3: Film Bertema Sensitif Dibalut Aksi Memikat

by dr. kawe

3: Film Bertema Sensitif Dibalut Aksi Memikat
EDITOR'S RATING    

Agama merupakan salah satu isu yang kerap diangkat ke layar lebar. Namun, bagaimana bila disematkan dalam kisah aksi? 3 jawabannya.

Sejak kemunculannya, Anggy Umbara telah mencoba berbagai macam genre untuk diarahkannya di layar lebar. Mulai dari road movie (Mama Cake), film anak-anak (Coboy Jr. The Movie), hingga komedi aksi (Comic 8). Kini, sutradara kelahiran 21 Oktober 1980 ini mencicip genre aksi futuristik melalui film terbarunya, 3.

Jakarta 2036. Meski sudah cukup maju dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat, namun kondisi kota metropolitan ini cukup menyedihkan. Berbagai gedung perkantoran yang hancur melatarbelakangi pemandangan kota Jakarta. Tidak hanya itu, meski menjadi liberal, namun rupanya tidak ada kebebasan untuk mereka yang beragama. Dianggap sebagai penyebab perpecahan bangsa dan dasar banyak konflik di berbagai daerah membuat pemerintah menindak keras kelompok agama manapun yang dianggap berbahaya. Di dunia inilah hidup tiga sekawan: Alif (Cornelio Sunny), Lam (Abimana Aryasatya), dan Mim (Agus Kuncoro). Ketiganya sempat menuntut ilmu di pesantren yang sama, namun karena keadaan negara yang semakin tidak memungkinkan dan sebuah tragedi yang membuat hidup Alif berantakan, ketiganya pun berpisah. Kini, akankah mereka berhadapan sebagai kawan seperguruan atau musuh?

Bila berbicara mengenai film aksi, tentu banyak orang yang akan langsung teringat dengan The Raid dan The Raid 2. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dua film itu menjadi semacam tonggak bagi film aksi lokal di era modern ini. Mengerti akan hal itu, Anggy menggunakan Cecep Arif Rahman (The Raid 2) untuk ikut ambil bagian dalam film ini sekaligus menjadi penata adegan aksi. Dan, harus diakui bahwa pilihan Anggy sangat tepat karena pria sederhana asal Sunda tersebut dapat membuat 3 menjadi sebuah film aksi yang tidak main-main. Adegan perkelahiannya terlihat nyata dan bukan asal pukul. Latihan yang diberikan Kang Cecep kepada tiga pemain utamanya pun begitu memuaskan sehingga para penonton semakin yakin bahwa memang Alif, Lam, dan Mim merupakan tiga orang yang berasal dari padepokan silat.

Mengenai kisahnya sendiri, mengangkat isu agama bisa jadi merupakan hal yang sensitif dan tidak semua masyarakat bisa menerimanya. Namun, tema tersebut berhasil diramu Anggy dengan baik dan tidak berat sebelah atau sekadar tempelan belaka. Selain itu, seperti yang tertulis di awal film bahwa penonton diminta menyaksikan film ini hingga akhir, karena apa yang dituangkan Anggy bukan semata-mata untuk menyudutkan satu agama tertentu, tetapi sebagai perumpamaan bagaimana seandainya agama sudah tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan primer dan malah dianggap sebagai alat pemicu konflik.

Adegan aksi dan kisah yang menarik tersebut untungnya didukung oleh seluruh pemain yang bisa dikatakan berakting sangat maksimal. Sebagai pendatang baru, Cornelio Sunny jelas mencuri perhatian dengan karakternya sebagai Alif yang meledak-ledak. Abimana sendiri juga berhasil memerankan sosok Lam yang tenang dan berkepala dingin. Meski tidak semencolok keduanya, namun Agus Kuncoro sebagai Mim cukup mendapat acungan jempol dengan sifatnya yang berpedoman kuat pada agama. Akting ketiganya pun didukung pula oleh Tika Bravani, Prisia Nasution, Piet Pagau, dan Donny Alamsyah yang meski mendapat porsi sedikit, namun tidak tertutup oleh tiga pemeran utamanya.

Kekurangan mungkin terasa pada musik yang terlalu royal sepanjang film. Tidak hanya itu, berbagai adegan slow motion pada perkelahian mungkin akan mengingatkan kita pada gaya John Woo saat menyutradarai Mission: Impossible II. Adanya slow motion, membuat ketegangan perkelahian yang sudah dibangun dari awal mengendur meskipun memang shoot-shoot yang disajikan terlihat menawan. Agaknya untuk adegan perkelahian yang intens, Anggy bisa berguru pada Gareth Evans yang tidak pernah menggunakan slow motion, namun tetap berhasil menyuguhkan pertarungan yang memikat dan berhasil membuat penonton menahan napas, seperti pertarungan pamungkas Iko Uwais dan Cecep Arif Rahman dalam The Raid 2.

Sebagai sebuah film lokal, 3 jelas berhasil menampilkan sesuatu yang berbeda. Memadukan tema yang cukup sensitif dan aksi yang memikat, menjadi terobosan baru dalam perfilman lokal Indonesia. Ingat, tonton ini dengan pikiran terbuka. 

 

 

Artikel Terkait