The Man From U.N.C.L.E. : Seksi dan Penuh Gaya! Ini Film Mata-Mata, Bukan Majalah Fashion!

by Joedi Dance

The Man From U.N.C.L.E. : Seksi dan Penuh Gaya! Ini Film Mata-Mata, Bukan Majalah Fashion!
EDITOR'S RATING    

Setelah terakhir membuat Sherlock Holmes nyeleneh di era post steam punk, sekarang giliran serial TV dari AS yang dibuat penuh gaya dan ala retro Mad Man di film terbaru Guy Ritchie ini. Bersiaplah melihat mas-mas ganteng dan berpakaian indah, membuat kita lupa ini adalah film, bukan majalah fashion!

 
Director : Guy Ritchie
Screenplay : Guy Ritchie and Lionel Wigram
Cast : Henry Cavill, Armie Hammer, Alicia Vikander, Elizabeth Debicki, Hugh Grant
 
Era Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet selalu jadi setting yang punya pesonanya sendiri. Coba saja hitung ada berapa banyak kisah fiksi yang memakai era ini sebagai latar belakang kisahnya : Dr. Stangelove, Rambo, Tinker Tailor Soldier Spy, Watchmen, X Men First Class, dan banyak lagi. Salah satu yang jadi ikonik di AS adalah The Man From U.N.C.L.E., serial TV di tahun 60an yang terinspirasi dari James Bondnya Sean Connery. Setengah abad kemudian, generasi milenial kembali diperkenalkan dengan duet mata-mata AS dan Rusia ini dalam film terbaru Guy Ritchie.
 
Perang Dingin semakin memuncak dengan dibangunnya Tembok Berlin yang memisahkan bagian barat dan timur Jerman. Napoleon Solo (Cavill) memasuki area timur milik Soviet dan berusaha menyelundupkan Gaby Teller (Vikander) keluar. Usaha ini berusaha digagalkan oleh Illya Kuryakin (Hammer), agen KGB dengan sosok dan tenaga raksasa. Namun Solo berhasil membawa Gaby menyebrang ke barat.
 
Ayah Gaby ternyata adalah seorang ilmuwan nuklir Jerman di era PD II. Ia menghilang dan dicurigai dipaksa untuk membuat bom nuklir untuk keluarga Vinchiguera, organisasi kejahatan yang berkedok miliader kaya dan pemilik perusahaan perkapalan di Roma. Organisasi ini dipimpin oleh Victoria (Debicki), paduan brain dan beauty yang mengerikan. Walau saling tidak menyukai satu sama lain, Solo, Gaby, dan Kuryakin dipaksa untuk bekerja sama demi menemukan ayah Gady dan bom nuklir. Dan tentu saja, menyelamatkan dunia.
 
 
Seperti Sherlock Holmes, Ritchie memberikan interpretasinya sendiri akan kisah duet mata-mata ini. Jika di Sherlock Holmes kita diberikan tampilan Inggris dengan mood post steam punk, maka kali ini kita melihat setting 60an yang begitu vintage dan mod. Para pemeran utamanya mungkin tidak sepowerful Downey - Law, tapi memiliki pesonanya sendiri. Bayangkan pria-pria gentleman era 60an, tampil tanpa cela dan penuh gaya dengan balutan jas rapi dan rambut sleek.
 
Cavill sebagai Solo tampil seperti personifikasi James Bond ala Amerika : ganteng dengan dagu menggemaskan, mata biru, suara yang dalam dan menggoda, serta licin dan licik. Pesona yang membuat banyak mbak-mbak mulai dari resepsionis hotel sampai Victoria mendesah bahagia.
 
Berbeda 180 derajat dengan Cavill, Hammer tampil begitu kaku dan tegang. Pria pendiam dan lurus dengan emosi labil dan mudah meledak, dengan masa lalu yang suram. Punya hobi merobek kap mobil dan melempar motor, ia menyamar sebagai tunangan Gaby, sex tension diantaranya dibuat manis dan penuh potensi untuk dikembangkan di film selanjutnya.
 
 
Yang paling menarik adalah chemistry yang terjadi antara Cavill dan Hammer. Sebagai sesama alpha male, persaingan keduanya sama konyolnya dengan adegan berantem Julia Perez dan Dewi Perssik. Mulai dari adu peralatan canggih sampai sense of fashion, keduanya dikondisikan saling bertolak belakang namun terasa alami. Bromance ala Ritchie yang satu ini terasa menarik karena kita diajak langsung untuk melihat ia berkembang.
 
Menariknya lagi, selain chemistry antara Cavill dan Hammer, dua pemeran wanitanya punya pesona sendiri. Vikander sebagai Gaby berperan lebih dari sekedar pemanis atau pelengkap. Dengan mudah, ia mengimbangi Cavill dan Hammer. Bukan tugas yang mudah padahal, mengingat feel film ini sangat macho dan maskulin. Debicki sebagai Victoria kembali membuktikan kharismanya seperti di The Great Gatsby. Lewat tatapan mata atau gestur tubuhnya saja, Victoria bukan lawan yang mudah bagi Solo. Sayang, Hugh Grant tampil dengan porsi yang sedikit.
 
Menonton The Man From U.N.C.L.E. punya sensasi seperti membolak-balik halaman fashion spreads Vogue. Ditampilkan seolah sedang dalam sesi pemotretan, detailnya indah mengagumkan. Mulai dari mod sunglasses Vikander, eyeliner Debicki, hingga gaya rambut Cavill. Ditambah dengan scoring menggugah dari Daniel Pemberton, setiap adegan diisi dengan musik yang berdiri sendiri dan memberikan nyawa dan suasana berbeda. Seperti saat Solo asyik menikmati sandwich diiringi lagu Che Vuole Questa Musica Stasera atau opening sequence super keren dengan lagu Compared to What milik Roberta Hack.
 
Sebagai film penutup musim panas, action sequence The Man From U.N.C.L.E. mungkin tidak jor-joran dibanding Mission Impossible : The Rogue Nation. Tapi dengan caranya sendiri, ia tampil super stylish dalam setting vintage ala Mad Man. Warna-warna yang dingin dan cool, chemistry yang solid dari seluruh pemain utamanya, serta scoringnya yang menambah greget. It's funny, witty, stylish, poised, polished, masculine, and sexy at the same time. Undeniably sexy!
 
 

Artikel Terkait