Lamaran: Perbenturan Dua Budaya dan Kisah Cinta

by dr. kawe


Menjelang Lebaran, sudah bisa dipastikan banyak film lokal yang akan tayang. Salah satunya adalah film dengan judul singkat Lamaran produksi Rapi Films ini. Kali ini, Rapi Films menggandeng sutradara yang sudah terkenal dalam meramu kisah-kisah kocak, Monty Tiwa. Sebagai ujung tombak film ini dipasang Acha Septriasa sebagai gadis Batak Tiar dan Reza Nangin sebagai pemuda Sunda Aan. Selain dua bintang muda ini, ada juga sederet pemain senior seperti Mak Gondut, Cok Simbara, Wieke Widowati, Eka Sitorus. Tidak ketinggalan pula kehadiran dua pelaku stand up comedy, Arie Kriting dan Mongol Stress. Dwi Sasono dan Restu Sinaga juga ikut mengisi peran sebagai Arif Rupawan si bos mafia dan Raymond si playboy. 

Tiar Sarigar adalah pengacara muda ambisius asal Batak. Karirnya melejit berkat keberaniannya membela seorang klien untuk korupsi kelas kakap yang melibatkan Arif Rupawan. Gara-gara liputan media, Tiar menjadi sasaran ancaman pembunuhan Arif yang tidak ingin keterlibatannya terbongkar. Untuk itu, dua super agent, Ari dan Sasha, ditugaskan menjaga Tiar dengan menghalalkan segala cara, termasuk merekrut resepsionis kantor Tiar, Aan, untuk menjadi mata-mata dengan cara menyamar menjadi pacar Tiar. Sialnya, keberadaan Aan sebagai “pacar” Tiar justru ditanggapi serius oleh keluarga besar Tiar. Sosok Aan sendiri diprotes karena bukan berasal dari Batak. 

Berbagai upaya dilakukan agar penyamaran tidak terbongkar. Aan berusaha mengambil hati keluarga besar Sarigar dengan membeli marga, sementara Ibu Sarigar berusaha menjodohkan Tiar dengan Raymond. Masalah muncul saat Ibu Euis, Ibu Aan, mengetahui hubungan anaknya dengan gadis Batak, termasuk benturan kebudayaan. Hal ini pun dimanfaatkan Ibu Sarigar untuk menakut-nakuti Ibu Euis agar membatalkan rencana lamaran. Apakah Tiar dan Aan dengan perbedaan budaya dan social yang begitu banyak di antara mereka bisa bersatu? 

Artikel Terkait