Poltergeist: Butuh Sentuhan Lama

by Ireuna

Poltergeist: Butuh Sentuhan Lama
EDITOR'S RATING    

Poltergeist menjadi salah satu film horor terbaik sepanjang masa yang mampu membuat ngeri banyak orang yang menyaksikan. Apakah remake-nya sanggup menyamai "prestasi" tersebut?

Melihat film lama yang diangkat kembali menjadi sebuah sajian baru hampir sama rasanya seperti melihat film adaptasi. Membandingkannya dengan film terdahulu sudah pasti terjadi, apalagi jika film terdahulu sukses menuai pujian. Poltergeist diangkat kembali ke dalam layar lebar dengan unsur-unsur yang lebih modern di dalam naskahnya. Namun, ternyata ini tidak menyelamatkan ceritanya.

Sama seperti Poltergeist yang tayang pada 1982, Poltergeist 2015 juga mengangkat kisah satu keluarga yang pindah ke daerah suburban dan mendapatkan bahwa rumahnya berhantu. Suami istri Eric Bowen (Sam Rockwell) dan Amy (Rosemarie DeWitt), beserta anak lelaki, Griffin (Kyle Catlett), dan anak perempuan mereka, Kendra (Saxon Sharbino) dan Madison (Kennedi Clements) pindah ke sebuah rumah yang tanahnya adalah “bekas kuburan”. Sejak awal, Griffin merasakan ada sesuatu yang aneh di rumah itu dan berusaha memberitahu keluarganya. Namun, tak ada yang mendengar. Bahkan, Eric dan Amy mengangga normal Madison yang sering berbicara sendiri dengan “teman khayalannya“.

Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka sampai Madison menghilang pada malam ketika Eric dan Amy makan malam di tempat lain. Lalu, diketahui bahwa Madison berada di dalam televisi dan mereka ingin mengeluarkannya dari sana. Mereka memanggil Dr. Brooke Powell (Jane Adams), seorang peneliti alam gaib yang kantornya ada di bekas kampus Amy, untuk membantu mengetahui apa yang terjadi. Namun, ternyata mereka butuh reinforcement untuk mengeluarkan Madison. Maka dipanggillah Carrigan Burke (Jared Haris) untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi dan ”membersihkan” rumah mereka.

Poltergeist 2015 berakhir dengan horror yang serbatanggung. Ketika kita menemukan Poltergeist yang penuh kenangan dan berharap bisa bernostalgia dengan menonton remake-nya, lalu menemukan bahwa hasilnya tidak sebaik yang terdahulu, maka Poltergeist 2015 akan butuh sentuhan lama. Poltergeist 2015 berakhir seperti film horor lainnya saat ini, tidak mencekam dan hanya mengejutkan di beberapa bagian. Penggemar Poltergeist garapan Steven Spielberg pasti tidak akan menemukan sesuatu yang “wah” atau “harus dilihat” dalam Poltergeist 2015.

Sejak awal, Eric dan Amy terkesan terlalu santai. Bahkan, penggunaan CGI justru semakin mengurangi unsur mencekamnya. Madison dan Griffin seperti masuk ke dalam rumah hantu, bukan masuk ke dunia lain. Gil Kenan agaknya ingin memberikan sentuhan yang benar-benar baru. Nama para tokohnya pun diganti, seakan ingin melepaskan diri dari karakter di film lamanya. Namun, seharusnya paling tidak jangan mencari Madison yang terlalu manis sehingga bukannya merasa ngeri dan takut ketika ia berada di dunia lain, penonton akan merasa jauh lebih kasihan.

Keberadaan “penyelamat” yang merupakan seorang pembawa acara reality show “Haunted House” juga membuat sisa film ini menjadi semakin melegakan. Ditambah lagi dengan keberadaan GPS dan helikopter dengan kamera milik Griffin yang membuat film ini menjadi film horor berteknologi dan menghilangkan keseramannya. Beruntunglah Kyle Catlett berakting dengan baik. Ia merasa ketakutan, namun juga ingin tahu sehingga berhasil membawa penonton mengikuti aksinya. Sayangnya, Poltergeist 2015 hanya menyajikan beberapa adegan mengejutkan dalam waktu yang singkat. Hasilnya, film ini terasa digarap setengah-setengah, berharap seluruh rangkaian cerita Poltergeist 1982 dapat menyelamatkan remake ini.

Untuk membangkitkan nostalgia, Jelata bisa menontonnya sendirian karena ini bukan film horor yang sangat horor. Ya, silakan coba menontonnya sendiri. Jika ada dalam versi 3D, rasanya Jelata perlu mencobanya.

Artikel Terkait