Bagaimana kalau seorang warga senior mendapat kesempatan menambah pengetahuan mereka sebagai pemagang di sebuah perusahaan e-commerce terkenal? The Intern jawabannya.

Masih ingat dengan Devil Wears Prada? Di sini, Anne Hathaway menjadi asisten pribadi seorang pemimpin redaksi majalah fesyen terkemuka. Tidak hanya kejam, pemred yang diperankan oleh Meryl Streep tersebut juga gemar “menyiksa” anak buahnya dengan permintaan-permintaan yang tidak masuk akal. Rupanya, berselang sembilan tahun kemudian, Hathaway rupanya mendapat “promosi jabatan” hingga akhirnya bisa duduk sebagai pimpinan di film terbaru garapan Nancy Meyers, The Intern, ini.
Ben Whittaker (Robert De Niro) adalah warga senior yang menghabiskan masa pensiunnya dengan tenang dan tanpa aktivitas yang berarti. Karena bosan, suatu hari ia memutuskan ikut program magang di sebuah situs e-commerce terkemuka, AboutTheFit.com. Diterima bersama dengan tiga pemagang lain, Ben ditempatkan sebagai asisten pribadi Jules Ostin (Hathaway), pendiri sekaligus CEO situs tersebut. Jules yang tidak terlalu menyukai orangtua tidak terlalu memperhatikan Ben sehingga pria 70 tahun ini menganggur di kantor. Perlahan tapi pasti, Ben berhasil merebut perhatian orang-orang dan pada akhirnya Jules sendiri yang mempercayainya sebagai asisten pribadi.
Temanya mungkin terasa standar dan bisa jadi membosankan bagi sebagian orang. Namun, Meyers berhasil mengemasnya dengan manis. Dua pemain utamanya jelas menjadi ujung tombak terkuat film ini dalam meraup penonton. Chemistry mereka begitu pas dan manis sehingga Jelata rasanya tidak seperti sedang menyaksikan Hathaway dan De Niro di layar lebar, tapi memang Jules yang sedang berinteraksi dengan Ben. De Niro sendiri sukses memerankan sosok Ben yang menjalani hidup dengan santai, magang untuk kepuasan pribadi, dan juga menjadi sosok yang berusaha belajar dari sekitar.

Untungnya, Meyers rupanya mengerti benar bahwa interaksi Ben dan Jules akan terasa monoton jika tidak diseling dengan tingkah kocak karakter lain. Untuk itu, humor dihadirkan dalam bentuk Jason, Davis, dan Lewis yang bekerja bersama De Niro yang sanggup membuat kita tertawa terbahak-bahak tanpa menyertakan slapstick berlebihan. Sineas yang sukses membesut What Women Want ini juga menyelipkan isu-isu feminis, seperti kehadiran bapak rumah tangga, perselingkuhan, kekhawatiran istri saat mereka lebih sukses daripada suami, hingga mana yang harus diselamatkan: keluarga ataukah perusahaan yang sudah dibangun mati-matian dari awal?
Sayangnya, konklusi film ini terasa terlalu cepat dan antiklimaks. Semua permasalahan dan chemistry yang sudah dijalin dengan menarik di awal film hanya diselesaikan dengan sebuah penutup yang bisa jadi akan membuat sebagian orang berkata ‘hah, kok endingnya gitu aja?’. Namun, jika Jelata tidak masalah dengan film drama yang tanpa konklusi ini, akting apik Hathaway dan De Niro bisa menjadi pilihan tersendiri untuk melangkah ke bioskop dan menyaksikan film ini.
