Tayang perdana di Sundance Film Festival 2014, film yang disutradarai oleh Mo Brothers, sineas-sineas muda berbakat yang sudah berhasil membawa genre psychopath-thriller dan gore/slasher ke dalam rasa lokal Indonesia, ini tentu menjadi sangat ditunggu-tunggu. Berminat menontonnya? Baca dulu ulasan editor kami!

Melihat ke belakang, nama Mo Brothers (Timo Tjahjadi & Kimo Stamboel) menjadi sebuah jaminan ketika di tahun 2009 Rumah Dara dirilis. Bayangkan, disaat film-film bergenre horor-porno sedang sangat laris, tiba-tiba ada sebuah film bergenre gore slasher yang cukup menguji ketahanan nyali dan isi perut. Bagaikan oase coca cola di tengah gurun Sahara. Menyegarkan.

Satu hal buat pecinta genre ini, kalian akan menemukan banyak referensi adegan dari film-film bergenre psikopat atau film kekerasan lainnya. Saat melihat tokoh Nomura, tidak bisa tidak teringat akan Patrick Bateman di American Psycho (2000). Sama-sama tampan dan kaya, namun kosong dan mengerikan di dalam. Dan dengan referensi lain seperti Hannibal Lecter, Dexter, Peeping Tom, American Psycho X, sampai Modus Anomali sebagai sebuah homage, membuat saya mengangguk- angguk senang.
Sayangnya, apa yang sudah baik di paruh pertama film mulai mengalami degradasi ke arah pertengahan sampai akhir. Karakter Bayu yang diperankan oleh Oka Antara sayangnya tidak dapat mengimbangi kharisma Kitamura. Sementara bagian Nomura menarik semua perhatian penonton, bagian Bayu tidak sekuat itu. Walaupun memiliki trigger yang cukup menarik untuk menyaingi Nomura, karakter Bayu tidak dieksekusi secara matang baik dari segi skenario maupun dieksplor secara baik oleh Oka Antara. DImana premisnya seharusnya adalah pertarungan antara dua psikopat keji, karakter Nomura berdigdaya sementara Bayu harus bertatih-tatih dalam membangun kepercayaan penonton.

Di sisi lain, film Killers terkesan terlalu penuh, bagaikan dua hal yang begitu jauh berbeda dijejalkan ke dalam satu buah wadah yang sama. Berdesak-desakan mencari tempat, berusaha mencari korelasi antara satu sama lain. Seandainya saja Killers dipecah menjadi sebuah dwilogi yang berbeda, dimana film pertama membangun set up character terlebih dahulu, mengeksplor kegilaan Nomura dan keruwetan hidup Bayu sehingga believable, lalu kemudian mempertemukan mereka berdua di film kedua. Sehingga layer-layer cerita yang ada jadi lebh enak untuk disantap.
Dengan begitu banyaknya muatan kematian, Timo Brothers seolah ingin membuat pernyataan yang begitu sinis dalam memandang kehidupan itu sendiri. Bahwa kematian jauh lebih bak dibandingkan dengan kehidupan yang penuh dengan keruwetan. Nomura mewakili kematian sedangkan Bayu mewakili semangat kehidupan, yang sayangnya menjadi terlalu ruwet dan penuh untuk disajikan ke dalam sebuah film yang sama. Namun, dengan besarnya rasa antusiasme yang tumbuh plus telah tayang perdana di Sundance Film Festival, film ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja.
