Kisah mengenai perjuangan manusia dalam usahanya menjelajahi alam memang patut disimak. Salah satunya adalah Everest ini. Apa kata kontributor kami?

Beberapa orang menganggap melihat dunia dari ketinggian yang tidak bisa dilihat orang lain adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dalam hidup. Merekalah para pendaki gunung-gunung tertinggi di dunia, yang disebut “Seven Summits”. Everest adalah puncak ketujuh dan merupakan puncak tertinggi dari semua gunung di dunia. Pada 1953, Sir Edmund Hillary mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest, bersama pemandunya, Tenzing Norgay. Sejak saat itu, ekspedisi menaklukkan puncak tertinggi dunia itu semakin populer.
Pada 1996, itu adalah tahun yang ramai karena ada tiga kelompok yang mendaki Everest. Adventure Consultants adalah salah satu perusahaan ekspedisi yang membawa delapan klien pendaki saat itu, bersama dengan pemimpin mereka, Rob Hall. Namun, ekspedisi itu tidak berakhir baik karena empat nyawa melayang dalam pendakian. Berdasarkan kejadian inilah, Everest garapan Baltasar Kormakur ini dibuat. Kisah ini sendiri diadaptasi dari buku berjudul Into Thin Air: A Personal Account of The Mt. Everest Disaster karya John Krakauer, jurnalis yang juga ikut dalam ekspedisi Everest 1996 tersebut.
Rob Hall (Jason Clarke) bersama Adventure Consultants membawa delapan kliennya menuju ke puncak tertinggi dunia, puncak Everest. Sejak awal ia mengatakan bahwa pendakian itu akan penuh dengan penderitaan. Namun, semangat para pendaki menaklukkan medan yang berat membuat penderitaan yang akan mereka alami nanti tidak masuk dalam hitungan kebahagiaan yang akan didapat di sana. Di antara para pendaki, ada Doug Hansen (John Hawkes), Beck Weathers (Josh Brolin), Yasuko Namba (Naoko Mori), Harold Andy Harris (Martin Henderson), dan Mike Groom (Thomas M. Wright). Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) dan Anatoli Boukreev (Ingvar Eggert) juga mendaki gunung ini, namun dalam tim yang berbeda.

Pendakian dimulai pada bulan Maret dan dijadwalkan para pendaki akan sampai puncak pada 10 Mei. Selama pendakian, tidak semuanya berjalan mulus. Banyaknya pendaki yang ikut musim itu membuat antrean panjang terjadi saat mereka akan menyebrang menggunakan tangga. Mereka jadi membutuhkan waktu cukup lama hanya untuk menyebrang. Bongkahan kecil es yang jatuh menimpa para pendaki juga menjadi bagian dari kesulitan yang dihadapi para pendaki. Namun, pada akhirnya, mereka berhasil mencapai puncak tertinggi dan menikmati titik tertinggi dunia selama beberapa saat.
Mereka pun turun karena jika tidak mereka tidak akan sampai perkemahan sebelum malam. Namun, Doug, si tukang pos, terlambat. Ia masih mendaki saat yang lain sudah turun. Karena merasa itu tahun terakhirnya bisa mendaki Everest, mengingat biaya yang sangat besar yang harus dihabiskan, ia bersikeras bahwa ia bisa melakukannya. Akhirnya, melihat semangat Doug, Rob pun ikut menemani. Mereka bisa mencapai puncak meski sudah terlambat. Namun, saat perjalanan kembali ke perkemahan, Rob dan Doug kehabisan oksigen dan Doug sangat kelelahan. Melihat situasi, akhirnya Harold yang sudah turun berusaha kembali ke atas menyusul Rob dan Doug.
Everest menyajikan kisah setiap pendaki dengan cara yang tidak biasa. Pendakian memang bukanlah perkara mudah. Namun, tidak banyak drama yang perlu ditampilkan sehingga membuat Everest tidak menjadi film drama pendakian biasa yang melebih-lebihkan, tetapi justru menjadi film aksi yang menegangkan dan membuat jantung berdebar-debar meski hanya melihat gerakan lambat para pendaki. Jelata bisa merasakan napas mereka semakin berat, suara mereka semakin serak, dan mereka bicara dengan sangat lambat karena udara yang semakin menipis. Ditambah badai salju yang melanda semalaman, bahkan Jelata seakan bisa merasakan betapa dinginnya berada di sana diguyur badai salju yang hebat. Film ini bukanlah film tentang bagaimana para pendaki menaklukkan gunung tertiggi, namun tentang bagaimana gunung dapat menaklukkan mereka dengan berbagai kejutan yang disediakannya. Bahwa manusia memang tidak bisa memperkirakan alam yang bergerak. Bahwa menaklukkan gunung tertinggi di dunia memang tidak mudah dan butuh banyak pengorbanan.

Pengambilan gambarnya yang bergerak perlahan membuat ketegangan terasa sangat intens. Selama durasi 121 menit, Jelatan akan disajikan dengan ketegangan yang tidak biasa. Meski karakter para pendaki tidak tergali dalam, namun hubungan antarpendaki saat menaiki gunung dan semangat yang tergambarkan secara natural membuat film ini sangat layak ditonton. Semangat hidup Beck adalah salah satu bagian yang cukup menghangatkan dalam film ini. Perpisahan antara Rob dan Jan berlangsung mengharukan, namun tidak dipaksakan menjadi terlalu berlarut-larut. Kebahagiaan Yasuko ketika berada di puncak juga membuat penonton meneteskan air mata.
Pendakian tahun 1996 itu adalah pendakian bersejarah yang tercatat sebagai tragedi di Everest. Namun, menyajikannya dalam sebuah drama petualangan yang menegangkan membuat Jelata bisa melihat tragedi dengan lebih manusiawi. Berada di keadaan udara yang sangat tipis sama dengan berada di antara hidup dan mati. Semangat saja tidak cukup untuk membuatnya berhasil. Pendakian Everest adalah perjuangan hidup dan mati dan Jelata akan merasakannya dalam Everest.