Killers : Kisah Dua Pembunuh Beda Negara

by Joedi Dance

Killers : Kisah Dua Pembunuh Beda Negara
EDITOR'S RATING    

Tayang perdana di Sundance Film Festival 2014, film yang disutradarai oleh Mo Brothers, sineas-sineas muda berbakat yang sudah berhasil membawa genre psychopath-thriller dan gore/slasher ke dalam rasa lokal Indonesia, ini tentu menjadi sangat ditunggu-tunggu. Berminat menontonnya? Baca dulu ulasan editor kami!

Melihat ke belakang, nama Mo Brothers (Timo Tjahjadi & Kimo Stamboel) menjadi sebuah jaminan ketika di tahun 2009 Rumah Dara dirilis. Bayangkan, disaat film-film bergenre horor-porno sedang sangat laris, tiba-tiba ada sebuah film bergenre gore slasher yang cukup menguji ketahanan nyali dan isi perut. Bagaikan oase coca cola di tengah gurun Sahara. Menyegarkan.

Lalu kemudian, setelah membuat beberapa proyek seperti segmen di "VHS 2" dan "L for Libido" di ABC's of Death, Mo Brothers kembali dengan sebuah film bergenre psychopath thriller dengan premis yang sangat menjanjikan : Killers. Ini, tentu kembali menjadi penyegar dahaga bagi jiwa-jiwa yang haus akan genre pembunuh sinting di Indonesia.
 
Di Jepang, ada Nomura (Kitamura), seorang psikopat tampan yang gemar merekam semua aksinya lalu diupload ke dunia maya. Agak-agak kinky bin sakit jiwa memang, namanya juga psikopat. Caranya pun macam-macam, mulai dari menggetok kepalanya dengan palu, baseball bat, kapak, atau apapun yang ia mau. Videonya menyebar bagaikan spora di musim hujan, dan salah satu penontonnya adalah seorang wartawan Indonesia, Bayu (Antara). Dengan kehidupannya yang sedang hancur antara karir dan keluarganya, Bayu kemudian meniru apa yang dilakukan oleh Nomura : menyebarluaskan pembunuhan yang ia lakukan di internet. Antara sang master dan peniru,ini pun kemudian bertemu melalui dunia maya. Akankah keduanya saling bersinggungan di dunia nyata?

Satu hal buat pecinta genre ini, kalian akan menemukan banyak referensi adegan dari film-film bergenre psikopat atau film kekerasan lainnya. Saat melihat tokoh Nomura, tidak bisa tidak teringat akan Patrick Bateman di American Psycho (2000). Sama-sama tampan dan kaya, namun kosong dan mengerikan di dalam. Dan dengan referensi lain seperti Hannibal Lecter, Dexter, Peeping Tom, American Psycho X, sampai Modus Anomali sebagai sebuah homage, membuat saya mengangguk- angguk senang.

Hal ini kemudian membawa tingkat apresiasi yang lebih kepada Kitamura, aktor Jepang yang dengan sangat brilliant memberikan nyawa pada tokoh Nomura. Caranya tersenyum, berjalan, dan bahkan tatapan matanya, membawa film ini ke level yang berbeda. Terlihat elegan namun mematikan, ia tak ubahnya sebuah mesin pembunuh dalam balutan fisik ala cowok boyband kpop : badan tinggi semampai, wajah tampan, dan poni belah samping yang oke buat dikibaskan.

Sayangnya, apa yang sudah baik di paruh pertama film mulai mengalami degradasi ke arah pertengahan sampai akhir. Karakter Bayu yang diperankan oleh Oka Antara sayangnya tidak dapat mengimbangi kharisma Kitamura. Sementara bagian Nomura menarik semua perhatian penonton, bagian Bayu tidak sekuat itu. Walaupun memiliki trigger yang cukup menarik untuk menyaingi Nomura, karakter Bayu tidak dieksekusi secara matang baik dari segi skenario maupun dieksplor secara baik oleh Oka Antara. DImana premisnya seharusnya adalah pertarungan antara dua psikopat keji, karakter Nomura berdigdaya sementara Bayu harus bertatih-tatih dalam membangun kepercayaan penonton.

Pendekatan homage kepada berbagai macam film bergenre sama juga memiliki pro dan kontranya sendiri. Apa yang membuat Hannibal Lecter, Norman Bates, dan karakter fiksi lainnya tetap bertahan hingga sekarang, adalah sebuah ciri khas dan orisinalitas. Homage sebagai penghormatan kepada karakter-karakter ini membuat Nomura di satu sisi super mengerikan, namun sayangnya tidak memiliki sesuatu yang akan membuat kita akan selalu mengingatnya. Lihat saja karakter Dara, dari film Mo Brothers sebelumnya, masih sanggup untuk membuat bulu kuduk meremang.
 

Di sisi lain, film Killers terkesan terlalu penuh, bagaikan dua hal yang begitu jauh berbeda dijejalkan ke dalam satu buah wadah yang sama. Berdesak-desakan mencari tempat, berusaha mencari korelasi antara satu sama lain. Seandainya saja Killers dipecah menjadi sebuah dwilogi yang berbeda, dimana film pertama membangun set up character terlebih dahulu, mengeksplor kegilaan Nomura dan keruwetan hidup Bayu sehingga believable,  lalu kemudian mempertemukan mereka berdua di film kedua. Sehingga layer-layer cerita yang ada jadi lebh enak untuk disantap.

Dengan begitu banyaknya muatan kematian, Timo Brothers seolah ingin membuat pernyataan yang begitu sinis dalam memandang kehidupan itu sendiri. Bahwa kematian jauh lebih bak dibandingkan dengan kehidupan yang penuh dengan keruwetan. Nomura mewakili kematian sedangkan Bayu mewakili semangat kehidupan, yang sayangnya menjadi terlalu ruwet dan penuh untuk disajikan ke dalam sebuah film yang sama. Namun, dengan besarnya rasa antusiasme yang tumbuh plus telah tayang perdana di Sundance Film Festival, film ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Artikel Terkait