Seventh Son: Kisah (yang Terlalu) Familiar di Ranah Fantasi

by dr. kawe

Seventh Son: Kisah (yang Terlalu) Familiar di Ranah Fantasi
EDITOR'S RATING    

Sebagai sebuah adaptasi novel fantasi, wajar bila para pencinta genre ini berharap banyak pada Seventh Son. Sanggupkah film bertabur bintang ini menjawab harapan tersebut?

Mengadaptasi novel fantasi bak pedang bermata dua. Bila ditangani dengan baik, hasilnya akan memuaskan. Namun, bila terasa kurang dari segi kualitas, meskipun memiliki basis penggemar tinggi maka bisa jadi akan mengundang caci-maki dan babak belur di tangga pendapatan. Lalu, apakah Seventh Son masuk kategori sukses seperti saga Harry Potter atau malah gagal layaknya Eragon?

Gregory (Jeff Bridges) terpaksa kehilangan satu muridnya lagi William (Kit Harington) dalam upayanya membasmi Mother Malkin (Julianne Moore), seorang penyihir berkuasa. Untuk membalaskan dendamnya, Gregory mengunjungi keluarga Ward dan mengangkat anak ketujuh, Tom (Ben Barnes), sebagai penerusnya. Di sisi lain, Malkin juga tidak tinggal diam. Ia memanggil beberapa letnannya yang memiliki kemampuan sihir mematikan untuk mematahkan perlawanan Gregory. Apakah lelaki tua ini sanggup melatih Tom pada waktunya dan mengalahkan Malkin?

Jangan salah duga. Meski terdapat novel berjudul Seventh Son, namun film ini bukanlah mengambil kisah dari buku karangan Orson Scott Card tersebut, melainkan The Wardstone Chronicles karangan Joseph Delaney yang terdiri dari 16 seri. Namun, melihat apresiasinya yang kurang memuaskan dan gaung yang nyaris tidak terdengar, kecil kemungkinan bahwa akan ada lanjutan kisahTom Ward dan sang guru.

Seventh Son sendiri tidak dapat dikatakan buruk. Akting Moore dan Traue cukup memikat, begitu juga dengan tampilan CGI-nya yang masih sedap dipandang mata bila dibandingkan 47 Ronin. Namun, kelemahan justru muncul dari Barnes yang aktingnya terasa datar tanpa adanya emosi berlebihan. Begitu juga dengan Bridges yang gaya berbicaranya malah terasa menyebalkan. Palingkan wajah dan Anda akan merasa bahwa Gregory meniru gaya berbicara Bane minus masker bernapasnya.

Tidak hanya itu, dari segi kisahnya pun Anda akan merasa banyak comotan plot dari film-film sejenis di sana-sini. Yang paling terasa adalah Hansel & Gretel: Witch Hunter, mulai dari love interest Tom yang adalah seorang penyihir baik, sosok Malkin yang mengingatkan kita pada penyihir utama, ibu Tom yang ternyata adalah seorang penyihir, tampilan Tusk, hingga adegan mandi Alice. Kurangnya chemistry antara Gregory dan Tom membuat film terasa berjalan lambat dan membosankan, bahkan adegan puncaknya pun gagal menjadi penyelamat dan terasa hambar.

Beberapa plot hole terasa cukup mengganggu, seperti misalnya kelompok pembunuh milik letnan Malkin, Radu (Djimon Honsou), yang dikabarkan sebagai pembunuh terbaik harus dikalahkan oleh seorang pemuda yang masih dalam tahap belajar. Dan, sulit membayangkan bahwa Tom yang hanya diberi waktu belajar selama seminggu dapat mengalahkan Malkin dan kawanannya dengan mudah. Kemampuannya sebagai anak ketujuh dari anak ketujuh yang dikabarkan melebihi kekuatan tujuh orang digabung menjadi satu pun tidak terlihat. Begitu juga dengan vision yang kerap didapat tidak memiliki arti lebih dari sekadar vision yang dapat jadi lebih menarik lagi bila dikembangkan lebih jauh.

Sebagai sebuah kisah yang bertabur bintang, sayangnya Seventh Son gagal menjadi penerus saga Harry Potter dan harus rela bergabung dengan Eragon dan Golden Compass. Namun, bagi Anda yang pernah membaca bukunya, tak ada salahnya melihat tokoh-tokoh kesayangan muncul di layar lebar dengan balutan CGI yang cukup menarik. 

Artikel Terkait