Nostalgia dengan sentuhan modern membuat film ini asyik ditonton dengan seluruh keluarga. Baca ulasan editor kami disini!

Director : Alexandre Astier and Louis Clichy
Screenplay : Alexandre Astier, based on books Asterix : The Mansions of Gods by René Goscinny and Albert Uderzo
Cast : Roger Carel, Lorànt Deutsch, Laurent Lafitte, Alexandre Astier, Alain Chabat, Elie Semoun
Penggemar komik di Indonesia tentu sangat familiar dengan kisah Asterix, prajurit Galia menjadi tak terkalahkan berkat ramuan ajaib. Intrik utama dari komik Perancis karangan René Goscinny dan Albert Uderzo ini ada pada Julius Caesar, penguasa Roma yang dibuat tak berdaya oleh para penduduk desa Galia yang gemar memakan celeng panggang. Sampai saat ini, komik Asterix sudah diterbitkan ke dalam 36 judul, diterjemahkan lebih di 100 bahasa, dan telah diadaptasi ke layar lebar melalui animasi atau live action. Adaptasi terbarunya kini sudah bisa kamu saksikan dengan judul Asterix : The Land of Gods.
Cara paling ampuh untuk menduduki sebuah wilayah adalah melalui jalur kebudayaan dan ekonomi. Rasanya hal ini dipahami betul oleh Julius Caesar ketika ia merencanakan pembangunan bangunan apartemen di hutan yang mengelilingi desa, sebagai rencana kesekian kalinya untuk menduduki wilayah Galia. Walau dipersulit oleh ulah Asterix, Obelix, Idefix, dan Panoramix, pembangunan apartemen ini pun akhirnya berhasil berkat para budak Afrika yang sopan santun. Setelah berhasil memindahkan para warga sipil ke sana, para penduduk desa Galia mempelajari nilai uang dan berkesempatan menjadi warga Roma yang terkenal beradab. Dengan penduduk desa yang semakin tak peduli dengan keberadaan desanya, mampukah Asterix dkk menyelamatkan tanah mereka?

The Land of Gods tanpa kenal lelah menghantam penonton dengan paduan komedi dan action yang hadir non stop dengan durasi hanya selama 85 menit (ini termasuk cukup ringkas lho, mengingat film sekarang rata-rata berdurasi 120 menit). Buat banyak kasus, misalnya The Last : Naruto The Movie yang akan tayang minggu ini, padanan seperti ini bisa membuat kita ngos-ngosan sendiri. Tapi dengan naskah yang cukup fluid dan mengocok perut, penonton cilik pun rasanya tidak kesulitan untuk memahami pertarungan Asterix dan Obelix melawan musuh dengan wajah modernisasi dan peradaban masa kini.
Bukan Asterix namanya kalau tidak bisa menghadirkan humor satir yang cukup cerdas dan menohok modernisasi secara tajam. The Land of God membahas ketakutan warga lokal ketika pembangunan masuk secara perlahan, menghancurkan teritori alam dan mendatangkan banyak warga asing dan mengganggu kebudayaan dan perekonomian lokal. Di sisi lain, film ini juga memberikan insight dari para warga lokal desa Galia, yang rupanya juga ingin menjadi bagian dari bangsa Roma, memakai baju jubah putih, berdandan, dan menikmati pertunjukan. Walau bisa jadi, mereka sendiri tidak mengerti esensi dari pertunjukan teater yang mereka saksikan. Gak beda jauh lah, sama orang-orang sok snob yang mendeklarasikan diri sebagai penonton art house.

Asterix : The Land of Gods bisa jadi sebuah pilihan alternatif yang cukup menyegarkan bagi seluruh keluarga. Bagi para penonton yang belum familiar dengan kisah Asterix, film yang satu ini memberikan sentuhan humor yang ringan, segar, dengan cerita yang mudah untuk diikuti. Sedangkan bagi para fans komik Asterix, adaptasi dari seri "Mansions of Gods" ini sangat sesuai tanpa ada penambahan atau pengurangan yang mengganggu, memberikan efek nostalgia. Rasanya persis seperti menemukan penjual kue cubit rasa green tea dan red velvet. Jajanan jaman kecil dengan sentuhan modern.