Bagaimana bila guru kita adalah seekor gurita imut yang berniat menghancurkan dunia? Seru, menyeramkan, atau kocak? Silakan baca ulasan Assasination Classroom berikut, Jelata

Jepang sepertinya tengah menyibukkan diri dengan mengangkat anime-anime yang populer ke layar lebar dalam bentuk live action movie. Tahun ini, setelah Attack On Titan yang diangkat ke dalam dua film yang terpisah penayangannya, kini dunia perfilman Jepang kembali diramaikan dengan adaptasi manga dan anime populer menjadi film live action. Sebagai adaptasi, Assasination Classroom hanya dapat menjadi dua jenis film, yang gagal atau yang berhasil mengangkat bagian dari manga atau anime tanpa mengurangi unsur-unsur penting di dalamnya ke dalam sebuah film berdurasi 110 menit.
Assasination Classroom adalah kisah tentang seorang monster yang berbentuk gurita berwarna kuning yang mengumumkan akan menghancurkan bumi tahun depan, kecuali jika ada seseorang yang berhasil membunuhnya. Namun, sebelum itu, monster yang telah menghancurkan 70% bagian bulan ini dan membuatnya menjadi bulan sabit abadi meminta kepada pemerintah Jepang untuk mengizinkannya mengajar di suatu kelas buangan di SMA Kunigigaoka. Sebagai gantinya, pemerintah Jepang mendidik para murid di kelas 3-E (End) untuk menjadi pembunuh andal. Para murid dihadapkan pada situasi bahwa mereka harus membunuh guru mereka sebelum tahun pelajaran berakhir dan waktu wisuda tiba.
Koro-sensei, panggilan si monster gurita yang berasal dari kata korosenai yang artinya tidak dapat dibunuh dan sensei yang artinya guru, tidak dapat dipungkiri ternyta adalah guru yang baik untuk para murid kelas 3-E. Semua menyadarinya, termasuk Nagisa Shiota (Ryosuke Yamada). Hari demi hari yang mereka jalani diawali dengan percobaan pembunuhan Koro-sensei, mulai dari rencana kecil sampai rencana besar. Kemunculan Irina Jelavic (Jiyoung Kang), seorang pembunuh profesional yang seksi, semakin menambah keseruan kegiatan belajar-mengajar di kelas 3-E. Namun, berhasilkan mereka membunuh Koro-sensei sebelum wisuda?

Terlepas dari latar belakang kisah yang aneh (monster gurita yang ingin mengajar sebelum menghancurkan bumi? Rasanya terlalu tidak masuk akal), Assasination Classroom dapat dikatakan menjadi film yang cukup sukses mengangkat kisah dari manga dan anime ke dalam layar lebar. Karakter-karakter ditampilkan apa adanya, tanpa adanya drama yang berlebihan. Humor slapstick yang muncul hampir di setiap scene ditampilkan dengan natural. Karakter Nagisa Shiota yang diperankan Ryosuke Yamada, personel Hey! Say! JUMP, tampil sebagai anak lugu dan polos yang seringkali tidak terduga dan senang mengumpulkan berbagai informasi tentang Koro-sensei demi kesuksesan pembunuhan mereka, membuat adaptasi ini menjadi semakin kaya.
Selain Nagisa, semua karakter tampil sebagaimana versi aslinya, tanpa ada perbedaan yang berarti. Mungkin ini cukup aman, mengingat film adaptasi manga lain yang baru saja rilis berakhir buruk dengan membuat versi yang hampir 100% berbeda. Assasination Classroom menjadi film adaptasi yang cukup menarik salah satunya adalah karena animasi CGI Koro-sensei yang sangat nyata. Efek suara basah yang terdengar setiap Koro-sensei berjalan juga semakin menambah kesempurnaan animasi CGI-nya. Karakter Koro-sensei berhasil digarap dengan sempurna, khususnya tawanya yang khas yang akan terus terngiang bahkan setelah filmnya selesai. Koro-sensei menjadi karakter yang sangat menyenangkan dan selalu mengundang gelak tawa di setiap aksinya. Ditambah lagi wajahnya yang memang imut membuat Koro-sensei semakin lovable. Kemunculan tokoh Akira Takaoka (Masanobu Takashima) juga membuat film ini menjadi cukup dramatis. Ekspresinya yang sangat komikal membuatnya berhasil menjadi antagonis yang pas untuk film ini.
Assasination Classroom cukup berhasil menjadi film adaptasi yang padat tanpa terkesan terburu-buru. Selama 110 menit, Jelata akan terhanyut mengikuti jalan ceritanya yang cukup mengada-ada. Meski pada awalnya tidak banyak yang bisa dipahami dari film ini, dalam ¼ film terakhir, Assasination Classroom menjadi film drama yang cukup menyentuh dan benar-benar mengalir sampai klimaksnya. Karena humor slapstick-nya, apalagi ide membunuh guru sendiri untuk menyelamatkan dunia yang mungkin terlalu berat untuk anak-anak, film ini memang sebaiknya tidak ditonton anak di bawah usia 13 tahun. Meski begitu, Koro-sensei tetap lovable dan rasanya memilikinya satu di rumah dapat membantu Jelata di berbagai situasi.
