Berharap bahwa film kedua akan lebih baik dari film pertama ternyata tidak terjadi pada Attack on Titan Part 2: End of the World. Apa saja kekurangan mereka?

Sebagai sebuah karya dengan materi yang cukup kuat, wajar bila banyak kalangan sangat menantikan adaptasi Attack on Titan di layar lebar. Tidak hanya mereka yang mengikuti anime dan manga-nya, tetapi juga para penonton film awam yang ingin tahu bagaimana kisah sukses karya Hajime Isayama ini difilmkan dengan orang-orang asli dan tentu saja penampakan titan alias raksasa yang menyeramkan. Lalu, apakah lanjutan Attack on Titan, setelah film pertamanya yang membelah dua kubu ini (ada yang memuji dan mencaci), sanggup memberikan konklusi yang memuaskan?
Film kedua ini dibuka dengan apa yang terjadi pada Eren kemudian setelah kenyataan mengerikan tentang dirinya yang terungkap di penghujung film pertama. Eren pun dirantai dan dimintai penjelasan sebelum akhirnya dianggap sebagai musuh yang paling berbahaya dan harus dimusnahkan. Mikasa, Armin, Sasha, Anji, dan Jean yang merupakan teman-teman Eren tidak dapat berbuat apa-apa. Di saat krusial itulah, tiba-tiba muncul titan dengan tubuh dilapisi semacam armor tulang keras yang kebal terhadap tembakan dan menghabisi sebagian besar para penjaga yang menawan Eren serta membawa lari laki-laki tersebut. Matinya Direktur Jenderal Kubal membuat Anji mengangkat dirinya sebagai pemimpin dan menitahkan para pasukan yang tersisa untuk kembali ke tembok kota guna menambal lubang yang ada. Maka, dimulailah perjalanan panjang mereka dalam menyelamatkan tembok terluar sekaligus mencari tahu apa yang terjadi dengan Eren.

Saya bukanlah penikmat berat Attack on Titan, baik itu komik atau kisah animasinya. Yang saya tahu hanyalah garis besar kisah, beberapa karakter yang cukup menonjol, dan juga kejadian-kejadian besar dalam dunia karangan Hisayama ini. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ulasan ini murni dari sudut pandang seorang penonton awam yang mencoba menikmati kisah Attack on Titan tanpa terlalu menitikberatkan pada kesamaan kisah maupun karakter (meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pasti akan ada perbandingan, tapi tidak mendalam).
Sejujurnya, Attack on Titan Part 2: End of the World ini terasa mengecewakan dari banyak sisi. Karakterisasi terasa lemah, seperti Mikasa yang bukannya berpikir bagaimana mencapai tembok dan menambal lubang untuk mencegah para titan masuk, malah sibuk bergalau ria karena Eren. Begitu juga dengan Eren yang tidak terasa seperti punya motivasi untuk melawan titan, tapi malah sibuk memikirkan Mikasa. Hal ini makin diperparah dengan Armin yang dibuat seakan hanya jadi anak mama yang cengeng dan terlihat lemah. Padahal, karakter ini aslinya, meski tidak mahir di lapangan, namun memiliki pemikiran strategi yang luar biasa.

Beberapa adegan pun meski terbilang cukup penting, namun seakan hanya tempelan belaka karena kurangnya penjelasan. Seperti flashback ke masa kecil Eren atau bahkan penjelasan Shikishima yang tiba-tiba mengenai asal-muasal titan. Naskah seakan ditulis terburu-buru dan tidak memikirkan sebab-akibat sehingga banyak plot hole di beberapa bagian. Tidak hanya itu, CGI Attack on Titan sayangnya tidak dapat dikatakan berkualitas karena masih agak kasar dan perkelahian antartitan pun bukanlah hal baru karena mengingatkan saya pada film-film Godzilla dan Ultraman atau mungkin film Hollywood baru-baru ini, Jurassic World.
Sangat disayangkan memang bahwa kisah apik Hisayama yang dikagumi banyak orang di seluruh dunia harus berakhir dalam bentuk adaptasi seperti ini. Yang lebih mengecewakan lagi adalah film ini dibuat oleh orang Jepang asli, yang seharusnya paham benar mengisahkan karya mereka sendiri, namun malah seperti treatment Hollywood saat mengadaptasi kisah Dragon Ball. Namun, ditilik dari adegan penutup, bukan tidak mungkin film ini akan dilanjutkan hingga genap menjadi trilogi. Lalu, apakah hasilnya akan semakin menyimpang atau mengembalikan Attack on Titan kepada pakemnya?
