Over The L'Arc~en~Ciel : Film Dokumenter Penuh Dengan Momen Magis

by Joedi Dance

Over The L'Arc~en~Ciel : Film Dokumenter Penuh Dengan Momen Magis
EDITOR'S RATING    

Film Over The L'Arc~en~Ciel adalah film yang mendokumentasikan fenomena global yang terjadi di world tour band asal Jepang, Laruku. Tayang secara terbatas mulai hari ini hingga 15 Februari 2015, editor kami berpendapat film ini bukan hanya untuk fans Laruku saja, namun untuk semua penikmat musik. Baca ulasannya disini, Jelata!

Sutradara : Ray Yoshimoto
Pemeran : Hyde, Testuya, Ken, Hiroyuki

Sulit untuk membayangkan bahwa ada sebuah rock band yang berasal dari negeri sakura yang bisa melakukan tur dunia yang sukses dan sold out dimana-mana. Gimana ceritanya, band yang berbahasa Jepang bisa sampai terkenal dan jadi fenomena budaya sendiri. Iinilah yang coba diangkat oleh Roy Yoshimoto mengenai Laruku, band legendaris asal Osaka yang merayakan perayaan 20 tahunnya dengan world tour ke 14 negara di tahun 2012 lalu dalam fim rockumenter berjudul Over The L'Arc~en~Ciel.

Terinspirasi dari lagu Judy Garland, Over The Rainbow (yes, L'Arc en Ciel berarti pelangi dalam bahasa Perancis), film dimulai dengan Tetsuya yang duduk dengan wajah kelelahan dan kebingungan, dengan efek warna B/W, mengingatkan saya pada mood dari rockumenter lain, yaitu Radiohead : Meeting People is Easy. Namun ternyata, bukan mood depresif yang ingin disampaikan Yoshimoto. Kesan yang ingin disampaikan mungkin seperti suasana hati kita ketika melihat langit yang mendung, lalu kemudian muncul pelangi di langit. Warna-warni indah yang mencerahkan hati, ketika melihat aksi Hyde dkk dan road crew di belakang panggung, berusaha memberikan sebuah konser yang worth remember all the time.

Over The L'Arc~en~Ciel memberikan sudut pandang yang segar dan tak bias, membuatnya mudah untuk disukai baik oleh fans berat Laruku atau bahkan penggemar musik secara general. Film ini memberikan banyak adegan backstage dan candid footage dari para anggota. Ada sesuatu yang membuat hati menghangat, melihat wajah Hyde, Tetsu, Ken, dan Hiroyuki yang tidak pandai untuk berkata-kata ketika ditodong sederetan pertanyaan yang cenderung aneh dan lucu. Sesimpel seperti ketika Hyde ditanya perasaannya bergabung dengan Laruku selama 20 tahun, dan dia hanya menjawab "Senang."


Toh, walaupun mereka nampak awkward untuk berbicara di depan kamera, Laruku tidak kesulitan untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka sampaikan lewat musik mereka. Lewat banyak cuplikan, kita melihat bagaimana professionalnya mereka saat berkomitmen memberikan pengalaman konser yang terbaik. Dengan emosi campur aduk, mulai dari senyum santai, kebingungan mereka, hingga ke pressure yang mereka alami, rasanya seperti makan rujak mangga dan sambal petis : campuran rasa manis, asam, pedas yang membuat mata dan telingamu ketagihan dengan kejujuran yang disampaikan.

Kita pun diajak untuk melihat fenomena Laruku di berbagai negara yang mereka datangi. Bagaimana histeria-nya kota Hong Kong, Bangkok, Shanghai, Taipei, Singapura, Jakarta, Seoul, Honolulu, Yokohama, Osaka, hingga London, Paris, dan New York ketika Laruku datang dengan World Tour mereka. Bayangkan, total lebih dari 450.000 orang yang datang menonton konser mereka. Mengingat ketika Tetsuya sendiri mengakui, mereka tidak melakukan bentuk promosi apapun. Untuk eksekusi visual di panggung, Tetsu dan Hyde mungkin perfeksionis dan bertangan besi, tapi untuk membuat konser ini menjadi viral, they had no idea. Jadi, apa yang membuat Laruku sukses menjual habis tiket konser mereka, bahkan di Madison Square Garden, New York?

Salah satu momen yang dihighlight  dari film ini adalah adanya Street Team, para fans hadcore Laruku yang turun langsung ke jalan untuk mempromosikan konser Laruku secara sukarela. Pria dan wanita, berdandan ala harajuku, dan mengajak orang secara langsung dan lewat media sosial. Terbukti ampuh, mengingat tata panggung megah dan sound yang menggelegar, membuat kerja keras mereka membuat 'pelangi' bagi penonton terbayar lunas.

Dari segi musik sendiri, musik rock Laruku memang terkesan anomali dan tidak memiliki root yang jelas. Di salah satu interview, Hyde menyebutkan mereka banyak terinspirasi dari musik british gothic punk, tapi pada perkembangannya, Laruku berhasil mendefinisikan musik genre j-rock itu sendiri. Musik mereka bervariasi, dari mulai dari nada-nada hard rock hingga ke ballads, dengan foundation yang dibangun oleh Yukihiro dan Tetsu, kemudian diperkaya dengan melodi gitar dari Ken dan disempurnakan oleh suara angelic falsetto Hyde.

Ada begitu banyak momen eargasm dari cuplikan konser mereka, dan favorit saya adalah lagu Revelation (Smile, 2004) di Paris. Merinding nyeri di semua bagian tubuh saat menonton cuplikan konser musik yang bagus adalah sebuah momen magis. Hal yang sama pastinya dirasakan juga dengan semua penonton konser dari 14 negara, asing dengan bahasa yang digunakan, tapi musik bagus adalah musik bagus. Barangkali memang itulah ajaibnya musik, tak peduli apapun bahasa yang digunakan, namun perasaan yang ingin disampaikan dan harmonisasi yang membuai telinga membuat hal seperti bahasa dan ras menjadi sepele.

Artikel Terkait