Karya terbaru Steve McQueen ini mungkin bukan yang terbaik diantara film-filmnya yang lain. Namun tetap, ini adalah sebuah film yang menggugah, kontemplatif, dan jauh dari kata jelek. Baca ulasan editor kami.
Sutradara : Steve McQueen
Penulis Naskah : John Ridley, Solomon Northup (buku)
Pemeran : Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Lupita Nyong'o, Sarah Paulson, Benedict Cumberbatch, Brad Pitt
Dengan segala pencapaiannya saat ini, Amerika Serikat memiliki banyak periode gelap dalam jalan sejarahnya. Mulai dari tersingkirnya native Americans atau suku Indian, perang sipil antara utara dan selatan, dan tentunya yang paling kelam adalah sejarah perbudakan yang merentang panjang selama dua abad, dari abad 17 hingga 19. Dan tema inilah yang diangkat oleh sutradara Inggris Steve McQueen dalam film terbarunya, 12 Years a Slave.
12 Years a Slave merupakan adaptasi memoir karya Solomon Northup berjudul sama. Film ini mengisahkan pengalaman Northup (Chiwetel Ejiofor) yang diculik di kota Washington pada tahun 1841 untuk kemudian diperbudak selama 12 tahun. Northup sesungguhnya merupakan seorang Afrika-Amerika terlahir merdeka yang memiliki kehidupan yang layak di Saratoga, New York. Ia adalah musisi handal yang sering diundang untuk bermain pada acara-acara yang diadakan oleh orang kulit putih. Namun kebebasan Northup bagi sebagian orang bukanlah sesuatu yang wajar. Warga kulit putih Amerika sudah terbiasa menganggap bahwa kulit berwarna merupakan manusia yang kastanya ada di bawah mereka, sehingga melihat Northup yang merdeka dan hidup layak bagai sebuah noda dalam kehidupan mereka.
Northup diculik oleh dua orang bernama Brown (Scoot McNairy) dan Hamilton (Taran Killam) dalam sebuah perjalanan ke Washington, dimana Northup dijanjikan sebuah pekerjaan bermain musik. Pekerjaan itu memang ada. Namun, Brown dan Hamilton memiliki niatan lain terhadap Northup dengan menjualnya sebagai budak saat Northup dalam keadaan tidak sadar. Dalam perjalanannya sebagai budak, Northup melayani dua orang tuan tanah. Yang pertama adalah Ford (Benedict Cumberbatch) seorang tuan tanah baik hati yang memiliki usaha kayu. Ford dengan Northup memiliki hubungan yang baik, namun karena hutang Ford terhadap Edwin Epps (Michael Fassbender), Ford terpaksa menyerahkan Northup kepada Epps. Dan di sinilah neraka sesungguhnya dimulai.
Epps adalah tuan tanah yang memiliki perkebunan kapas. Ia mempekerjakan banyak budak Afrika-Amerika di perkebunannya itu. Ia tidak segan menggunakan kekerasan terhadap budak-budaknya, jika sang budak tidak mampu menuai kapas dengan jumlah di atas rata-rata harian seorang budak. Epss merasa apa yang dilakukannya adalah benar, karena ia sendiri melegitimasi perbudakan dan kekejamannya dengan mengacu kepada ayat-ayat di Injil. Di perkebunan ini Northup bekerja bersama Patsey (Lupita Nyong'o) seorang budak wanita yang selalu menuai kapas jauh di atas rata-rata. Patsey pun menjadi sosok yang disayangi Epps dalam cara yang aneh. Selama 10 tahun bekerja di perkebunan milik Epps, Northup menjalani banyak siksaan. Di tahun ke-10 nya, kedatangan seorang tukang kayu Kanada bernama Bass (Brad Pitt) memberikan secercah harapan untuk Northup. Bass yang menentang perbudakan, membantu Northup untuk mengirimkan surat kepada keluarganya di New York, yang akhirnya membawa kebebasan pada Northup.
Tidak Nyaman
12 Years a Slave merupakan sajian yang memikat sejak awal hingga akhir. Akan tetapi, menyaksikan 12 Years a Slave tak pelak akan menimbulkan perasaan tidak nyaman di diri banyak penonton. McQueen yang selalu jujur dalam berkisah, menyajikan kebrutalan perbudakan yang memilukan. Hukuman-hukuman yang diberikan oleh tuan tanah kepada budaknya ditunjukkan secara gamblang. McQueen tidak menahan dirinya untuk menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi pada masa-masa kelam tersebut.
Pecutan-pecutan itu memang membuat miris dan mengerikan. Namun justru penyiksaan paling menyeramkan yang McQueen tunjukkan adalah sebuah adegan dimana Northup hampir digantung oleh mandor yang berseteru dengannya, sebelum akhirnya ia 'diselamatkan' oleh mandor yang lain. Kengerian adegan ini sangat terasa dalam sebuah long take yang ironisnya ditangkap dengan indah oleh cinematographer Sean Bobbitt. Northup berusaha untuk tetap menjejakkan kakinya, dalam keheningan yang kemudia dipecahkan oleh keramaian di belakangnya. Orang-orang yang notabene sesama budak terus beraktifitas, tertawa, dan bermain sementara Northup berusaha untuk terus menjejak di tanah yang licin dengan tali gantungan melingkar di lehernya.
Kekerasan yang ditunjukkan dalam 12 Years a Slave ini membuat banyak pihak menuding McQueen terlalu berlebihan dalam mepresentasikan filmnya. Publik Amerika serasa tertohok menyaksikan sejarah kelam bangsanya sendiri, dan bagaimana ras kulit putih negeri itu bisa bersikap barbar. Banyak yang berujar, semestinya McQueen tidak perlu sebegitu gamblangnya menunjukkan hal-hal tersebut. Namun tentunya, jika kebrutalan itu tidak ditunjukkan, maka 12 Years a Slave hanya memiliki separuh dari kekuatannya. Kebrutalan itulah yang membuat film ini bersuara lantang dan menjadi sebuah pembuka mata bagi publik, terutama publik Amerika Serikat tentang tangan-tangan yang sesungguhnya membangun negeri tersebut.
Kemampuan film ini untuk bersuara tentunya tidak datang dari tangan McQueen sendiri. Kredit juga harus ditujukan kepada John Ridley, sang penulis naskah, yang mengadaptasi memoir Northup dengan baik. Akan tetapi yang sangat menonjol dari film ini adalah akting jajaran pelakonnya yang luar biasa. Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, dan Lupita Nyong'o memang pantas mendapatkan kredit yang banyak diberikan atas akting mereka di film ini. Bahkan aktor yang tampil sekejap seperti Paul Giamatti, Benedict Cumberbatch, dan Brad Pitt pun memberikan yang terbaik saat kamera mulai merekam. Namun, saya sendiri sangat kagum dengan penampilan Sarah Paulson sebagai Mistress Epps. Penampilan Mistress Epps yang dingin, terkakulasi namun kejam terasa sangat hidup di tangannya. Paulson berhasil menampilkan sosok Mistress Epps sebagai sebuah perairan dalam yang tenang, yang berubah menjadi mematikan tanpa peringatan.
Kredit lain patut diberikan kepada Sean Bobbitt, sinematografer yang selalu menjadi kolaborator McQueen. Bobbitt melalui bidikan lensanya berhasil menyuguhkan ironi yang kuat ke dalam film ini. Ia menghasilkan banyak gambar-gambar lansekap yang indah yang kontras dengan siksaan yang dialami para budak; serta gambar-gambar close up yang mampu bertutur tanpa kata dengan sendirinya. Beberapa scene yang Bobbitt tangkap mengingatkan pada keindahan sinematografi yang pernah disajikan oleh Emmanuel Lubezki dalam The New World dan The Tree of Life.
Tidak Kompleks
12 Years a Slave merupakan feature film ke-3 dari Steve McQueen. McQueen sendiri sesungguhnya sudah malang melintang di dunia penyutradaraan sejak tahun 1993 melalui banyak film pendek. Tahun 2008, ia menyentak dunia perfilman dengan menghadirkan Hunger, sebuah kisah nyata mengenai Bobby Sands, aktifis IRA yang melakukan mogok makan. Namun Shame-lah (2011) yang membuat namanya melambung. 12 Years a Slave merupakan filmnya yang paling besar dari segi tema, cast, dan produksi. Dan karena besarnya skala film ini, 12 Years a Slave terasa kurang menghadirkan kompleksitas yang McQueen pernah hadirkan di dua karya sebelumnya. 12 Years a Slave memang terfokus pada kisah Solomon Northup, namun tema, serta karakter-karakter yang mengelilinginya seolah tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat lebih jauh penderitaan Northup. Terlebih film ini adalah sebuah film yang straight-forward dalam menyampaikan pesannya. Tidak ada lapisan-lapisan jiwa yang kompleks yang McQueen kupas di sini layaknya kisah Bobby Sands di Hunger atau Brandon Sulivan di Shame. Sesuatu yang menjadi kekuatannya.
Lalu, apakah 12 Years a Slave merupakan sebuah kemunduran bagi McQueen? Tidak. Ini jauh dari itu. 12 Years a Slave justru merupakan bukti bahwa McQueen mampu menangani sebuah film dengan skala yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Melalui film ini, McQueen tetap berhasil menyajikan sesuatu yang depresif sekaligus kontemplatif, tanpa harus menyertakan nuansa klaustrofobia di dalamnya layaknya Hunger dan Shame. Suatu bukti, bahwa ia mampu menangani berbagai macam tema baik skala kecil maupun besar, dan tetap mengedepankan sebuah kejujuran dalam tuturnya.





