Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Ia adalah ikatan sakral yang harus terus dipertahankan hingga maut memisahkan. Namun, bagaimana jika seorang laki-laki pemarah dan ceplas-ceplos tanpa sadar menjatuhkan talak kepada istrinya lalu menyesal di kemudian hari? Bukan drama mendayu-dayu penguras air mata yang tercipta, melainkan serangkaian kejadian lucu, namun tetap mengena dengan berbagai pesan seperti yang disajikan dalam Talak 3.
Laki-laki harus berhati-hati saat menjatuhkan talak. Begitulah pesan yang ingin disampaikan Hanung Bramantyo melalui Talak 3. Banyak masyarakat Indonesia sendiri yang belum mengerti benar konsep ‘talak’ dan ‘muhalil’, untuk itu diharapkan bahwa melalui film ini, pasangan yang sudah menikah mengetahui hal ini dan lebih berhati-hati dalam berucap terutama saat emosi.
Namun, tema yang cukup berat ini sendiri tidak dikemas secara berat pula, tapi diubah menjadi drama komedi-romantis. Bukan dengan maksud untuk mempermainkan tema, melainkan Hanung dan Ismail Basbeth mencoba menyuguhkan tema berat melalui kemasan yang ringan agar mudah diterima oleh berbagai kalangan. Talak 3 rilis 4 Februari 2016.
Bagas dan Risa bercerai. Namun, masalah tidak lantas berhenti di sini. Rumah mereka terancam disita akibat kondisi ini sehingga satu-satunya cara adalah rujuk kembali. Namun, tentu saja hal tersebut tidak mudah. Agar dapat menikah kembali dengan Bagas, Risa harus menjalani muhalil atau menikahi pria lain kemudian menceraikannya. Maka, dimulailah proses pencarian calon suami untuk Risa dengan berbagai syarat yang diberikan Bagas hingga tercetus nama Bimo, teman masa kecil Risa. Namun, siapa sangka bahwa Bimo ternyata telah memendam perasaan terhadap sahabatnya tersebut sejak lama. Lantas, apa yang akan terjadi? Kepada siapa akhirnya hati Risa berlabuh?
