Catching Fire melanjutkan kisah setelah The Hunger Games, ketika Katniss Everdeen kembali ke Distrik 12 bersama dengan Peeta Mellark.
Director : Francis Lawrence
Screenplay : Simon Beaufoy and Michael Arndt based on novel Catching Fire by Suzzane Collins
Cast : Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Lenny Kravitz, Phillip Seymour Hoffman, Stanley Tucci, Donald Sutherland

Sejak era Twilight Saga berakhir, ada begitu banyak upaya untuk mengangkat karya literatur young adult lain ke layar lebar. Salah satunya adalah The Hunger Games, sebuah trilogy karya Suzzane Collins yang berkisah mengenai seorang gadis yang memulai sebuah revolusi. Film pertamanya di tahun 2012, The Hunger Games, walau tidak membuat fenomena seheboh Twilight Saga kemarin, tapi secara kualitas jauh lebih disukai. Sudah tentu produksi sekuel pertamanya, Catching Fire berjalan dengan mulus.
Catching Fire melanjutkan kisah setelah The Hunger Games ketika Katniss Everdeen (Lawrence) kembali ke Distrik 12 bersama dengan Peeta Mellark (Hutcherson) sebagai pasangan pemenang yang di mabuk cinta agar tetap bertahan hidup, namun itu malah membuat hubungannya dengan sahabatnya, Gale (Hemsworth) memburuk. Namun Presiden Snow (Sutherland) tidak dapat dibohongi dengan sandiwara Katniss – Peeta dan mengancam akan membunuh keluarga mereka dengan semakin meningkatnya angka pemberontakan di berbagai distrik yang dipicu dengan aksi Katniss dalam The Hunger Games.
Bersama dengan Kepala Perencaan Permainan yang baru, Plutarch Heavensbee (Seymour Hoffman) kemudian Presiden Snow merencanakan Quarter Quell, ajang setiap 25 tahun sekali dimana seluruh pemenang The Hunger Games kembali diadu untuk mencari satu pemenang. Kini, Katniss dan Peeta harus kembali ke dalam mimpi buruk mereka dalam permainan saling membunuh ini, bertemu dengan pembunuh-pembunuh terlatih dari berbagai Distrik seperti Finnick Odair (Claflin), Johanna Mason (Malone), dan Beetee (Wright) untuk satu misi : bertahan hidup.

Francis Lawrence melanjutkan tongkat estafet dari Gary Ross yang sebelumnya menjadi sutradara The Hunger Games. Sutradara berkebangsaan Austria ini sebelumnya sudah lebih dulu dikenal dalam I Am Legend (2007) dan Water For Elephant (2011). Lawrence kembali melanjutkan gaya Ross dalam mengkombinasikan gaya visualisasi dengan teknik kamera shaky untuk kesan survival yang kuat di dalam arena pertarungan. Pun, Lawrence berhasil memperlihatkan kemegahan Capitol yang indah dan berwarna-warni, namun sekaligus terlihat kosong. Lawrence membuka film dengan tempo yang relatif tenang untuk kemudian perlahan dibangun dan membuat penonton merasa mencekam dan terbawa ke dalam alur kisah. Baiknya lagi, untuk paruh akhir kemudian Lawrence mengakhirinya dengan mencekam dan klimaks sebagai penutup sekaligus awal yang baik untuk Mockingjay Part 1 nantinya.
Poin terbesar yang harus diacungi jempol ada pada sisi naskah yang ditulis dari duet penulis naskah Simon Beaufoy (127 Hours dan Slumdog Millionaire) dan Michael Arndt (Toy Story 3) dalam menterjemahkan halaman per halaman dari novelnya sendiri. Catchign Fire berisi begitu banyak isu sosial yang relevan, bersama dengan permasalahan politik dan ekonomi yang diangkat, padat berisi berpadu dengan kisahnya sendiri. Besar kemungkinan penerjemahan dari novel ke naskah ini jadi keteteran di banyak tempat namun duet Beaufoy – Arndt berhasil dengan baik. Dengan setia mereka mengikuti jalan cerita novelnya, mengubah beberapa hal tanpa menjadikannya plot hole, dan berhasil memperkenalkan karakter-karakter baru tanpa harus mengkorbankan kontinuitas dan alur dari kisahnya sendiri.
Ini kemudian diperkuat dengan sinematografi yang indah memukau dari Jo Willems, menampilkan kontras dari kaum penduduk Capitol yang sangat kaya raya dan melimpah ruah, berkebalikan dari kehidupan di Distrik 12 yang begitu kelabu dan kekurangan, sebuah kritik sosial halus bagi kehidupan sehari-hari yang terasa begitu relevan. Begitu juga dengan suasana di dalam arena pertarungan, tambahkan dengan kualitas audio sekelas Dolby Atmos, membuat penonton bisa merasakan apa yang mereka dengar.

Satu hal positif lain yang ingin saya coba sorot adalah peran besar Trish Summerville yang bertanggung jawab pada desain kostum di film ini, terutama untuk kostum berwarna-warni para penduduk Capitol yang penuh imajinasi menampilkan image yang berlebihan, dan terutama dari gaun-gaun yang dikenakan Katniss sendiri. Dan Indonesia patut berbangga karena gaun pengantin rancangan salah satu putra terbaik kita, Tex Saverio muncul dikenakan sang tokoh utama di salah satu adegan film.
And yes, Katniss Everdeen is the one who stand in a fire! Dan diperkuat dengan performa bintang lainnya. Jennifer Lawrence kembali menghidupkan sosok Katniss dengan sangat baik. Setiap ekspresi baik itu dari gestur hingga ke mimik wajah berhasil diperlihatkan, memperlihatkan sosok Katnis yang terlihat sangat tangguh dan rebelious di luar namun sangat rapuh di dalam.
Performa Jennifer juga diperkuat dengan dukungan pemain lain yang bermain gemilang seperti Phillip Seymour Hoffman dengan wibawa mengerikan yang mengimbangi Donald Sutherland. Lalu Lenny Kravitz sebagai Cinna dan Woody Harrelsons sebagai Haymitch yang berperan sebagai mentor yang menenangkan. Begitu juga dengan Elizabeth Banks sebagai berhasil menggambarkan sosok Effie yang too much namun bisa memberikan sedikit sentuhan manusiawi yang semakin menghidupkan karakternya itu sendiri. Karakter baru seperti Finnick dan terutama Jena Malone yang mencuri perhatian dengan karakter Johanna pun pantang dilewatkan. Yang agak disayangkan justru adalah Hutcherson dan Hemsworth yang terlihat datar-datar saja jika dibandingkan dengan yang lain.
Secara keseluruhan, walau berbalut kisah mengenai survival dan asmara, Catching Fire merupakan sebuah film yang dilengkapi dengan banyak kritik halus dalam tatanan hidup bermasyrakat dunia secara umum. Dibandingkan dengan film pertamanya sendiri, Catching Fire tampil lebih baik dan rapi, dan berhasil memvisualisasikan setiap lembaran novelnya, menjadikannya sebagai salah satu film adaptasi novel terbaik yang pernah saya tonton.