Sebuah film tentang ketamakan yang dipenuhi kegilaan, alkohol, obat-obatan, dan seks berdasarkan memoir karya Jordan Belfort. Apa kata editor kami untuk film terbaru Martin Scorsese ini?

Sutradara : Martin Scorsese
Penulis Naskah : Terrence Winter, Jordan Belfort (buku)
Pemeran : Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Kyle Chandler, Matthew McConaughey
Ketamakan dan keserakahan memang tidak akan ada habisnya. Dan oleh karenanya, kisah tentang ketamakan dan keserakahan pun seolah tidak akan pernah kehabisan sudut pandang untuk diceritakan. Kita pernah mendapati berbagai kisah ketamakan dan Wall Street dari berbagai sudut pandang dan penceritaan dalam berbagai film, baik feature film ataupun dokumenter. Sebut saja salah satu masterpiece Oliver Stone, Wall Street (dan sequelnya yang jauh dari kata masterpiece, Wall Street: Money Never Sleeps), Margin Call karya J. C. Chandor, Too Big To Fail karya Curtis Hanson, dokumenter Inside Job karya Charles Ferguson, dan Capitalism: A Love Story dari Michael Moore. Kesemuanya memiliki kisah dan sudut pandang yang berbeda, namun satu hal mengikat mereka semua: Ketamakan.
Ketamakan memang dapat dikisahkan dengan berbagai cara, bahkan dengan cara yang paling bombastis sekalipun. Dan hal itulah yang dilakukan oleh Martin Scorsese di film terbarunya, The wolf of Wall Street. Bombastis, gila, dan over-the-top adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Namun, justru inilah yang membuat The Wolf of Wall Street menjadi sebuah film yang menarik, memikat, dan terasa relevan dengan kondisi ekonomi dunia, khususnya Amerika Serikat, beberapa tahun terakhir.

The Wolf of Wall Street merupakan adaptasi memoir berjudul sama karya Jordan Belfort. pada tahun 1987, Belfort (Leonardo DiCaprio) merupakan pialang saham muda di Wall Street yang baru memulai karirnya. Naif, pecinta istri, melihat dunia secara hitam-putih, dan belum terkorupsi oleh ide-ide kotor. Namun sebuah makan siang merubah itu semua, dimana bos barunya, Michael Hanna (Matthew McConaughey), 'mengajarkan' sisi gelap dari kehidupan pialang saham di Wall Street, mulai dari meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan uang klien, sex, minuman keras, dan obat-obatan. Belfort pun akhirnya melihat dunia dengan persepktif baru: Ladang uang. Namun, tepat di hari pertama Belfort bekerja sebagai pialang saham berlisensi, Black Monday terjadi. Sebuah krisis finansial terbesar di Amerika pasca masa The Great Depression di tahun 1929-1930an. Belfort pun kehilangan pekerjaannya. Namun tak lama ia mendapatkan pekerjaan pada sebuah firma kecil yang menjual penny stocks, atau saham-saham dari usaha-usaha kecil, dimana harga sahamnya hanya terhitung beberapa sen. Namun komisi di dunia saham kelas 2 ini justru lebih besar dibandingkan Wall Street, yaitu 50%. Belfort yang memang seorang penjual ulung, dengan mudah mendapatkan komisi dari penjualan-penjualan saham yang dilakukannya. Dan layaknya seorang pialang Wall Street sejati, ia menjual dengan cara berbohong kepada klien-kliennya.

Pertemuan Belfort dengan tetangganya, Donnie Azoff (Jonah Hill) membuat Belfort memberanikan diri untuk membuka firma penjualan penny stocks-nya sendiri yang ia beri nama Stratton Oakmont. Tim yang ia miliki pun bukanlah tim yang berisi orang-orang lulusan Ivy League. Namun mereka adalah penjual yang hebat. Dan atas hasil kerja keras Belfort dan tim-nya inilah firma ini terus berkembang, dan menjadikan Belfort kaya raya. Uang bagi Belfort bukanlah sesuatu yang berharga. Ia bisa mendapatkannya dalam sekejap. Dan dengan uang yang berimpah itu, ia terapkan ajaran mantan bosnya, Michael Hanna, tentang obat-obatan, alkohol, dan sex. Belfort adalah sosok yang tak terkalahkan dan bisa memiliki segalanya. Belfort pada akhirnya dikenal oleh sebagai The Wolf of Wall Street; julukan yang diberikan oleh majalah Forbes kepadanya. Artikel di majalah Forbes tersebut juga membawa banyak pialang saham muda yang mata duitan berusaha diterima bekerja di Stratton Oakmont. Pada akhirnya, firma yang dimulai di sebuah bengkel tua, berkembang menjadi firma besar di gedung pencakar langit dengan ratusan pialang. Belfort memiliki segalanya. Namun pernikahannya dengan Teresa (Cristin Milioti) akhirnya hancur akibat perselingkuhan Belfort dengan Naomi Lapaglia (Margot Robbie) yang pada akhirnya Belfort nikahi. Dan, walau memiliki nama firma yang terhormat dengan kantor yang mentereng, pada dasarnya, apa yang Belfort lakukan merupakan penipuan a la skema Ponzi. Dimana seseorang menginvestasikan uang untuk sesuatu yang nilainya sangat rendah, atau mungkin tidak berwujud sama sekali, demi keuntungan si firma semata. Hal inilah yang diendus oleh seorang agen FBI ulet Patrick Denham (Kyle Chandler). Denham berusaha sangat keras untuk menjerat Belfort atas penipuan-penipuan yang dilakukannya. sesuatu yang sulit. Karena di atas kertas, apa yang Belfort lakukan terlihat legal. Namun pada akhirnya, ketamakan jua lah yang menjatuhkan Belfort dan rekan-rekannya.
Sinopsis yang panjang? Ya, memang. Karena The Wolf of Wall Street merupakan sebuah kisah hidup yang panjang. Filmnya sendiri berdurasi 179 menit (di Indonesia berdurasi 164 menit karena guntingan sensor) dan secara lengkap mengisahkan bagaimana Belfort membangun kerajaannya dari nol. Terrence Winter dan Scorsese, yang kembali bekerjasama setelah Boardwalk Empire, menceritakan secara runut transformasi seorang Jordan Belfort dari kenaifan menuju ketamakan. Keduanya mengisahkan kisah ini dengan cara yang luar biasa gila. Kegilaan ini memang dilakukan dan dialami Jordan Belfort dulu di dunia nyata. Namun di tangan yang salah, kisah Belfort bisa jatuh menjadi film yang liar tak terkendali, bukan kegilaan yang memikat. Dan bisa saja seseorang mengadaptasi kisah ini menjadi sebuah drama, dimana hal tersebut sebuah kesalahan besar. Untunglah Scorsese dan Winter mampu menangkap kegilaan kehidupan Belfort dengan tepat dan menyajikannya dengan gaya yang sama gilanya, satiris, dan penuh humor-humor gelap. Inilah yang membuat durasi hampir 3 jam tersebut terasa sebagai sebuah pengalaman yang memikat dan sulit untuk ditinggalkan.

Kepiawaian Scorsese mengisahkan naskah Winter ini juga didukung oleh editing yang sangat rapi oleh kolaborator reguler Scorsese, Thelma Schoonmaker. Schoonmaker, yang lebih dari 40 tahun telah bekerjasama dengan Scorsese, secara mulus menyatukan adegan demi adegan sehingga The Wolf of Wall Street menjadi sebuah satu karya yang kohesif. Flashback, perpindahan antara satu adegan yang kadang terjadi secara cepat; semuanya terasa seamless dan mengalir lancar. AMPAS melakukan kesalahan besar dengan tidak menominasikan Schoonmaker sebagai Editor Terbaik di ajang Oscar tahun ini. Lalu ada juga camerawork dari Rodrigo Pietro yang sangat-sangat dinamis. Pietro secara cakap menggunakan kameranya menangkap semua euphoria Belfort dan membawa kita masuk ke dalam filmnya. Entah mengapa, beberapa scene dimana kamera menyapu satu ruangan penuh pialang saham yang menggila terasa sangat luar biasa. Belum lagi saat kamera mengikuti pergerakan Belfort di ruang yang sama. Pietro pun menggunakan berbagai macam lensa yang berbeda untuk menunjukkan kondisi fisik dan mental Belfort. karena itulah kita seperti 'tertarik' ke dalam kondisi pikiran Belfort. Kedua orang ini, Schoonmaker dan Pietro, memahami betul apa yang Scorsese mau. Dan keduanya menangkap spirit film ini dengan sangat baik sekali.
Akan tetapi, semua kegilaan diri Belfort yang ingin Scorsese sajikan tidak akan berhasil tanpa aktor yang tepat. Masuklah Leonardo DiCaprio. DiCaprio yang selama ini dikenal sebagai aktor drama melepas kontrol dirinya di sini, dimana peran Jordan Belfort adalah anti-tesis atas semua peran yang pernah ia lakoni. Tahun lalu ia memang berubah menjadi tuan tanah bengis di Django Unchained. Namun Belfort adalah liga yang berbeda. Teritori baru bagi DiCaprio, dimana ia harus memiliki comic-timing yang pas bagi elemen dark comedy di film ini dan ia melakukannya dengan sangat baik. Sebuah penampilan yang wajar mendapatkan nominasi Oscar. Chemistry-nya dengan Jonah Hill pun terasa padu, terlebih pada satu adegan di dapur rumah Belfort, dimana karakter Belfort berusaha menangkap mengejar Azoff dengan susah payah saat keduanya teler oleh obat-obatan kadaluarsa.

Namun, bagi saya, selalu ada yang off dari diri DiCaprio. Ia memang telah berkembang menjadi aktor bagus, terlebih setelah berulang kali bekerjasama dengan Scorsese. Akan tetapi, ada yang "off" dari akting-aktingnya. Seolah ia sudah berusaha keras, namun pada akhirnya ia hanya akan mencapai taraf 'hampir'. Dan, semoga saya salah, ia sepertinya ditakdirkan dalam waktu lama untuk sekedar menjadi nominator di ajang Oscar karena faktor 'hampir'-nya tersebut. Selain itu, ada faktor teen heart-throb yang susah dihilangkan dari dirinya. Sehingga sedewasa apapun karakternya tersebut akan timbul kesan ketidakpercayaan dari penonton.
Lalu bagaimana dengan Hill, yang juga dinominasikan di Oscar tahun ini? Hill memang tampil bagus di sini. Namun apakah nominasi Oscar itu pantas diberikan untuknya? Saya rasa tidak. Hill memang bagus, namun peran Adoff tampaknya memang peran tipikal Hill. Kita pernah melihat akting Hill yang seperti ini, hanya saja di film ini, ia memerankannya dengan lebih baik. Jika ada aktor yang saya rasa pantas mendapatkan nominasi SUpporting Actor dari film ini, justru Matthew McConaughey-lah yang pantas mendapatkannya. Dengan screen time yang luar biasa sedikit dibandingkan durasi filmnya, McConaughey justru meninggalkan impresi yang dalam sejak detik pertama penampilannya. Adegan makan siang bersama Belfort, dimana ia bersenandung pun mampu memancing tawa tanpa ia perlu berusaha terlalu keras. Entah, apakah memang Paramount tidak memasukkan nama McCOnaughey atau AMPAS sendiri yang tidak melihat aktingnya. namun bukan tidak mungkin jika McConaughey mendapatkan dua nominasi Oscar di kategori Best Actor dan Supporting Actor.

Jordan Belfort di dunia nyata menyatakan, bahwa ketamakan yang pernah menguasai dirinya terinspirasi dari karakter Gordon Gekko di film Wall Street. Dan seperti dapat kita saksikan di filmnya, Belfort tampaknya benar-benar mengambil secara gamblang kata-kata Gekko, greed is good. Dimana keserakahan menguasai dirinya, karena ia yakini bahwa itu hal yang bagus. The Wolf of Wall Street adalah sebuah opera ketamakan yang harus ditunjukkan dengan cara yang gila, karena uang sendiri akan membuat manusia-manusia menjadi gila. Film ini adalah gambaran ekses ketamakan pada diri manusia yang semula mendewakan uang, menganggapnya sebagai teman. Namun sayangnya uang sendiri mengkhianati Belfort pada akhirnya, layaknya rekan-rekan Belfort mengkhianatinya, dan Belfort mengkhianati rekan-rekannya. Karena layaknya orang-orang di Wall Street, uang tidak butuh teman selain ketamakan itu sendiri.