Bukan film piknik, tapi sebuah film neo realis yang perlu bagi Indonesia.
Sutradara: Riri Riza
Pemain: Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk
Tahun 1999 Timor Timur atau yang sekarang dikenal sebagai Timor Leste, rusuh. Referendum yang dilaksanakan pemerintah memunculkan hasil bahwa sebagian besar warga Timor Timur ingin berpisah dari Indonesia.
Keluarga tercerai berai, bahkan banyak yang meninggal. Sebagian mengungsi ke Nusa Tenggara Timur dan sisanya menempuh hidup baru di negara Timor Leste. Referensi latar belakang itu tidak muncul dalam film terbaru Riri Riza yang mengklaim sebagai film Indonesia pertama yang full berbahasa Tetun, hanya sebuah caption; 13 tahun setelah referendum.
Penonton diasumsikan sudah tahu apa yang terjadi di Timor pada saat itu. Tapi filmnya sendiri jauh dari kesan pretensius atau terlalu 'berpolitik'. Bahkan, meninggalkan ciri khas Riza yang setia dengan seluloid, film ini menggunakan medium digital. Penceritaannya tergolong sederhana tapi efektif dan terlihat bahwa naskahnya sangat matang.
Berfokus pada karakter Joao (Gudino Soares). seorang pemuda yang terpisah dari ibu dan saudaranya karena dibawa ayahnya, Ronaldo (Petrus Beyleto) yang lebih memilih untuk menetap di Atambua dan menjadi warga negara Indonesia. Secara umum kehidupan mereka tidak berbeda dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Joao bekerja sebagai tukang ojek dan ayahnya supir bus antar kota namun tidak dapat diandalkan karena sering mabuk-mabukan. Pada suatu ketika Joao bertemu Nikia (Putri Moruk), seorang gadis Kupang yang datang ke Atambua karna kakeknya meninggal, Joao jatuh hati padanya namun tidak berani mengungkapkan apa hyang ia rasakan. Jadi tepatnya film ini menceritakan dua macam kisah cinta yaitu kegalauan seorang pemuda terhadap gadis impian dan kerinduannya untuk bertemu keluarga yang sudah lama terpisah.

Tidak perlu merasa malas untuk membaca teks atau mencoba mengerti bahasa daerahnya yang benar-benar asing karna film ini minim dialog. Cerita lebih banyak dibangun oleh akting dan sajian visual. Menjadikan film ini begitu sunyi dan hening sesuai dengan lokasi yang memang belum terjamah oleh modernisasi dan sangat butuh program otonomi daerah yang efektif. Pada beberapa bagian, film ini seperti benar-benar tenggelam dalam kesunyian itu sendiri lalu diikuti oleh split adegan dengan editing yang sedikit berantakan dan dapat membingungkan penonton. Pengeksekusian ending film yang ditutup oleh narasi memang cukup menggugah namun itu juga memberi boomerang terhadap keheningan yang sudah dibangun oleh film. Penonton sudah terlanjur rela melepas film ini dengan segala kesan tanpa mengenal lebih jauh tiga karakter utama pada film namun tiba-tiba menjelang ahir mereka semua mulai menarasikan segalanya. Berkesan, tetapi begitu mendadak dan tergesa-gesa.
Tanpa memaksakan tampilan 'kartupos', Atambua mampu menghadirkan gambar-gambar yang bagus. Pendekatan neo realis ini akan mengingatkan Anda pada film-film Iran seperti Children of Heaven, Where is my friend home dan Baran. Sinematografinya membuat Anda betah dan menanti apa adegan selanjutnya. Inilah kolaborasi Riri Riza dan Mira Lesmana yang wajib tonton di bioskop.
Lalu kenapa 39 derajat celsius? Sebab pada suhu 39 derajat itulah manusia menderita demam yang menjadi ambang batas kesadaran alias titik kritis. Apakah ini simbol dari titik kritis para karakter di dalamnya?
Sebuah kenyataan ironis sempat mengusik kegembiraan akan kehadiran film ini bahwa ternyata pemerintah tidak memberikan dukungan apapun dikala tim kreatif film mengalami kesulitan soal pendanaan. Menemukan investor untuk film seperti ini memang sulit. Sehingga mengharuskan Riri Riza yang juga berperan sebagai penulis skenario untuk menyesuaikan segala persiapan agar produksi film tidak terlalu overbudget. Beruntung, walaupun sikap pemerintah begitu cuek tetapi mereka tidak sendirian. Melalui situs wujudkan.com, masalah budget dapat ditanggulangi melalui penggalangan dana online yang pada akhirnya sukses menghimpun dana funder hingga ratusan juta rupiah. Ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang melek dan memiliki apresiasi aktif serta peduli terhadap industri kreatif dalam negri. Bahkan sebuah funder asal Belanda, Hubert Bals Fund ikut tertarik dengan film dan menyumbangkan dana hingga 20.000 Euro. Apakah ini masih belum cukup memberi tamparan yang berarti bagi pemerintah kita?
"Saya pakai pendekatan film realis. Saya datang langsung ke sana supaya apa yang ada di lapangan bisa menjadi dasar. Latihannya intens, naskah satu bulan dikirim ke Atambua untuk diterjemahkan ke bahasa Tetun. Selama 14 hari kami syuting. Kami bekerja hampir seperti gerilyawan. Tidak ada banyak kru,"
Riri Riza (sumber: Wujudkan.com)
Atambua 39 Derajat Celsius mulai tayang sejak 8 November lalu dan beredar secara terbatas. Entah sampai kapan film ini akan tayang namu dapat dipastikan tidak terlalu lama. Karena seperti yang kita ketahui film ini tidak bertujuan komersil. Sedikit cerita mengenai pengalaman saya saat menyaksikan film ini, terdapat sekawanan penonton duduk bersebelahan saya dalam auditorium yang tidak begitu ramai penonton. Sejak opening title film dimulai mereka selalu ngemil, berbicara, dan berisik. Sangat mengganggu kenyamanan. Hingga di saat pertengahan film satu persatu dari mereka keluar meninggalkan ruangan auditorium dan tidak pernah kembali. Well, saya senang setelah mereka angkat kaki namun dalam waktu yang sama juga merasa sedih. Sedih karena film bagus dari negeri kita tidak banyak diapresiasi oleh masyarakatnya sendiri, ya, ini juga termasuk oleh saya sendiri terhadap film-film indonesia berkualitas lain yang sampai sekarang terlalu banyak yang belum saya tonton.
Selain di Jepang, film ini juga akan diputar di International Film Festival Rotterdam 2013 juga lewat layar tancap keliling Nusa Tenggara Timur, pada Desember 2012 - Januari 2013.