Rupert Wyatt Didukung oleh J. J. Abrams Untuk Menyutradarai Star Trek 3

by abn


Rupert Wyatt Didukung oleh J. J. Abrams Untuk Menyutradarai Star Trek 3

Star Trek Into Darkness yang dirilis pada musim panas ini, merupakan sebuah keberhasilan secara finansial dan juga kualitas bagi J. J. Abrams. Film ini melampaui pendapatan film pertamanya, Star Trek (2009), dan meraih USD 465 juta untuk pemutaran di seluruh dunia. Prestasi ini pula yang membawa Abrams menjadi sutradara Star Wars: Episode VII. Namun ini membuat posisi sutradara Star Trek 3 menjadi tanda tanya. Apakah Abrams tetap memaksakan diri menanganinya? Atau seorang sutradara baru akan mengambil alih? Jika sutradara baru, siapakah dia?

Jawaban pertanyaan mengenai siapakah dia, mungkin akan segera terjawab. Karena, sutradara Rise of the Planet of the Apes, Rupert Wyatt, dikabarkan mendapat dukungan pribadi dari J. J. Abrams untuk menyutradarai Star Trek 3. Wyatt sendiri saat ini sedang memiliki hubungan dengan Paramount, studio yang merilis Star Trek, terkait dengan proyek remake The Gambler yang ia kerjakan bersama Mark Wahlberg. Mungkin kedekatan ini bisa memperlancar jalannya menuju kursi sutradara Star Trek 3. Kita tunggu dalam waktu dekat. Tampaknya Paramount akan mengumumkan namanya sebagai sutradara Star Trek 3.

Sementara itu, masih terkait dengan Star Trek, penulis naskah Roberto Orci baru-baru ini menghapus akun twitternya. Tindakannya ini merupakan imbas dari perilakunya yang lepas kendali dalam sebuah forum online yang menampung para Trekkies. Seperti telah disebut di bagian pertama artikel ini, Star Trek Into Darkness merupakan sebuah film yang sukses secara komersial, kritikus pun menyukainya. Namun tampaknya tidak dengan Trekkies yang berpendapat bahwa Star Trek Into Darkness merupakan film Star Trek terburuk yang pernah dibuat. Konsensus ini didapat dalam sebuah poll yang dilakukan di event konvensi Star Trek belum lama ini.

Situs TrekMovie.com pada awal bulan ini memuat sebuah artikel berjudul Star Trek is broken – Here are some ideas on how to fix it. Editorial yang ditulis oleh Joseph Dickerson tersebut rupanya memancing komentar dari Roberto Orci  selaku penulis naskah Star Trek Into Darkness.

"Saya rasa artikel di atas mencerminkan seorang anak yang melawan perkataan orang tuanya. Sulit pada awalnya untuk didengar, tapi karena aku adalah orang tua yang penyayang, aku membaca tulisan tersebut tanpa rasa marah atau dendam, tidak peduli betapa salahnya hal tersebut. Dua film Star Trek yang paling berhasil (secara finansial) dengan ulasan-ulasan yang positif bukanlah deskripsi dari film yang disebut (dalam artikel) 'rusak'. Dan jujur saja, gaya penyampaian dan sikap anda (baca: Penulis), membuat aku kesulitan untuk mendengar apa yang mungkin akan anda sampaikan di masa depan, walau disampaikan dengan sopan. Dan, aku ingin menyampaikan ini, ada alasan mengapa akulah yang menulis naskah filmnya, bukan anda"

Bam! Cukup sampai di situ? Ternyata tidak. Orci masih terus menyampaikan kegusarannya, karena seorang fans membandingkan Star Trek Into Darkness dengan Raiders of the Lost Ark dalam hal keseimbangan antara adegan aksi dengan eksplorasi ilmiahnya. Dan kali ini nada tulisan Orci jauh lebih kasar.

"STID jelas-jelas merupakan film yang memiliki komentar sosial yang lebih banyak dibandingkan Raiders. Dan aku menyatakan ini, padahal Harrison Ford adalah temanku. Kamu kehilangan kredibilitas saat kau tidak dengan tulus mencoba terhubung dengan [F WORD] PENULIS NASKAH FILM YANG BERTANYA KEPADA KAMU DENGAN TULUS. Kamu adalah bukti nyata fans yang buruk dan kasar. Jadi, seperti kata Simon Pegg: FUCK OFF"

Well said Orci, well said... Orci setelah itu semacam meminta maaf. Ia menyatakan bahwa ia mendengarkan aspirasi para fans, walau bukan berarti ia harus menuruti semua kehendak fans. Namun, ia melakukan satu kebodohan lain saat mengajukan permintaan maaf tersebut... Ia menulis "To paraphrase one of my great and beloved heroes, George W. Bush, 'we're the deciders…'"

Bummer. Setelah itu, akun Twitter Orci lenyap dari jagat maya... Entah atas kesadaran pribadi, atau permintaan beberapa pihak yang peduli. Yang pasti, kita mungkin tidak akan membaca update proyek-proyeknya melalui twitter dalam waktu dekat.

Artikel Terkait