Ant Man: Premis Iron Man dengan Rasa Lebih Membumi

by dr. kawe

Ant Man: Premis Iron Man dengan Rasa Lebih Membumi
EDITOR'S RATING    

Sebagai penutup Marvel Cinematic Universe, apakah Ant Man bisa dikategorikan memuaskan? Lumayan? atau malah mengecewakan?

Ant Man resmi menutup fase kedua dari Marvel Cinematic Universe pada bulan Juli ini. Dibintangi oleh Paul Rudd, Evangeline Lilly, dan Michael Douglas, akankah film ini menjadi “penutup” yang memuaskan bagi para penikmat film, baik yang mencintai komik Marvel maupun penonton awam, sekaligus mengenalkan sosok Ant Man yang akan bergabung dengan para Avengers dalam fase ketiga nanti?

Di tahun 1989, Dr. Hank Pym (Douglas) memutuskan mundur dari S.H.I.E.L.D untuk melindungi teknologi yang ia temukan agar tidak dimanfaatkan untuk tujuan tidak benar. Namun, salah satu petinggi S.H.I.E.L.D, Mitchell Carson (Martin Donovan) tetap ngotot dan memutuskan untuk bekerja sama dengan salah satu penerus Dr. Pym, Darren Cross, hingga masa sekarang guna mendapatkan teknologi tersebut. Mengetahui keadaan ini, Dr. Pym dibantu Hope (Lilly), puterinya, memutuskan untuk mencari orang yang bisa dilatih untuk menggunakan kostum Ant Man dan merebut teknologi yang disebut Cross dengan Yellowjacket tersebut. Pilihan tersebut jatuh pada Scott Lang, seorang mantan napi yang dikenal berkat kemampuan hacking dan kepandaiannya memecahkan masalah (saat mencuri) di lapangan. Apakah Lang dapat merebut teknologi Yellowjacket dari Cross?

Nampaknya, Marvel Studio telah menemukan formula yang saklek untuk film-film superheronya, terutama untuk film pertama yang bertujuan mengenalkan karakter tersebut kepada para penonton, baik yang sudah khatam dunia Marvel maupun yang masih awam. Karena itu, jangan heran ketika Jelata menonton Ant Man, aura yang terasa adalah Iron Man, namun dengan karakter yang lebih membumi dan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dimulai dari latar belakang Lang, penemuan kostum Ant Man, latihan yang kerap mengundang tawa penonton, hingga musuh besar yang memiliki kemampuan serupa dengan tokoh utama.

Lalu, apakah formula ini memuaskan? Bagi saya, meski tidak semenarik menyaksikan usaha Tony Stark dalam belajar memakai suit Iron Man, melihat interaksi Ant Man dengan semut berbagai jenis cukup mengundang tawa. Namun, sebagai pria yang disusutkan ke ukuran hanya sebesar semut, Lang terasa terlalu cepat beradaptasi hanya dengan sekali percobaan saja. Selain itu, lelucon yang dilontarkan Rudd dengan muka datar bukanlah “barang baru” karena mengingatkan saya dengan Star Lord dalam Guardians of the Galaxy (yang lebih berhasil melucu ketimbang Rudd). Kelucuan justru hadir dari sosok Luis yang diperankan Michael Peña dan caranya menceritakan ulang “gosip-gosip” yang ia dengar.

Sayangnya, lagi-lagi Marvel seakan hanya mengedepankan sosok superheronya tanpa peduli dengan karakter penjahat. Tidak ada latar belakang yang kuat mengapa Cross sampai memutuskan menyelidiki habis-habisan (hingga membangun dan menjual Yellowjacket ke HYDRA) hanya karena ia dijauhi oleh Dr. Pym. Selain Loki, rasanya para supervillain Marvel tidak membuat saya simpatik. Marvel agaknya tidak mau repot-repot memperdalam karakter antagonis “remeh” yang hanya ditampilkan di satu film dan lebih memilih fokus menyelipkan hint-hint untuk film selanjutnya dalam post end credit yang sangat menyiksa bagi penonton yang kebelet pipis.

Sebagai film perkenalan, Ant Man cukup berhasil menampilkan sosok yang mungkin bagi penonton awam dunia superhero Marvel akan mengerutkan kening karena tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Namun, sebagai sebuah penutup dari fase kedua MCU, sayangnya Ant Man kurang menggigit. 

Artikel Terkait