
Meski baru direncanakan untuk tayang di Tanah Air pada Februari 2016, namun ada juga yang beruntung dapat menyaksikan A Copy of My Mind terlebih dahulu dalam rangkaian acara Festival Film Indonesia 2015 berupa menonton lima nominasi Film Terbaik bersama para juri. Pada tanggal 16 November 2015, bertempat di XXI Plaza Indonesia, karya penyutradaraan terbaru dari Joko Anwar ini pun menjadi film pertama yang diputar. Sempat dijadwalkan hanya satu kali pemutaran, tingginya minat para penonton untuk menyaksikan film ini membuat jadwalnya ditambah sehingga diputar pada pukul 17.00 dan 21.00 dengan diseling oleh pemutaran film Teguh Karya.
Sebelum pemutarannya sendiri, diadakan press conference yang dihadiri oleh Joko Anwar, Tara Basro, Paul Agusta, Maera Panigoro, duet Rooftop Sounds, dan Uwie Balfas serta Tia Hasibuan selaku produser eksekutif. Sutradara berbadan tinggi besar yang akrab disapa Bang Joko ini sendiri menuturkan kisah pada saat proses syuting A Copy of My Mind yang mendapatkan bantuan dari salah satu perusahaan hiburan raksasa di Korea, CJ Entertainment. Dengan dana terbatas, Bang Joko dan para kru yang berjumlah 20 orang harus memutar otak agar dapat menghasilkan film yang berkualitas. Karena itu, tidak heran bila beberapa krunya pun melakukan kerja rangkap, bahkan Bang Joko pun tidak malu-malu mengakui bahwa beberapa teman membantu secara cuma-cuma untuk beberapa sisi teknis.
Untungnya, semua itu terbayar dengan sambutan meriah yang diberikan saat film ini dibawa ke berbagai festival film internasional, seperti Toronto International Film Festival dan Venice International Film Festival. Selain itu, pihak CJ Entertainment pun akan mengedarkan film ini secara worldwide sehingga mendapat kesempatan tidak hanya dapat disaksikan di Indonesia, tetapi juga mancanegara. Pujian sendiri dilayangkan untuk akting yang disajikan Tara Basro dan Chicco Jericko, begitu juga dengan latar belakang kota metropolitan Jakarta yang dihadirkan apa adanya dengan segala riuh-rendah dan hiruk-pikuk pada masa kampanye Pemilihan Umum.
Kisahnya sendiri berfokus pada sosok Sari (Basro) yang merupakan seorang pegawai di salon murah. Hobinya sendiri adalah menyaksikan berbagai film yang bertemakan monster raksasa sehingga setiap pulang kerja ia kerap kali menyambangi toko DVD bajakan. Suatu hari, Sari protes karena teks DVD yang ia beli tidak enak dibaca. Protesnya ini membawanya berkenalan dengan seorang pria yang bertugas memberi teks terjemahan untuk DVD bajakan, Alek (Jericko). Tidak butuh waktu lama, keduanya pun saling jatuh cinta. Namun, sebuah kejadian membuat keduanya harus berhubungan dengan hiruk-pikuknya dunia politik yang saat itu sedang melanda Jakarta menjelang Pemilihan Umum Presiden.
Layaknya donat yang terkadang sudah manis tanpa harus diberi gula, maka begitu pulalah film yang mendapat bantuan dana sebesar US$10,000 dari CJ Entertainment ini. Meski Bang Joko mengatakan bahwa ia tidak ingin membuat film yang “bersalut gula” alias mempercantik apa yang sebenarnya tampak buruk, film ini sudah “manis” dengan caranya sendiri. “Kemanisan” itu tertuang dari chemistry yang dihadirkan Tara dan Chicco. Lewat dialog-dialog yang membumi dan tidak terkesan dibuat-buat, para penonton diajak untuk melihat kehidupan masyarakat average Jakarta. Mereka yang posisinya mungkin terkadang kita lupa bahwa itu sebenarnya ada dan dengan segala kekumuhan ataupun kemegahan kota tercinta ini. Tidak aneh bila Bang Joko menyebut ini sebagai kapsul waktu untuk Indonesia. Sayangnya, saya tidak bisa berbicara banyak mengenai film ini dikarenakan tanggal rilisnya yang masih jauh. Namun, satu hal yang pasti, film ini merupakan salah satu film terbaik Bang Joko yang tampil sederhana, tapi cukup “manis”.

