Film tentang bencana selalu menarik untuk disaksikan karena di sinilah kita bisa melihat betapa manusia tidak berdaya ketika alam murka. Tidak hanya itu, dipastikan ada kisah kemanusiaan yang melibatkan individu-individu yang terkena bencana. Lalu, bagaimana dengan film San Andreas ini?

Kalau melihat film tentang bencana alam, mungkin yang ada dalam kepala kita adalah film tentang kemanusiaan, tentang manusia yang heroik, dan tentang drama yang melibatkan hubungan keluarga . Namun, premis ini rupanya tidak selalu ditemukan di film-film tentang bencana alam. Seperti di San Andreas, film tentang gempa bumi yang melanda beberapa wilayah di Amerika Serikat tempat patahan San Andreas berada, terlebih di wilayah San Fransisco.
Film diawali dengan latar belakang kisah kehidupan rumah tangga Ray (Dwayne Jhonson), seorang anggota tim SAR, yang sudah berada di ambang perceraian. Anaknya, Blake (Alexandra Daddario), berencana untuk menghabiskan akhir pekan bersamanya, namun batal karena Daniel Riddick (Ioan Gruffud), seorang pengusaha properti kaya raya yang menjadi pacar ibunya, Emma (Carla Gugino), berinisiatif mengajaknya bersamanya. Blake pergi menuju gedung pencakar langit milik Daniel di SanFransisco dan bertemu dengan Ben (Hugo Johnstone-Burt) dan Ollie (Art Parkinson), pasangan kakak-beradik dari Inggris.
Gempa terjadi. Meski begitu, Lawrence (Paul Giamatti), seorang ahli gempa bumi, menemukan bahwa gempa tersebut tidak akan segera berakhir, khususnya untuk San Fransisco. Ia membuat pengumuman melalui stasiun televisi yang saat itu sedang mewawancarainya agar seluruh warga San Fransisco berevakuasi secepatnya. Blake, Ben, dan Ollie yang juga berada di San Fransisco bersama-sama menuju tempat evakuasi mereka sendiri yang sudah disebutkan oleh Ray. Namun, ternyata gempa telah menghancurkan semuanya. Dan gempa bukan satu-satunya bahaya yang mengancam San Fransisco saat itu.

San Andreas berhasil menjadi disaster movie dengan visual effect yang luar biasa, membuat kita menahan napas melihat gempa dan kengerian yang dihasilkannya. Namun, semua keseruannya hanya sebatas itu. Gempa berskala 9,6 skala Ritcher akan terasa seperti gempa biasa saat melihat Ray mengarungi semuanya untuk menyelamatkan Blake, putrinya. Rasanya memilih Dwayne Jhonson sebagai Ray untuk mengangkat drama keluarga dalam San Andreas bukan pilihan yang tepat. Dwayne Johnson lebih cocok menjadi tentara yang melawan mafia kelas kakap atau bermain dalam film balapan liar dibandingkan menjadi ayah yang berjuang menyelamatkan putrinya dalam sebuah bencana alam.
Johnson agaknya akan membuat Anda merasa bahwa akhir cerita sudah bisa ditebak. Meski semua disaster movie semacam ini tentu memiliki akhir membahagiakan dengan semua tokoh utamanya selamat dan bertahan dari bencana, namun kehadiran mantan pegulat ini membuat semuanya terlihat semakin jelas. Ia terlalu kuat dan superior. Yang terjadi pada akhirnya justru semua bencana yang terjadi hanyalah klise untuk drama keluarga yang bahkan tidak terasa mengharukan sama sekali. Kita bisa melihat alur cerita yang sama di film-film serupa.
Secara keseluruhan, San Andreas bukan film yang tidak dapat diabaikan, apalagi melihat kelucuan pasangan kakak beradik Ben dan Ollie. Dan tentu saja CGI effect-nya yang luar biasa menakjubkan. Tapi, jika menonton San Andreas dalam 2D, rasanya semua efek visual menakjubkan itu tidak akan terlalu terasa dan film ini akan menjadi sedikit hambar. Menontonnya dalam bentuk 3D akan menyelamatkan ceritanya yang sejak awal memang tidak terlalu kuat. Humornya tidak cukup terasa, hanya sedikit saja bisa ditemukan saat Ollie berceloteh. Tapi, akhir pekan ini, Anda dapat menontonnya untuk membuktikan bahwa Johnson memang sebaiknya menjadi tentara atau polisi atau agen rahasia saja.
