Sebagai sebuah penutup, The Hobbit: The Battle of Five Armies memang manis. Namun, film ini setingkat di bawah kata sempurna

Sebagai sebuah penutup dari saga Middle Earth dan penyambung ke trilogi The Lord of the Rings, wajar bila banyak orang yang menaruh ekspektasi tinggi. Beberapa faktor di antaranya adalah rasa pesimis orang-orang terhadap bagian terakhir ini mengingat bukunya yang hanya satu jilid direntang menjadi tiga film sehingga banyak yang penasaran seperti apa akhirannya? Selain itu, setiap penikmat film tentu masih ingat bahwa Peter Jackson berhasil menutup dengan manis karya J.R.R. Tolkien ini dalam Return of the King. Lalu, apakah The Hobbit: The Battle of the Five Armies sanggup menyamai mahakarya sutradara berjanggut tersebut?
Dari segi cerita, jelas bahwa ini adalah pamuncak dari dua film sebelumnya sehingga apa yang disajikan akan berkisar pada usaha melawan Smaug ataupun pertempuran dengan pasukan Orc di bawah pimpinan Azog. Karena itu, Jelata yang merasa bosan di dua film pertama bisa sedikit bersorak dengan adegan aksi yang menghiasi nyaris 2/3 film. Sayang, pertempuran yang seharusnya menjadi klimaks terasa terlalu cepat dan tidak sampai membuat terpukau layaknya Battle of Gondor. Belum sempat takjub, kita akan langsung dibawa dengan duel satu lawan satu antara Thorin Oakenshield dengan Azog.

Untuk pamungkas kali ini, peran Bilbo sayangnya harus tersingkir karena Thorin yang cukup dikedepankan oleh Jackson. Bisa dibilang, hobbit ini nyaris tidak memiliki makna apa-apa dalam The Battle of the Five Armies. Tidak terlalu mengganggu memang (kecuali bagi fans Martin Freeman) karena Richard Armitage sendiri sukses memerankan Thorin yang dikuasai oleh keserakahan dan harus memilih antara kesetiaan dengan kaumnya ataukah emas berharga yang susah payah ia dapatkan. Sisi emosional sendiri memang cukup terasa di film ini, dibandingkan An Unexpected Journey atau Desolation of Smaug. Bagi yang sudah membaca bukunya kira-kira bisa tahu adegan mana yang akan menguras emosi dan sudah siap, tapi bagi yang belum mungkin akan kaget dan menganggap ini twist.
Jackson sendiri kembali menggunakan HFR sebagai salah satu formatnya, selain IMAX dan 3D, untuk visualisasinya sehingga seluruh adegan di layar benar-benar tampak jernih dan nyata. Namun, bagi yang tidak terbiasa akan merasa bahwa tampilan super nyata ini malah membuat film terasa bagaikan permainan video game dengan tingkat CGI menawan. Jadi, kesimpulannya? Ini adalah penutup sekaligus pembuka yang menarik untuk berlanjut ke trilogi berikutnya. Namun, bila dibandingkan dengan Return of the King, Battle of the Five Armies berada satu tingkat di bawah.
