Apa jadinya jika seorang kakek berusia 100 tahun melompat keluar jendela dan kabur? Film komedi asal Swedia ini menjadi film pembuka di Europe on Screen 2015. Sebelum nonton, baca dulu yuk ulasannya!

Director : Felix Herngren
Screenplay : Felix Herngren and Hans Ingemansson, based on novel with the same title by Jonas Jonasson
Cast : Robert Gustafsson, Iwar Wiklander, David Wiberg,
Allan Karlsson (Gustafsson) hanyalah seorang kakek tua berusia 100 tahun, saat ia tiba-tiba mendengar bunyi petasan di luar jendela kamarnya. Keputusannya untuk meloncat keluar jendela lalu pergi berpetualang inilah yang menjadi kisah utama dalam film yang diangkat dari best selling novel berjudul sama karya Jonas Jonasson. Rilis di tahun 2013, The 100 Year Old Man menjadi film terlaris ketiga di Swedia (di bawah The Girl With Dragon Tattoo dan The Girl Who Played With Fire) dan mengumpulkan lebih dari 50 juta dolar di seluruh dunia. Sebuah pencapaian yang luar biasa bukan?
Allan Karlsson bukanlah seorang pria tua renta biasa. Di masa mudanya, ia adalah seorang pria yang terobsesi dengan bom dan bahan peledak. Saat ia kabur dari pesta ulang tahunnya sendiri di panti jompo, Allan dititipi sebuah koper besar oleh seorang preman geng bermotor. Karena sifatnya yang woles abis, Allan malah naik bis dan pergi ke sebuah desa terpencil. Ternyata, isi koper tersebut adalah uang cash senilai 50 juta, yang membuatnya menjadi buronan geng bermotor. Sambil berusaha kabur menutupi jejak bersama rekan barunya, Julius (Wiklander), Benny (Wiberg), Gunilla (Skaringer), dan gajah betina bernama Sonja, Allan pun bercerita mengenai masa mudanya yang penuh warna dan ledakan.
Buat saya, setidaknya ada 3 syarat agar film menjadi enak ditonton. Pertama, film harus memiliki naskah yang bagus dan mulus. Kedua, ada karakter yang membuat penonton merasa reliable. Ketiga, film setidaknya memiliki sinematografi yang membuai mata. Ketiganya bisa jadi ada dalam 1 film, bisa jadi hanya salah satunya. Dan sayangnya, The 100 Year Old Man ini hanya memenuhi syarat ke tiga. Sinematografi yang ditampilkan berwarna warni memanjakan mata. Kita diajak untuk melihat Swedia dalam berbagai warna, apakah ia hangat atau dingin, ataukah ia gelap dan terang. Tapi itu saja tidak cukup.

Sekilas, The 100 Year Old Man mengingatkan saya dengan Forrest Gump karena cara berceritanya yang serupa. Baik Allan dan Forrest adalah pria yang tak sadar kalau ia turut ambil bagian dalam pergerakan sejarah dunia. Kalau Forrest Gump dengan keluguannya ada di balik terkuaknya kasus Watergate, maka Allan dengan sikap cuek dan sebodo teuingnya saat bertemu dengan Franco, Stalin, Truman, dan Reagan cukup absurd dan mengocok perut.
Kenapa kita bersimpati dengan karakter Forrest Gump adalah jelas. Kecerdasannya memang di bawah rata-rata, namun keluguan dan ketulusannya membuat kita betah mendengar penuturan kisahnya. Robert Zemeckis dan Eric Roth hanya mengambil esensi karakter lalu mengembangkannya menjadi lebih heart warming. Namun tidak begitu dengan Allan. Allan tidak tampil layaknya protagonis yang membuat kita nge-root dengan karakternya. Ia diceritakan sebagai seorang pria yang terobsesi hanya dengan dinamit dan ledakan, serta tidak memikirkan apapun. Ia tidak punya kelemahan atau tidak punya sisi kelembutan, sehingga sulit membuat kita untuk peduli apakah ia berhasil lolos dari kejaran geng bermotor atau tidak.
Sekarang, poin penentu ada pada naskah, apakah ia cukup kuat untuk memaafkan ketiadaan karakter yang reliable dengan penonton. The 100 Year Old Man awalnya hadir dengan premis yang sangat menarik. Ada karakter pria tua renta yang meloncat kabur dari jendela kamarnya. Sungguh tak terbayangkan kekacauan apa yang terjadi. Dan memang, situasinya sangat konyol dan absurd. Beberapa adegan ditampilkan dengan sangat komikal (walau terasa sedikit muram) dan membuat saya tertawa histeris, seperti Julius yang lupa kalau ia memasang freezer ke suhu -20 derajat sehingga membuat 1 preman mati membeku. Atau saat preman lain terpeleset kotoran gajah lalu mati karena diduduki oleh Sonja yang terluka. Tapi hanya itu saja, The 100 Year Old Man menjadi sekedar sebuah film komedi absurd belaka.
Dan jika Forrest Gump ingin mengajak kita melihat dunia dengan filsafat "Life is like a box of chocolate, you'll never know what you gonna get", Allan juga mengajak kita untuk menjalani hidup layaknya "Life is what it is" Mungkin, kita memang terlalu banyak berpikir dan menganalisa sesuatu dibanding menikmati hidup apa adanya, sama seperti saya yang terlalu banyak menganalisa isi film ini. Mungkin, saya yang kurang piknik.
