Meski menghadirkan Chloe Moretz sebagai bintang utamanya, remake ini belum menyamai pendahulunya. Sisi mana yang lemah dalam karya penyutradaraan Kimberley Pearce ini?

Meski tidak selalu menuai sukses, tapi beberapa kisah adaptasi novel Stephen King di layar lebar bisa dikatakan cukup legendaris. Beberapa di antaranya adalah The Shining, Misery, dan Carrie. Judul yang terakhir ini sendiri bisa dikatakan merupakan salah satu horor remaja fenomenal yang tidak menyorot kisah mengenai hantu, tapi gadis berkemampuan supranatural. Kini, di tahun 2013, film klasik ini di-remake oleh Kimberley Pearce yang sukses mengantarkan Hillary Swank meraih Oscar dalam Boys Don't Cry. Sebagai pemeran utama, didapuk Chloë Grace Moretz sebagai Carrie yang sebelumnya dimainkan oleh Sissy Spacek dan Julianne Moore sebagai Margareth, ibunda Carrie yang dulu diperankan oleh Piper Laurie.
Carrie adalah seorang gadis pendiam dan berpenampilan lusuh yang tinggal berdua dengan sang ibu, Margareth. Dibesarkan secara religius dan dengan cara kolot membuat Carrie hidup terkungkung sehingga beberapa hal tidak ia ketahui, seperti menstruasi yang umum didapat para gadis remaja. Panik dan mengira bahwa dirinya akan mati dikarenakan darah yang keluar pada saat ia sedang mandi setelah olahraga membuat Carrie menjadi bulan-bulanan teman sekolahnya. Mereka melemparinya dengan tampon, bahkan Chris Hargensen (Portia Doubleday) merekam kejadian tersebut. Untunglah, tidak semua teman sekolahnya berpikiran sepicik Chris, salah satunya adalah Sue Snell (Gabriella Wilde) yang diam-diam merasa bersalah. Untuk menebus kesalahannya itu, ia meminta kekasihnya Tommy Ross (Ansel Elgort) untuk mengajak Carrie ke pesta prom. Niat baik Sue, sayangnya mendapat tentangan keras dari Chris. Tidak hanya itu, video Carrie yang Chris unggah pun menyebabkannya diskors dan dilarang ikut prom. Kebenciannya terhadap Carrie pun semakin menjadi-jadi. Untuk membalas dendam, iapun memutuskan mempermalukan Carrie di saat pesta prom tanpa tahu bahwa semua itu harus dibayar dengan nyawanya dan sebagian teman sekolahnya.

Meski menggunakan aktris muda yang sedang naik daun, sayangnya apa yang dihadirkan Pearce dalam Carrie masih jauh untuk menyamai atau mungkin melebihi versi tahun 1976. Beberapa adegan monumental yang diambil terasa tidak cocok diterapkan untuk masa sekarang. Ambil contoh, adegan Carrie yang panik karena melihat darah menstruasinya sendiri. Agak mengherankan memang bahwa Carrie bisa tidak tahu mengenai siklus bulanan tersebut mengingat setting yang digunakan adalah masa modern. Meski kemudian digambarkan bahwa sang ibu tidak pernah memberitahunya, tapi rasanya pendidikan seks di Amerika kemungkinan sudah memperkenalkan hal tersebut. Adegan ini sendiri memang bisa dikatakan legendaris sehingga kalau dihilangkan bisa jadi akan menimbulkan protes dari banyak penonton yang pernah menyaksikan Carrie versi Brian de Palma.
Untuk yang sudah menyaksikan versi tahun 1976-nya, jangan harap ada twist karena yang dilakukan oleh Pearce hanyalah menceritakan ulang film tersebut dengan peran dan setting yang disesuaikan dengan masa modern. Moretz sebagai ujung tombak Carrie sendiri meski berakting cemerlang, namun rasanya masih belum bisa melepaskan imej Hit Girl yang rilis beberapa bulan sebelumnya dikarenakan kesamaan setting di mana dikisahkan Hit Girl juga sudah duduk di bangku SMA. Rasanya aneh hanya berselang beberapa bulan menyaksikan Moretz dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Tidak hanya itu, meski dibuat lusuh, berantakan, dan kebanyakan menggunakan dress panjang, Moretz tetap memancarkan keimutannya. Acungan jempol mungkin lebih tepat diarahkan pada Julianne Moore yang berhasil tampil menyeramkan dengan rambut awut-awutan dan tingkat fanatisme yang menyeramkan dengan cara suka menyakiti diri sendiri bila sudah berhubungan dengan dosa. Begitu juga dengan Portia Doubleday yang sukses menyajikan Chris yang terlihat menyebalkan dan kejam.

Sayang, Pearce tidak terlihat berusaha menyajikan sesuatu yang baru karena terasa kurang berani bereksplorasi dengan menyajikan bullying khas masa kini yang tentu saja sudah lebih jahat daripada sekadar melempar tampon. Tidak hanya itu, paruh 3/4 film pun terasa membosankan karena terasa datar. Tensi baru sedikit naik menjelang pesta prom dan mencapai klimaksnya ketika amukan Carrie membawa bencana. Yang pasti, Pearce berani menyajikan adegan penuh darah yang mengingatkan sebagian orang pada Final Destination. Tidak heran film ini dirating Dewasa oleh LSF. Tertarik untuk menontonnya?