Project Almanac: Menjelajah Waktu dengan Gaya MTV

by dr. kawe

Project Almanac: Menjelajah Waktu dengan Gaya MTV
EDITOR'S RATING    

Menjelajah waktu adalah tema yang umum dalam dunia perfilman. Project Almanac mengemasnya dari sudut pandang anak muda generasi MTV

Kisah mengenai perjalanan mengarungi ruang dan waktu rasanya merupakan salah satu tema yang cukup sering diangkat di ranah perfilman Hollywood. Mulai dari Back to the Future sampai Interstellar. Di tahun 2015 ini, hadir sebuah film yang ikut-ikutan mengangkat tema tersebut dengan kemasan ala mockumentary. Promosinya sendiri mengedepankan nama sang produser yang pastinya sudah tidak asing lagi di telinga para pencinta film aksi, Michael Bay. Mengingat sebelum ini Bay bisa dibilang kurang sukses dalam me-reboot Teenage Mutant Ninja Turtles, apakah film yang diberi judul Project Almanac ini juga akan menambah daftar kegagalannya sebagai produser?

David Raskin adalah mahasiswa pintar yang bercita-cita masuk MIT, namun terpaksa urung karena tersandung kendala finansial. Ia pun memutuskan mencari ide dari berbagai penemuan sang ayah yang tersimpan di loteng guna dipresentasikan dalam rangka memperoleh beasiswa. Namun, apa yang ia temukan di sana malah membuatnya kaget. Sebuah kamera yang merekam ulang tahun David ke-7 menampakkan dirinya yang sekarang terpantul di cermin. Bersama Cris (sang adik) dan dua temannya, Quinn dan Adam, David mencoba mencari tahu kenapa ia yang sekarang bisa berada di waktu ulang tahun dirinya yang ke-7. Penyelidikan ini membawa keempatnya ke ruang bawah tanah dan menemukan sebuah cetak biru dari mesin waktu yang diciptakan ayah David. Penasaran, David, Cris, Quinn, dan Adam pun mulai mencoba membangun mesin tersebut. Mereka ingin menciptakan kesempatan kedua untuk masa-masa SMA yang terasa berat. Tapi, benarkah kesempatan kedua itu ada?

Dari trailer yang dikeluarkan, sebagian besar orang akan beranggapan bahwa formula kisahnya kurang lebih akan sama seperti Chronicle yang melejitkan nama Dane DeHaan. Sekelompok anak muda yang mendapat kemampuan di luar manusia normal, menggunakannya untuk keuntungan mereka sendiri, mendapat masalah, dan harus berakhir dengan bad ending. Tidak hanya itu, nama Bay yang terselip di jajaran produser juga tidak memberikan keyakinan penuh bahwa film ini akan nikmat ditonton.

Namun, dugaan tersebut terpaksa harus saya telan bulat-bulat ketika menit demi menit film ini berjalan. Kisahnya dibangun secara menarik dengan penggunaan hand held camera ala mockumentary dan shot-shot dinamis layaknya anak muda. Meski film ini dibuat dengan gaya dokumenter (yang kebanyakan direkam oleh Cris), tapi sang sutradara Dean Israelite tetap ingin menekankan bahwa ini adalah sebuah film fiksi dengan menampilkan backsound music. Uniknya, musik di film ini dikomposisi oleh Michael Giacchino yang sudah punya nama di dunia perfilman Hollywood.

Layaknya sebuah film mockumentary, para pemerannya pun adalah muka-muka baru sehingga karakter mereka terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan Chronicle yang kebanyakan berfokus pada karakter Andrew (DeHaan), di sini masing-masing tokoh mendapatkan porsi yang sama banyaknya dan acap mengundang gelak tawa hingga tepuk tangan riuh dari para penonton. Chemistry para pemain pun mengalir lancar dan menonton film ini kita seperti melihat video diari seorang teman. Tidak hanya itu, berbagai lelucon khas generasi MTV hingga referensi terhadap film-film tahun 2000-an, seperti Looper, banyak bertebaran.

Project Almanac juga tidak berambisi menjadikan para anak muda ini sebagai pahlawan kesiangan dengan menggambarkan mereka sebagai remaja yang berusaha menyelamatkan berbagai bencana. Apa yang disajikan adalah keinginan-keinginan wajar bila anak-anak berusia 17 tahun memiliki kemampuan mengembalikan waktu, mulai dari membalas dendam terhadap tindak penindasan di sekolahnya, mendapat nilai bagus dalam pelajaran Kimia, hingga menyaksikan konser musik idaman. Konfliknya sendiri memang terasa tidak terlalu mendalam dan penyelesaiannya pun mudah ditebak. Untunglah, Project Almanac menutup kisah ini dengan sentuhan yang tepat dan tidak depresif sehingga tone yang sudah dibangun dari awal kisah tidak lantas menurun hingga mencapai titik gelap dan membuat penonton keluar dengan uring-uringan.

Sebagai sebuah tontonan awal tahun yang kebanyakan diramaikan oleh drama serius, pihak produser dan seluruh jajaran artis serta kru sukses memperlihatkan bahwa sebuah mockumentary tidak harus bernuansa kelam dan berakhir tragis. Dan, setelah keluar dari bioskop, Jelata pasti tertarik untuk mendengarkan “Radioactive” milik Imagine Dragons atau bahkan menyenandungkannya. Kenapa? Silakan tonton Project Almanac

Artikel Terkait