
Sebagai salah satu film horor-thriller lokal yang cukup diantisipasi, Badoet melakukan press conference dan press screening dengan mengambil tempat di XXI Epicentrum Walk (9/11). Layar-Tancep memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mewawancarai penulis naskah Badoet, Agasyah Karim.
Di salah satu sudut XXI Epicentrum, pria yang akrab dipanggil Aga ini mulai mengisahkan pengembangan naskah Badoet. “Naskah itu mulai dikembangkan sekitar Oktober atau November tahun lalu (2014). Awi (Suryadi, sutradara Badoet) baru benar-benar nyaman dengan draft di bulan Mei 2015. Yang banyak itu draft sinopsisnya. Penulisan naskah kan tergantung pada sinopsis. Kalau sudah nyaman, baru kita masuk ke naskah. Karena sinopsis itu cerita secara mendasar. Untuk sinopsis yang semua oke, butuh sekitar dua bulanan. Total ada 7-8 draft sinopsis, sementara untuk naskahnya hanya draft ke-3."
Sempat muncul di salah satu panel acara Paranoit, kami pun menanyakan bagaimana Badoet akan disuguhkan di layar lebar. “Kita sepakat dari awal gimana caranya Badoet tidak seperti horor-horor yang sudah ada. Film baru mulai 5 menit, hantunya sudah muncul. Dan untuk mendapatkan formulanya nggak gampang. Bener kata Awi, hantu ini ketika muncul harus ada penyebab dan alasannya. Untuk itu, kami para penulis mengambil referensi dari Jaws. Durasi film 2 jam, tapi praktis hiunya muncul di 30 menit terakhir. Kita pun sama. Kasih hint dan clue sedikit-sedikit. Kita usahain grafiknya naik jadi pada saat si Badut muncul, grafik tidak akan turun. Untuk dapat formula itu, kita saling diskusi agar penampakannya ditampilkan dengan “bijak”,” ungkap pria yang sebelumnya sempat bekerja sama dengan Awi lewat Street Society ini.
Berbicara mengenai badut, tentu saja para penikmat film tidak akan lupa dengan It. Bahkan, saat premis Badoet mengemuka, film ini sudah langsung dibanding-bandingkan. Untungnya, Aga menyikapi itu dengan tenang. “Kita sih bukan khawatir, tapi lebih ke gimana caranya bisa bikin yang berbeda dari It, itu tantangannya. It itu yang paling ikonik dari film-film yang mengangkat kisah horor mengenai badut, makanya wajar jika sekarang kita dibanding-bandingkan.” Proses syuting sendiri diakui Aga cukup menyenangkan. Perubahan-perubahan kecil dalam naskah yang telah ia susun bersama Khalid Khasogi memang tidak dapat dihindari, namun itu lebih dikarenakan lokasi. “Rumah susun (rusun) Cawang itu sangat kecil. Jadi, Awi memberitahu saya bahwa akan ada beberapa perubahan untuk menyesuaikan dengan lokasi.
Penulis naskah yang sempat berkolaborasi dengan Lucky Kuswandi dalam Madame X ini juga menuturkan bahwa membuat naskah horor itu susah. “Susahnya bikin naskah horor adalah mencari alasan atau membangun pace untuk menampilkan sosok hantu. Membangun perasaan takut penonton pelan-pelan sampai akhirnya si hantu muncul. Untuk Badoet sendiri, kami menggunakan referensi beberapa film horor Hollywood belakangan ini, seperti Insidious. Saya, Ogi, Awi, Daniel, Haresh (Kemlani, produser) berkumpul dan saling mengajukan referensi mana film yang pace-nya menarik, mana yang nggak mau kita gunakan di Badoet.”
Untuk menutup perbincangan malam itu, kami menanyakan masa depan film-film horor Indonesia yang kerap dipandang sebelah mata, bahkan oleh penonton lokal. Namun, Aga sendiri optimis dengan perkembangan salah satu genre yang cukup favorit ini. “Saya optimis dengan masa depan horor Indonesia bila ada produser & sutradara yang memiliki visi genre horor yang tidak menjual sensualitas, seperti Awi dan Daniel (Topan, produser). Selain itu, jumlah penonton juga berpengaruh besar. Percuma kalau visinya bagus, tapi yang nonton sedikit,” tutupnya
