Charles Gozali : Pria di Balik Finding Srimulat

by Joedi Dance


“Kita jualan, tapi tetap harus pakai hati!”, tegas Charles Gozali dengan penuh semangat di press conference film Finding Srimulat, Selasa, 2 April 2013 di Plaza Senayan Jakarta. Charles adalah sutradara sekaligus penulis naskah dari film Finding Srimulat yang akan dirilis secara serentak tanggal 11 April 2013. Sebagai seorang sineas, Charles mengakui ingin membuat film komersil yang berkualitas sekaligus membawa manfaat bagi penonton banyak.

Dengan sangat ramah, pria yang memulai karirnya sejak tahun 1993 ini bercerita panjang lebar mengenai ide awal dari Finding Srimulat. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya siang itu, Charles mengakui dia sempat mengalami kebuntuan ide ketika ingin membuat film setelah Demi Dewi, film terakhirnya  rilis di tahun 2009. “Saya ingin membuat film sex, tapi sineas lain sampai mendatangkan bintang porno dari luar negeri untuk main di film mereka. Saya mana bisa ngalahin?” candanya  yang  disambut dengan gelak tawa dari para wartawan.

“Saya ingat sekali, waktu itu saya dengan mengalami writer’s block, buntu sekali. Saya kemudian menonton sebuah acara bincang-bincang dengan bintang tamunya para anggota Srimulat yang sedang bereuni. Saya inget sekali dengan perkataan Bu Djujuk bahwa Srimulat kini tidak punya panggung dan wadah lagi untuk mengekspresikan diri. Saat itu, saya langsung ingin membuat film tentang Srimulat.” kenang  Charles.

Gayung pun bersambut, ide ini disetujui oleh Produser sekaligus ayahanda Charles, Hendrick. Maka Charles langsung ngebut mengerjakan naskahnya, disertai dengan riset yang mendalam mengenai Srimulat selama satu tahun bersama dengan timnya. “Saya sadar, bahwa untuk mengangkat budaya asli Indonesia tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Kami sangat bangga mempersembahkan film yang berkualitas,” kata sutradara film Rasa dan Demi Dewi ini.

“Saya sampai berganti naskah sampai enam kali. Mungkin pendekatan saya yang salah, karena pada awalnya saya benar-benar berpikir keras dalam menulis dialog komedi film ini. Dengan jumlah anggota Srimulat yang banyak, dan dengan cirri khas dan keunikan masing-masing, saya menulis sembari menyesuaikan dengan keunikan mereka. Sampai di suatu titik saya sadar, bahwa letak kelucuan Srimulat ada pada spontanitasnya, tidak mungkin diatur oleh skrip. Langsung saya rombak naskah yang sudah ada, Saya hanya menuliskan garis besar cerita plus alur drama dari tokoh Adi dan  Astrid. Sisanya saya serahkan pada keahlian Srimulat dalam berimprovisasi,” kenang Charlie yang siang itu memakai kumis palsu sehingga sekilas terlihat seperti  alm. Asmuni, salah satu anggota Srimulat dengan quotenya yg terkenal  “Wassalam!”.

Dan memang pembuatannya sendiri tidak main-main, semuanya digarap secara serius dan dengan bantuan dari banyak pihak yang sama-sama ingin membangkitkan Srimulat kembali. Di bagian Art Director ada Ario Anindito, penciller untuk DC Comic, yang diakui Charles bias membuat set panggung di adegan klimaks begitu mewah dengan budget yang terbatas. Lalu ada Winky Wiryawan dan Mahesa Utara yang memixing ulang lagu karya GuruhSoekarno Putra untuk menghadirkan nuansa festive yang sesuai dengan filmnya. “Ini dilakukan karena mas  Guruh tidak punya master lagu Lenggang Puspita.”

Charles kemudian dengan begitu murah hati berkata bahwa filmnya sangat banyak kekurangan yang dirasanya mungkin mengganggu, “Mudah-mudahan dengan ketidaksempurnaan film kami, bisa didukung dengan sempurna oleh penonton Indonesia. Dan andaikan film ini sukses diterima semua kalangan, saya ingin membuat kelanjutannya, karena masih banyak hal dari Srimulat, budaya asli warisan Indonesia,” tandasnya.

Sang ayah sekaligus produser Finding Srimulat, Hendrick Gozali yang sudah 18 tahun berkecimpung dalam bidang Perfilman Nasional berpesan, “Adalah tugas kita semua, untuk mengembalikan kepercayaan  penonton untuk kembali, dan terus menonton film-film Indonesia.”

Mari, kita bersama-sama menyelamatkan Indonesia dengan tawa, mulai tanggal 11 April 2013.

Artikel Terkait