Fatal Frame: Kutukan Lain dari Jepang

by Ireuna

Fatal Frame: Kutukan Lain dari Jepang
EDITOR'S RATING    

Satu lagi film horor dari Jepang. Seram, tapi tidak menakutkan. Apa yang membedakannya?

Diangkat dari game yang populer dengan judul Project Zero, Mari Asato menampilkan Fatal Frame yang sedikit berbeda dari versi game-nya. Ini bukan film horor biasa yang menampilkan sosok hantu pengutuk yang bisa membunuh siapa pun yang mengusik tempatnya. Ini drama tentang cinta dan persahabatan di antara anak-anak perempuan.

Kisah diawali dengan Aya (Ayamu Nakajo) yang melihat dirinya tenggelam dan mengatakan bahwa dirinya telah dikutuk oleh kutukan yang hanya menghantui anak-anak perempuan. Merasa dirinya terkutuk, Aya mengunci diri di kamarnya. Namun, di luar sana, teman-temannya menunggu dirinya keluar. Aya yang cantik ternyata terlalu menarik hati teman-temannya. Lantas, beredarlah gosip tentang ritual mencium foto orang yang disukai pada waktu yang bukan hari ini atau besok. Aya, yang begitu menarik bagi teman-temannya, menjadi objek ritual itu. Tapi, satu per satu temannya yang mencium fotonya menghilang dan ditemukan di sungai sudah tidak bernyawa. Michi (Aoi Morikawa), salah satu anak perempuan yang dihantui kutukan itu, diselamatkan oleh Aya yang pada tengah malam mengatakan bahwa foto yang beredar itu bukanlah foto dirinya. Michi berniat menghilangkan kutukan yang ada di dirinya. Ia pun bertekad menguak kebenaran yang tersembunyi di balik kematian teman-temannya. Bersama Aya, ia menemukan fakta yang telah terkubur bertahun-tahun lamanya di sekolahnya.

Fatal Frame benar-benar tidak seperti film horor biasa. Ia tidak menampilkan kengerian hantu yang mengutuk. Mungkin ini karena sosok hantu yang mengutuk terlalu cantik. Tapi, Fatal Frame menangkap sisi lain kehidupan para perempuan Jepang pada era Meiji yang benar-benar ketat. Film ini menampilkan para remaja perempuan menjelang masa pubertasnya dengan berbagai masalah mengenai pandangan mereka tentang cinta. Ditambah lagi, latar tempat dalam film ini adalah Sekolah Katolik khusus anak perempuan. Ketika tumbuh dewasa bersama teman-teman perempuan dan mereka bahkan hampir tidak pernah bertemu anak laki-laki, mungkin pandangan mereka mengenai cinta bisa berubah. Itulah yang melatarbelakangi kutukan yang beredar di sekolah. Ketika dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersatu, maka jalan satu-satunya adalah mengabadikan diri mereka dalam foto dan berharap mereka akan bertemu kembali, bersatu setelah kematian.

Berbeda dengan game-nya, kamera Obscura muncul di film ini, namun tidak pernah digunakan sebagai senjata untuk memusnahkan hantu dengan memotretnya. Kamera Obscura tetap muncul sebagai ikon bahwa kamera dapat merekam apa saja, termasuk perasaan seseorang. Selain itu, kesan klasik dalam film ini benar-benar pekat. Selain bangunan sekolahnya yang memang dibangun pada era Meiji, seragam para murid yang berwarna hitam-putih juga mengesankan kesuraman masa lalu. Kesan vintage dan old sangat terasa di setiap scene-nya sehingga menghadirkan aura kelam dan mengerikan. Jadi, bukannya menjual kengerian hantunya, Fatal Frame justru menghadirkan kengerian melalui fakta yang diselubungi misteri dan ritual yang berhubungan dengan kamikakushi (peristiwa orang yang menghilang tiba-tiba; pada zaman dahulu diduga diambil oleh dewa).

Sebagai film horor, agaknya Fatal Frame cukup gagal mengejutkan penonton di beberapascene-nya. Bagi penggemar scary movie, jangan harap akan menemukan hantu yang tiba-tiba muncul di depan wajah tokohnya. Fatal Frame tidak termasuk di dalamnya dan akan cenderung membosankan. Ini adalah drama dan misteri tentang ritual yang beredar di sekolah dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, tidak ada hantu yang membunuh di film ini. Untuk yang tidak suka ide mengenai homoseksual, sebaiknya berpikir dua kali sebelum menonton film ini karena sejak awal sudah banyak sekali pandangan mengenai cinta sesama jenis.

Artikel Terkait