The Raid 2: Lebih Besar, Lebih Seru, Lebih Menyakitkan

by Arief Noor Iffandy

The Raid 2: Lebih Besar, Lebih Seru, Lebih Menyakitkan
EDITOR'S RATING    

Ini film yang berbeda. Lebih besar, lebih seru, lebih menyakitkan. Baca ulasan pembaca Layar Tancep, Arief Noor Iffandy, yang telah menyaksikan The Raid 2: Berandal.

Sutradara : Gareth H. Evans
Pemain : Iko Uwais, Arifin Putra, Cecep Arif Rahman, Tio Pakusadewo, Oka Antara, Julie Estelle, Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo, Alex Abbad, Kazuki Kitamura

Tulang kering? Persendian? Batok kepala? Checked, semua masih oke. Oh, well, memang tidak terjadi apa-apa pada saya, hanya saja rahang ini yang masih terasa tegang dan kedua telapak tangan begitu panas setelah bertepuk tiada henti. Ini adalah akibat menonton film. Sebuah film yang dengan menyaksikannya saja seolah memberi efek remuk di sekujur tubuh. The Raid movie is back! Mengusung subjudul ‘Berandal’, film yang akan kembali menjadi hit ini kembali dengan menyuguhkan semua yang diharapkan setiap orang. Dengan skala cerita yang jauh lebih besar dan aksi yang semakin menggila, serta dikemas dengan lebih ambisius; menjadikan film pertamanya (yang sudah epik itu) menjadi seperti sebuah kotak kecil yang tececer di jalanan. Berandal layaknya segerobak penuh hadiah yang akan menenggelamkan penonton dalam euforia yang jauh lebih awet!

Jika kalian memiliki ide besar yang berkecamuk di pikiran, sudah menjadi gawat darurat karena tidak tahan agar segera dituangkan namun tidak memiliki cukup daya untuk itu, maka ambillah secuil di antaranya, lempar itu ke pada dunia, biarkan semua orang menggila dan pada akhirnya mereka akan memberikan apapun untuk membiarkanmu menyuguhkan sesuatu yang lebih. Itulah yang dilakukan Gareth Evans dengan film ‘The Raid’ yang menjadi fenomena internasional pada 2012 lalu. Sukses setelah ‘Merantau’ yang mengedepankan pencak silat dengan nilai kearifannya, kini Ia ingin membuat sebuah film aksi kriminal berbalut martial art, sebuah tontonan yang lebih seru dan sadis. Naskah untuk ‘Berandal’ sudah jadi. Beberapa aktor juga sudah dicasting  dengan karakter masing-masing yang sudah dipersiapkan. Namun setelah menyadari begitu besarnya kebutuhan yang diperlukan untuk merealisasikannya, proyek ini terpaksa dipeti es kan sehingga Gareth bersama team Merantau lebih memilih membuat film “kecil-kecilan” lain terlebih dahulu. Maka jadilah film ‘The Raid’. Ketika ini dirilis, dunia pun ternyata meledak. Berkat kesuksesannya itulah ia jadi mendapat kesempatan lampu hijau untuk mengerjakan kembali proyek yang tertunda.

Melanjutkan jalinan kisah secara langsung, Berandal dimulai hanya berselang dua jam setelah kejadian di akhir film pertama. Kini jagoan kita Rama (Iko Uwais) bergabung dengan sekelompk kecil intelijen yang memiliki misi menangkap para mafia yang menguasai kota. Rama harus bertindak sendirian, menghadapi keluarga  besar mafia yang bersaing dan saling berseteru. Untuk itu, ia harus mengawali langkah dengan cara mendekati Eka (Arifin Putra) seorang anak  bos penjahat penting yang kini sedang di penjara. Mulai dari pendekatannya inilah, Rama terjun ke dunia kriminal elit Jakarta secara total dan mendalam demi menyukseskan misinya.

Apabila kalian merasa kehilangan Joe Taslim yang menjadi salah satu scene-stealer di film pertama, tidak perlu merasa cemas, ada sangat banyak penggantinya yang ikut menyemarakan film sekuel ini. Mulai dari aktor yang harus bersabar menunggu panggilan kembali untuk bergabung seperti Arifin Putra dan Alex Abbad, dipermanis oleh Julie Estelle yang menjadi duo bersaudara pembunuh bersama muka baru Very Tri Yulisman, hingga satu set jajaran aktor kawakan Indonesia dan Jepang yang semuanya dengan senang hati ikut terlibat dalam film ini. Lupakan gedung apartemen dengan lorong-lorongnya yang menimbulkan klaustrophobia, ‘Berandal’ bukan jenis sekuel yang hanya bisa menambah jumlah lantai yang harus dibersihkan. Ini adalah film yang berbeda. Ini adalah contoh film yang menunjukkan pencapaian bagi seorang kreatif yang muncul dari keterbatasan dan mendapat kesempatan untuk berimajinasi lebih luas.

Sejak menit pertama, ‘Berandal’ sudah tampil dengan penuh cita rasa yang kental dan pecaya diri. Landscape hamparan kebun tebu yang luas dengan hembusan angin, awan mendung, muram dan delusional pada pembukaannya, seolah menekankan penonton bahwa, “lihatlah, kita tidak lagi hanya bermain di dalam ruangan!”.  Kemudian adegan diikuti dengan menampilkan karakter misterius berpakaian hitam, elegan, necis, tampak jahat, dan hendak melakukan sesuatu yang sangat jahat tapi keren tak terbantahkan!

Apa yang muncul di awal itu hanya sebuah pembuka. Terdapat banyak karakter memikat yang akan menyusul kemudian. Dan menjelang semua itu ditampilkan, penonton dapat menikmati sajian berbagai aspek film lainnya yang dikemas apik. Garteh Evans kini berperan bukan hanya sebagai sutradara, namun juga penulis naskah sekaligus menangani bagian editing (bersama Andi Novianto). Berbicara mengenai naskah, Evans mengaku banyak dipengaruhi oleh berbagai film mafia dalam membangun dunia dalam ‘Berandal’, jadi tidak heran apabila penonton teringat akan ‘Infernal Affairs’ hingga ‘The Godfather’ ketika mengetahui ceritanya yang juga berbau penyamaran dan konflik keluarga mafia. Soal editing, dimana bagian ini sering disebut sebagai separuh yang terpenting dalam masa produksi film, mereka sungguh telah melakukannya dengan baik! Materi filmnya saja sudah amat menarik, sekarang semua itu dihidangkan dengan sulapan potongan adegan yang melopat dari satu-dua-tiga lokasi sekaligus, dalam rentang waktu yang maju mundur dan momen yang berbeda, semua dituturkan dengan cerdas mengembangkan satu arah cerita menjadi lebih dinamis dan memaksa penonton untuk langsung fokus tidak boleh meleng agar dapat menangkap cerita,  strategi memikat yang sangat efektif dalam membuka segmen awal film.

Setelah Merantau yang disusul The Raid, sekarang melalui ‘Berandal’ ini kecakapan Evans dalam menyutradarai film semakin terlihat, dimana kesan kaku mulai luntur. Ia sudah jauh lebih lugas dan benar-benar menguasai setiap hal dalam membangun filmnya. Hasil kerja Evans yang paling saya kagumi adalah caranya membangun berbagai segmen berbeda yang datang bergantian di sepanjang film. Setiap kali adegan akan berubah menjadi intens, Evans seperti mewanti-wanti penonton dengan cara yang sangat menggoda. Dan saya sangat menikmati itu! Gerakan kamera slow-motion, tetesan air hujan, pisau yg mulai digenggam erat, langkah kaki, hingga sorotan mata para pemain yang berubah tajam, dan kemudian... BAM! Apa yang sudah ada dalam pikiran penonton pun segera terjadi. Selesai mengaduk-aduk emosi penonton dengan aksi yang gila, Evans tidak kelepasan mengumbar laga. Ia kembali menentramkan suasana, menyetir perjalanan cerita menuju arah selanjutnya, memberi penonton waktu sejenak untuk mengambil nafas sebelum kembali bersorak riang dengan sajian aksi berbeda yang tidak kalah seru. Sungguh ini merupakan perlakuan yang memanjakan penonton!

Untuk divisi music score, Evans merekrut tiga orang sekaligus, yaitu Joseph Trapanase, Aria Prayogi, dan Fajar Yuskemal. Tentunya para komposer ini memiliki gaya berbeda, sentuhan masing-masing ke dalam film sangat dirasakan campurannya, dan itu hasilnya keren! Berbagai adegan diikuti dengan setelan musik yang sudah disesuaikan begitu pas dengan momennya. Suara musik menghentak yang membangkitkan ketegangan, kemudian musik techno di saat kepepet, hingga sentuhan musik tradisional Indonesia juga ikut diperdengarkan, semua membuat suasana film menjadi semakin kaya dan adegan pertarungannya semakin seru. Serupa dengan bagian sinematografi yang ditangani oleh dua orang penata kamera, Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono, bekerja sama saling oper kamera dan mengambil berbagai sorotan ekstrim dengan cara yang sulit dipikirkan, hasilnya? Penonton tidak akan pernah menduga setiap kali mereka menempatkan sudut  gambar dari posisi yang unik, liar, dan sangat bergaya.

Dalam usahanya menghadirkan adegan kejaran mobil yang fantastis, mereka menggunakan bantuan stunt khusus dari Hong Kong, langsung terjun ke setting  di jalanan kota Jakarta yang terkenal padat dan semrawut. Tentunya itu akan tidak mudah dan kita patut memberi apresiasi. Akhirnya tiba juga masanya dimana filmmaker benar-benar melakukan hal tersebut (car chase sequence) di kota ini. Kejar-kejaran mobil seru di jalanan ramai seperti Blok-M, mobil drifting  dengan latar jajaran pencakar langit di Kuningan hingga sebuah halte Transjakarta hancur ditabrak mobil, orang Indonesia mana, khususnya di Jakarta, yang tidak bersemangat melihat semua itu terjadi?

Dalam sebuah wawancara, Gareth Evans mengaku film ini memiliki lebih banyak cerita dan juga merupakan character-based movie. Mengetahui durasi filmnya yang mencapai dua setengah jam dan skala cerita yang semakin besar, kita tentu berharap apa yang akan disampaikan benar-benar semuanya penting dan padat-berisi sehingga mereka butuh waktu sebanyak itu. Perhatikan saja poster filmnya, ada alasan mengapa karakter yang dibawakan Arifin Putra ditempatkan di bagian tengah, bukan Iko Uwais. Ini jelas berarti sesuatu, dan itu ternyata adalah sesuatu yang menarik. Meskipun karakter baru yang bermunculan seperti membludak, namun itu tidak akan membuat penonton kebingungan karena Gareth telah mengatur jatah masing-masing dengan porsi yang pas. Setiap karakter yang berada dalam poros cerita diperlakukan dengan spesial, apabila ada yang tidak sempat diberikan sekilas back-story, mereka pasti memiliki penggantinya berupa jatah momen karakterisasi masing-masing yang diselipkan sebagai detil yang, walaupun dalam adegan singkat, akan meninggalkan kesan mendalam pada penonton. God is in the details.

Saya merasakan antusiasme yang tinggi pada seluruh pemainnya, bagaimana tidak, ini adalah sekuel yang dinantikan semua orang! Kredit pertama tentu kepada Iko Uwais yang telah menunjukkan perubahan akting yang lebih baik, ia adalah seorang ayah sekarang, dan untuk melindungi keluarga mudanya ini tidak ada pilihan lain selain dengan menghadapi maut secara langsung, itu membuatnya semakin dewasa dan mapan dari waktu ke waktu. Tidak hanya dari segi akting, performa bela diri silatnya pun juga semakin baik di sini, gerakannya semakin cepat dan tangkas! Ada alasan mengapa seorang karakter utama menjadi tidak terkalahkan dalam suatu film, pertama, karena hanya dibuat beruntung, kedua, karena ia memang yang paling hebat, dan yang paling hebat inilah dia karakter Rama-nya Uwais. Ia memang layak disejajarkan dengan para aktor laga legendaris yang pernah ada!

Bersama dengan Iko, Yayan Ruhian kini juga ikut terlibat sebagai koregorafer bela diri dan mengajar tren baru dalam menghajar musuh secara habis-habisan. Tidak hanya dengan sekali-dua kali pukulan saja namun digempur hingga tulang patah dan kepala pecah, pokoknya sampai puas. Selain menjadi koreografer, Yayan Ruhian  juga kembali memerankan salah satu karakter pembunuh handal bernama Prakoso. Bukannya seperti kekurangan pemain, hanya saja, saya setuju bahwa  kemampuanya ini memang terlalu sayang jika tidak kembali digunakan. Adapun perbedaan karakter Prakoso dengan Mad Dog yang sebelumnya ia perankan adalah pada kisah dibalik karakternya itu sendiri –selain dari penampilannya sekarang yang semakin banyak rambut.

Ada banyak wajah-wajah familiar dunia perfilman kita muncul di film ini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kesenangan hati mereka bergabung sebagai pemain pendukung benar-benar memberi kontribusi yang baik. Seperti Tio Pakusadewo, Cok Simbara, Roy Marten, Oka Antara, hingga Alex Abbad sebagai Bejo, preman elit yang penuh modus dan misterius. Belum lagi dengan pemain karakter pendukung lain yang paling banyak menyedot perhatian, siapa lagi kalau bukan Julie Estelle (Hammer Girl), Very Tri Yulisman (Baseball-Bat Man), dan Cecep Arif Rahman (The Assasin). Penampilan karakter para pembunuh handal ini sebenarnya juga tidak begitu banyak, namun percayalah, mereka ini benar-benar orang berbahaya yang tidak akan bisa semudah itu untuk dilupakan! Akan tetapi, dari semua penampilan di film ini, Arifin Putralah yang paling bersinar. Karakternya, Ucok seorang anak bos yang ambisius dan haus akan pengakuan, memegang peranan penting dan menjadi kunci utama film ini. Dan dia melakukan tugasnya dengan cemerlang! Prospek yang bagus akan menantinya pasca film ini.

Menyaksikan film dengan konflik yang mengalir berselang-seling dengan aksi ini lama-kelamaan membuat saya seperti terjebak diantara polemik perkumpulan gangster yang memanas di Jakarta. Situasi terus menanjak menjadi sangat berbahaya, orang-orang jahat dan keji ada di mana-mana. Ini menandakan tensi dan atmosfir filmnya sangat terjaga dari awal hingga akhir. Hanya saja, masih ada satu bagian teknis yang cukup mengganggu kenikmatan dikala menonton. Pada beberapa adegan, dialog mereka sulit untuk ditangkap, ada yang karena bicaranya yang kurang jelas seperti sedang berkumur dan juga terganggu oleh latar musik yang terlalu menghentak. Dari berbagai review para kritikus yang sudah menonton filmnya lebih dahulu pada penayangan Festival Film Sundance Januari lalu –dimana filmnya sendiri mendapat standing ovation hingga menjadi trending topic, saya tidak menemukan keluhan ini, tentu saja, mereka yang hanya membaca subtitle mengerti apa soal bahasa yang dipergunakan, lain halnya dengan kita yang harus memasang pendengaran ekstra untuk menangkap beberapa bagian dialognya yang ngeblur.

Mungkin hanya perkara teknis seperti dialog yang kurang jelas, yang menjadi kekurangan film. Selebihnya? Jangankan untuk mencari alasan untuk mengeluh, memilih bagian mana yang menjadi favorit saja sudah sulit. Film ini terlalu menarik hampir di setiap komponennya! Namun mau bagian mana yang akan paling kalian sukai, satu hal yang pasti, melalui film ini, Gareth Evans bersama team Merantau telah menyetel standar baru yang sangat tinggi dalam dunia film action. The Expendables 3? Fast and Furious yang kesekian? Oh, Hollywood… apa kalian siap?

 

Tentang Penulis : Arief Noor Iffandy adalah cowok berkulit putih yang sangat mencintai film. Ia tinggal di Jakarta dan mempunyai obsesi untuk pergi mengunjungi Dubai.

Artikel Terkait