Semua akan memasuki usia tua, tidak terkecuali Sherlock Holmes. Bill Condon memotret detektif berusia senja itu dengan segala keterbatasannya.

Apa jadinya ketika Sherlock Holmes yang sinis dan memandang rendah orang lain karena kemampuan otak mereka yang jauh di bawahnya sudah menginjak usia senja? Premis inilah yang diketengahkan Bill Condon dalam penyutradaraan terbarunya, Mr. Holmes. Mendapuk bintang senior yang rasanya aktingnya sudah tidak perlu diragukan lagi, Ian McKellen memerankan Sherlock Holmes tua.
Holmes yang kini sudah menginjak usia 93 tahun memilih untuk menyepi di sebuah pertanian di Sussex dengan pengurus rumah, Mrs. Munro dan putranya Roger. Melalui perbincangannya dengan Roger, ingatan-ingatan yang sedikit demi sedikit kembali lagi, serta tulisan-tulisannya, penonton diajak menyusuri kembali kasus terakhir Holmes yang membuatnya menarik diri dari dunia detektif dan juga perjalanannya ke Jepang dalam rangka menjawab undangan seorang warga Jepang yang tertarik dengan sosok Holmes, Umezaki.
Jangan bayangkan film dengan adegan penuh laga ala Sherlock besutan Guy Ritchie atau pria bermulut pedas dan kerap menghina kemampuan berpikir orang lain yang diperankan Benedict Cumberbatch. Condon sebagai sutradara mengenyampingkan semua itu dan benar-benar memperlihatkan sosok Holmes yang mulai pikun, butuh bantuan untuk beberapa hal yang harus dikerjakan karena kondisi fisiknya yang sudah tidak mumpuni, hingga kesendiriannya pasca berpisah dari Watson, sang partner. Sosok Holmes yang selama ini digambarkan begitu digdaya memecahkan kasus kini tidak ada bedanya dengan pria-pria uzur yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat. Sutradara The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2 itu juga memperlihatkan rasa frustasi Holmes yang mulai gampang lupa, sebuah kondisi yang tentu saja menjadi mimpi buruk baginya yang terbiasa memiliki pemikiran cemerlang. Adegan ini terasa menyentil dan menggugah emosi karena mengingatkan Jelata bahwa karakter “sekuat” Holmes pun pada akhirnya akan memasuki masa tua.

Jangan harapkan tokoh-tokoh yang sudah lekat dalam hidup Holmes akan disorot karena Condon benar-benar hanya berfokus pada sang detektif. Watson hanya dimunculkan tanpa diperlihatkan mukanya, Mrs. Hudson dan Mycroft pun hanya muncul sekilas. Terlebih lagi Moriarty dan Irene Adler yang sama sekali tidak disinggung-singgung. Namun, semua itu ditambal Condon dengan menghadirkan Roger sebagai teman di masa tua Holmes yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu.
Salah satu kekurangan mungkin adalah kisahnya yang terasa dragging, layaknya film-film yang berasal dari negara Britania Raya. Pace-nya yang lambat dan pelan akan membuat sebagian besar penonton bosan, bahkan tertidur. Dan bagi yang sudah terbiasa dengan Sherlock milik Guy Ritchie akan menganggap Holmes ini terlalu lemah. Akan tetapi, entah karena sama-sama diproduksi oleh BBC atau memang disengaja, sosok Holmes ini lebih mengingatkan Jelata kepada Holmes milik Cumberbatch. Tidak percaya? Silakan tonton sendiri.
