Matthew Vaughn yang terkenal lewat Kick-Ass dan X Men : First Class kini kembali dengan film mata-mata ala James Bond era 1970an. Editor kami menyebutnya sebagai film penuh aksi brutal namun dengan komedi yang mengocok perut. Baca ulasan lengkapnya disini!

Sutradara : Matthew Vaughn
Penulis Naskah : Jane Goldman & Matthew Vaughn, Mark Miller & Dave Gibbons (Komik)
Pemeran : Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson, Mark Strong, Michael Caine, Sofia Boutella,
Menyebut film tentang mata-mata, franchise James Bond tentu saja ada di top of mind kita semua. Perlente, anggun, dan juga gentlemen, Bond memberikan penggambaran spy yang elegan selama lebih dari 53 tahun. Roger Moore sebagai pemeran Bond terlama, dengan jumlah 7 film selama 12 tahun (mulai dari Live and Let die - A View to Kill) by the way, dianggap memberikan dimensi karakter yang konyol dan cartoonish. Gak heran ketika kemudian, Bond tampil semakin gelap, terutama di era Daniel Craig. Dan sebagai leading role di film bertema spy ini, tentu saja memberikan mindset bahwa film bergenre mata-mata harus tampil dengan tampilan serba gelap dan rumit. Lihat saja trilogi Bourne, franchise Mission Impossible, atau Jack Ryan yang digarap dengan nuansa serba kelam. Memang, ada beberapa yang cukup ringan dan menggelitik, misalnya Johnny English, Get Smart, This Means War, hingga parodi Austin Powers, tetapi sulit untuk mengasumsikan formula Bond era Moore ini bisa berhasil sekarang. Setidaknya, sampai film terbaru dari Vaughn, Kingsman : The Secret Service.
Dunia nampaknya sedang aman-aman saja, thanks to Kingsman, sebuah organisasi intelejen swasta dari Inggris yang tak dibawahi oleh birokrasi negara manapun. Ketika kemudian milyuner Richmond Valentine (L. Jackson) memiliki gelagat yang aneh untuk menguasai dunia, Harry Hart atau yang dikenal sebagai "Galahad" (Firth) ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini. Di sisi lain, tewasnya "Lancelot" menyisakan tempat kosong untuk kandidat yang cukup potensial, salah satunya adalah Eggsy (Egerton) yang dimentori oleh Harry. Eggsy pun harus menjalani sebuah pelatihan, bersaing dengan 6 kandidat lainnya, untuk bergabung dengan Kingsman. Bisakah Eggsy menjadi the next Lancelot? Berhasilkah Galahad menghentikan niat jahat Valentine dan asistennya yang berkaki pedang (Boutella)?
Diadaptasi dari komik karangan Mark Miller dan David Gibbons, Kingsman hadir seperti paduan Wanted, Kick-Ass dengan cita rasa khas James Bond era Moore. Sama seperti Wanted dan Kick-Ass, kita diperkenalkan kepada tokoh utama yang clueless dengan keberadaan dunia barunya, Eggsy. Eggsy menemukan sosok ayah sekaligus mentor dalam diri Harry. Yang menarik adalah, melihat Egerton ikut bertansformasi bersama dengan karakter Eggsy. Ketika Eggsy yang awalnya begitu ignorant mulai bisa beradaptasi sebagai Kingsman yang baru, Egerton pun mengadaptasi gaya elegan dan perlente yang tak kalah dengan sang mentor, Colin Firth.

Kita mungkin tidak akan pernah membayangkan Colin Firth tampil sebagai seorang mata-mata dengan kemampuan membunuh tingkat tinggi. Penampilan Firth di satu sisi sangat berkelas khas pria aristokrat Inggris, dengan logat yang dijamin membuat lidahmu melilit. Di sisi lain, ia tampil bak jagoan dengan payung hitam anti pelurunya, tak kalah dengan Jason Bourne dengan tinju sekeras beton. Sayang, adegan se-krusial pembantaian di gereja dipotong oleh LSF. Jadinya, emosi dalam yang seharusnya ditampilkan lewat karakter Harry tidak sempat kita rasakan.
Esensi film Bond ala Moore yang dianggap ketinggalan jaman pun kembali menjadi relevan sekaligus keren di film ini. Penjahat super dengan sense of fashion yang aneh plus tempat persembunyian di tengah gunung bersalju? Check. Antek penjahat mematikan dengan senjata aneh? Check. Peralatan dan persenjataan berteknologi tinggi? Check. Semua elemen ini kemudian dibalut ke dalam cerita yang saling menyatu dan anehnya, terasa segar dan baru. Pesannya jelas, Vaughn ingin membangkitkan kembali plot film-film Bond di tahun 70an kepada kita yang lebih familiar dengan Daniel Craig atau Jason Bourne. Iya, mereka cool dan realistis, namun old-school Bond kayak Connery dan Moore juga masih keren dan relevan kok.

Semua elemen Bond jadul dengan vibe 1970annya berhasil diperbarui oleh Vaughn, membuat Kingsman : The Secret Service menjadi sebuah film aksi yang menegangkan sekaligus mengocok perut, dengan dialog yang witty dan memasukkan tribute dari banyak film terkenal. Disini, kamu akan melihat milyuner yang memilih Big Mac untuk formal dinner, kepala-kepala yang meledak warna-warni kayak kembang api di Bunderan HI, atau mata-mata yang resep martini kesukaannya lebih hipster dari barista ABCD Coffee.
Kingsman berhasil menyajikan 2 sub-plot yang saling ber-elaborasi satu sama lain. Pertama, kita diajak untuk melihat character development Eggsy yang awalnya clueless lalu berubah menjadi kandidat terkuat Kingsman. Kedua, bagaimana bahayanya ambisi Valentine untuk menghabisi umat manusia, dan Harry yang berusaha menyelamatkan dunia dengan penuh gaya. Mengingat ini adalah Vaughn, Kingsman hadir bagai perpaduan dari X Men : First Class dan Kick-Ass yang dipadankan dengan cita rasa khas Bond: sebuah film dengan plot rapi jali, adegan aksi menggigit dan brutal sekaligus elegan, dan selipan komedi yang mengocok perut. Kingsman : The Secret Service adalah jenis film yang asyik untuk ditonton berulang kali. Is it too early to make this as one of the best movie in 2015? Saya rasa sih tidak ;)