Point Break: Film dengan Kemachoan Level Tinggi

by dr. kawe

Point Break: Film dengan Kemachoan Level Tinggi
EDITOR'S RATING    

Meski temanya klise, namun dengan berbagai pemandangan alam yang disajikan dan olahraga ekstrim yang ada, keluar bioskop Jelata akan merasa super-duper macho

Judulnya mungkin akan membuat Jelata teringat pada sebuah film tahun 1991 yang dibintangi oleh Keanu Reeves (sebelum berpotongan rambut crew cut dan digilai pria maupun wanita di seluruh dunia) dan Patrick Swayze. Ya, Point Break yang dijadwalkan rilis pada 4 Desember di Indonesia dan 25 Desember di seluruh dunia ini memang merupakan remake dari film tersebut. Temanya masih sama, seorang polisi yang melakukan penyamaran dan menyusup ke dalam sekelompok atlet muda yang diyakini merupakan dalang dari beberapa kejahatan yang tersebar di seluruh dunia.

Pascakejadian yang menewaskan sahabatnya, Johnny Utah (Luke Bracey) memutuskan untuk “pensiun” dari dunia motocross dan beralih menjadi agen FBI. Tepat saat itu, FBI sedang dipusingkan dengan aksi sekelompok perampok yang bak Robin Hood, merampok dari yang kaya untuk kemudian dibagikan kepada si miskin. Dari rekaman kamera, Utah sadar bahwa kelompok ini bukanlah kelompok sembarangan. Mereka adalah atlet olahraga ekstrim yang sedang dalam upaya menyelesaikan tahapan The Ozaki 8, delapan percobaan yang dilakukan untuk mengembalikan apa yang sudah kita ambil dari alam. Penyelidikan Utah membawanya masuk ke sebuah kelompok yang dipimpin Bodhi (Edgar Ramirez), seorang pria karismatik yang mencoba menyeimbangkan antara kehidupan dan alam. Apa yang terjadi saat Utah semakin dalam terlibat, ditambah daya tarik Samsara (Teresa Palmer), salah satu anggota kelompok?

Menyaksikan film ini tak ubahnya melihat  versi panjang dari sebuah iklan rokok yang memajang gambar-gambar keindahan alam dan olahraga yang memacu adrenalin. Namun, Point Break tentu membawa ini semua ke titik ekstrim. Anda tidak akan bosan diberikan berbagai panorama yang memanjakan mata. Mulai dari puncak gunung es, laut biru yang menggelora, hutan hijau, hingga tebing kecokelatan. Semua itu tersaji lengkap bak full course di atas meja.

Bila di film 1991, Point Break memiliki duet Reeves-Swayze, kali ini ujung tombak dipercayakan kepada Luke Bracey dan Edgar Ramirez. Akting Bracey bisa dikatakan cukup berhasil, namun masih kalah dibandingkan dengan Ramirez yang meski diam, namun terasa memiliki aura kepemimpinan dan sulit menyerah dalam usahanya bersatu dengan alam. Dan, tahukah Jelata bahwa Bracey sempat tampil dalam G.I. Joe: Retaliation menggantikan Joseph Gordon-Levitt sebagai Cobra Commander? Ya, memang tidak banyak yang tahu dikarenakan wajahnya terus-menerus tertutup topeng. Salah satu yang mengejutkan tentu adalah kehadiran Teresa Palmer yang di luar dugaan berani tampil agak beda. Dengan rambut berwarna hitam dan kulit pucat, Jelata tentu tidak menyangka bahwa Samsara yang bebas, periang, dan seksi itu adalah perempuan yang sama dengan karakter Julie dalam Warm Bodies.

Secara kisah, memang tidak dapat dikatakan bahwa Point Break memberikan sesuatu yang baru. Rasanya, tema mengenai agen FBI yang menyusup ke dalam sebuah organisasi sudah cukup sering diangkat. Namun, tentu saja film ini alih-alih menggunakan mafia, memilih atlet olahraga ekstrim. Sedikit perubahan juga terjadi di remake ini yang memperluas cakupan olahraganya hingga tidak hanya surfing seperti film orisinalnya. Selain itu, adegan pembukanya akan mengingatkan Jelata pada Cliffhanger yang dibintangi oleh Sylvester Stallone. Karena itu, tepat bila dikatakan bahwa Point Break mengulang formula lama dengan unsur macho dan maskulin yang lebih diperbanyak.

Artikel Terkait