Avengers - Age of Ultron: Bigger, Better, Calmer

by abn

Avengers - Age of Ultron: Bigger, Better, Calmer
EDITOR'S RATING    

Joss Whedon kembali menukangi sebuah film Avengers. Hasilnya? Sesuatu yang lebih besar, lebih baik, namun terasa lebih tenang. Baca ulasan kami.

Sutradara: Joss Whedon
Penulis Naskah: Joss Whedon berdasarkan seri komik The Avengers karya Stan Lee dan Jack Kirby
Pemeran: Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Cobie Smulders, James Spader, Samuel L. Jackson

Pengorbanan dan hantu masa lalu menjadi dua tema yang disorot dalam film terbaru Marvel Cinematic Universe, Avengers: Age of Ultron. Akan tetapi, ego-lah yang menjadi sorotan utama film yang, jika dibandingkan film pertamanya, terasa lebih besar, lebih baik, namun terasa lebih tenang.

Diarahkan oleh Joss whedon, Age of Ultron berkisah mengenai Tony Stark (Robert Downey Jr.) dan Bruce Banner (Mark Ruffalo) yang berusaha menghidupkan kembali program penjaga perdamaian bernama Ultron. Meminjam tongkat Loki yang akan dibawa kembali oleh Thor ke Asgard, Stark dan Banner berusaha "menyuntikkan" kekuatan tongkat tersebut yang ternyata memiliki salah satu Infinity Gems ke dalam program Ultron. Program Ultron sendiri sedikit banyak merupakan kepribadian dan kecerdasan Tony Stark yang dirangkum dalam sebuah piranti lunak. Dengan tenggat waktu hanya 3 hari, Stark dan Banner berulangkali gagal menghidupkan kembali Ultron, sampai sebuah anomali terjadi dan membawa Ultron hidup namun tidak sesuai dengan bayangan Stark dan Banner.

Film ini memang terasa lebih besar. Setting-setting di kota New York, Johannesburg, Seoul, dan Valle d'Aosta (Italia) dimanfaatkan secara maksimal oleh Whedon dengan bantuan 13 VFX production house dari setidaknya 7 negara. Kerja mereka menghasilkan lebih dari 3,000 shot visual effects, yang untungnya tidak melulu tentang ledakan tanpa sebab. Ada James Spader yang memerankan Ultron dalam teknologi motion capture. Lalu grafis di Stark Tower saat Stark dan Banner mengerjakan program Ultron. Dan juga yang paling keren, pertarungan Hulkbuster melawan Hulk di jalanan kota Johannesburg. Semuanya tampil pas untuk kebutuhan ceritanya tanpa ada kesan berlebihan.

Para pemeran pun mendapatkan porsi yang seimbang walau adanya karakter-karakter baru seperti Quicksilver (Aaron T. Johnson), Scarlet Witch (Elizabeth Olsen), dan Vision (Paul Bettany). Walau ada karakter yang mendapatkan kisah lebih (kali ini Hawkeye), semua karakter diberikan kesempatannya sendiri untuk bersinar; sebuah bakat yang memang dimiliki Whedon saat ia menangani Serenity, Firefly, Buffy the Vampire Slayer, dan tentunya film Avengers yang pertama.

Tidak hanya lebih besar secara skala, film ini pun terlihat lebih baik dari segi cerita. Whedon memang tetap menyelipkan humor-humor khasnya. Namun ia juga mulai menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dan kelam di film ini. Kisah-kisah mengenai pengorbanan para karakternya sedikit banyak terasa menyayat. Juga kisah masa lalu beberapa karakter dan juga bagaimana kerinduan seorang Steve Rogers pada masanya sendiri. Namun, di balik itu semua Age of Ultron paling menyoroti tema ego dan bagaimana ego tersebut mewujud dalam sebuah mesin bernama Ultron.

Walau di atas saya sebutkan bahwa Hawkeye mendapatkan kisah lebih, sesungguhnya Age of Ultron merupakan kisah tentang Tony Stark dan egonya. Dan inilah yang membuat Age of Ultron menarik. Ultron merupakan versi buruk dari Tony Stark. Ego yang diiringi sebuah niatan yang salah. Whedon berulangkali menekankan perihal ego ini dalam beberapa adegan yang akan menetukan kisah film-film di Marvel Cinematic Universe nantinya. Paling jelas tentunya perseteruan antara Stark dan steve Rogers (Chris Evans) mengenai bagaimana cara mengalahkan Ultron. Perseteruan ini menunjukkan perbedaan paham antara Stark yang megalomaniak dan berusaha mendapatkan apapun dengan berbagai cara, dengan Rogers yang seorang pacifist. Perseteruan ini pulalah yang nantinya mengerucut di film Captain America: Civil War.

Age of Ultron memang menjadi kisah awal dari Captain America: Civil War. Walau film ini juga mempengaruhi kisah Thor: Ragnarok dan Avengers: Infinity War Part 1 & 2; kaitan secara langsung akan ada pada film Captain America: Civil War yang akan tayang tahun 2016 nanti. Dan kaitan ini pulalah yang membuat Age of Ultron seolah menahan diri. Jika di film pertama Avengers kita merasakan sebuah kulminasi, sebuah puncak atas kisah-kisah superhero Marvel yang sebelumnya pernah tayang; perasaan itu tidak akan kita dapatkan di Age of Ultron, karena memang Age of Ultron tidak ditujukan untuk itu. Age of Ultron adalah sebuah jembatan menuju medan pertempuran yang lebih besar. Sebuah masa tenang sebelum badai besar. Hal ini memang bisa membuat banyak penonton tidak puas. Akan tetapi, fanboys tahu, hal ini memang harus diambil. Sebuah fondasi karakter dan kisah yang kuat harus dibuat terlebih dahulu demi sebuah bangunan kisah yang lebih kokoh di masa depan. Dan beruntunglah Marvel memiliki Joss Whedon untuk menangani film ini. Karena, kontras dengan tema ego yang dimiliki filmnya, ia justru tidak bersikap egois dengan mengumbar banyak hal di film ini, dan seolah memberikan kesempatan pada The Russo Brothers untuk melakukannya di Captain America: Civil War.

Story arc Civil War adalah sesuatu yang besar di jagat Marvel. Oleh karenanya butuh fondasi kisah yang baik yang harus dipersiapkan secara matang. Dan inilah yang dilakukan oleh Whedon dengan Age of Ultron. Membuat Age of Ultron menjadi membosankan? Mungkin ya... Tapi jika kalian mengikuti perjalanan Marvel Cinematic Universe sejak Phase 1 hingga sekarang, kalian tentunya paham bagaimana Marvel bekerja membentuk jagatnya. Tidak ada sebuah filmpun yang benar-benar berdiri sendiri, semua saling berkaitan. Dan seperti kasus Avengers: Age of Ultron ini, sebetulnya sudah terlihat bahwa Marvel tidak takut untuk melawan pola dengan menghadirkan kisah penting di luar film Avengers. Sebagai contoh, Captain America: The Winter Soldier yang menjadi turning point bagi Marvel Cinematic Universe secara keseluruhan. Jadi, jangan terkejut jika Age of Ultron tidak menjadi kulminasi atas kisah-kisah sebelumnya. Karena film ini hanya melayani Captain America: Civil War dan juga sebuah kesatuan yang lebih besar: Marvel Cinematic Universe.

Sebagai sebuah film standalone, Avengers: Age of Ultron merupakan sebuah film yang menyenangkan dan sangat menghibur untuk diikuti. Sebagai sebuah bagian dari Marvel Cinematic Universe, film ini adalah kunci penting bagi pengembangan karakter dan kisah di semesta film Marvel. Film ini memang terasa lebih tenang jika dibandingkan film pertamanya. Namun pembawaan tenang itu justru menjadikan film ini film yang lebih baik, lebih besar, dan lebih memuaskan. (abn)

Artikel Terkait