangan dan keceriaan menyambut sukacita hari kelahiran Yesus Kristus tersebut. Namun, percayakan tema tersebut kepada Michael Dougherty, dan film riang tersebut akan menjadi kisah dark-comedy yang “memaksa” orang untuk mempercayai keajaiban Natal.

Sebuah keluarga yang terdiri dari orangtua (Tom dan Sarah), kedua anak mereka (Beth dan Max), dan nenek (Omi) kedatangan tamu yang rutin berkunjung untuk merayakan Natal. Mereka adalah adik Sarah dan suaminya (Linda dan Howard), empat anak mereka (Stevie, Jordan, Howie Jr., dan seorang bayi), dan Bibi Sarah dan Linda (Dorothy). Rupanya, sudah sejak lama kedua keluarga ini tidak dapat akur dan malah membuat suasana Natal semakin memanas dengan saling mengejek. Puncaknya adalah pada saat Stevie dan Jordan membaca surat Max untuk Santa Claus. Max yang marah merobek surat tersebut dan membuangnya ke luar jendela. Tidak berapa lama kemudian, listrik di kompleks rumah mereka mati dan badai salju menyerbu. Tidak disangka, satu persatu anggota kedua keluarga ini mulai diculik oleh berbagai makhluk aneh. Apa yang terjadi? Siapakah Krampus yang pada akhirnya diceritakan oleh Omi? Apakah Max dapat menyelamatkan keluarganya?

Krampus sendiri bukanlah sebuah kisah karangan Dougherty untuk menyentil keluarga Amerika yang mulai jauh dengan semangat Natal. Karakter ini muncul dalam kisah rakyat yang terkenal di daerah Eropa, terutama daerah Alpen. Krampus dikisahkan akan menghukum anak-anak selama musim Natal yang tidak berbuat baik, berbanding terbalik dengan Saint Nicholas atau Santa Claus yang senang memberikan hadiah. Dalam film ini, sosok Krampus mengalami perubahan dengan digambarkan memakai tudung, bermata cekung dan melotot, serta dagu yang tertarik lebar. Namun, beberapa ciri yang tidak hilang adalah dua tanduk besarnya yang menyerupai tanduk kambing serta tubuhnya yang diselimuti bulu.

Mungkin Jelata bertanya-tanya siapakah sutradara yang cukup twisted untuk membuat kisah Natal yang akan membuat anak-anak bermimpi buruk ini? Ialah Michael Dougherty yang sudah piawai mengerjakan berbagai naskah kisah superhero, seperti X2, Superman Returns, hingga yang terbaru nanti X-Men: Apocalypse. Namun, saat melihat salah satu filmografinya sebagai sutradara, Jelata tentu mafhum kenapa ia bisa menjadikan Krampus sebagai sebuah film horor dengan kesan Natal. Dougherty-lah sutradara di balik film Trick ‘r Treat yang menggambarkan Halloween dalam antologi slasher-comedy. Karena itu, tidak heran bila aura yang disajikan dalam Krampus nyaris serupa dengan film rilisan tahun 2007 ini.

Meski paruh awal agak membosankan karena berupa perkenalan kepada anggota keluarga dan konflik yang pada akhirnya menuntun mereka pada kemunculan Krampus, untungnya tensi meningkat di pertengahan saat satu persatu tokoh mulai menghilang. Namun di tengah ketegangan itu, Jelata masih bisa tertawa berkat selipan dialog-dialog kocak yang terlontar ataupun saat melihat kue jahe menjadi kaki-tangan Krampus yang imut, tapi sadis. Tidak ingin terjebak memberikan ending yang membuat orang tersenyum, Dougherty sukses memberikan twist yang meninggalkan kesan depresif. Sayangnya, bisa jadi tidak semua orang suka dengan treatment ini karena ada yang mengharapkan bahwa bagian akhir tidak dipanjang-panjangkan.

Sebagai sebuah film Natal, mungkin bukan pilihan yang tepat Jelata, apalagi sambil membawa anak kecil. Tapi, untuk Anda yang menyukai kisah-kisah kelam dengan monster, layaknya Pan’s Labyrinth, bisa jadi akan menggemari Krampus.

Artikel Terkait