Bulan Di Atas Kuburan : Usaha Modernisasi Sebuah FIlm Klasik Tanah Air

by Joedi Dance


 

Sutradara : Edo W.F. Sitanggang

Naskah : Dirmawan Hatta

Pemeran : Rio Dewanto, Donny Alamsyah, Tio Pakusadewo, Atiqah Hasihilan, Ria Irawan, Andre Hehanusa, Remy Silado


Penggemar sastra Indonesia pastinya kenal dengan sosok Sitor Situmorang. Sastrawan kelahiran 2 Oktober 1923 ini banyak melahirkan sajak yang memperkaya khasanah kesustraan tanah air. Salah satu yang paling dikenal berjudul 'Malam Lebaran'. Sajak ini hanya berisi sebuah kalimat namun kaya makna. Satu kalimat ini lah yang kemudian dibuat judul film dan divisualisasikan oleh (alm) Asrul Sani di tahun 1973 dengan bintang Muni Cader dan Rachmat Hidayat. 42 tahun berlalu, sineas muda Edo W.F. Sitanggang dan Dirmawan Hatta (Toilet Blues) mencoba untuk meremake sekaligus menambahkan elemen-elemen yang lebih kekinian dalam Bulan Di Atas Kuburan.

Sahat (Dewanto) adalah seorang penulis asal Samosir yang berangkat mengejar mimpinya di Jakarta. Sahabatnya Tigor (Alamsyah) pun ikut mendampingi. Sesampainya di Jakarta, mereka berdua menumpang hidup di rumah Sabar (Tio Pakusadewo) dan istrinya (Irawan). Naskah novel Sahat sendiri akan dibuat menjadi film propoganda untuk sebuah partai politik, dan dengan idealisme yang ia miliki, Sahat menolak tawaran uang dari petinggi partai. Namun, Sahat tidak dapat menolak perasaannya ketika bertemu dengan Mona (Hasiholan), putri petinggi partai. Mereka berdua pun lalu menikah. Di sisi lain, Tigor dan Sabar harus menghadapi kenyataan pahitnya Jakarta ketika ia terjerumus ke dalam dunia preman. Persahabatan mereka terpecah ketika mereka masing-masing menjalani kehidupan yang berbeda jauh strata sosialnya.

Sebagai tokoh utama, penampilan Rio Dewanto sayangnya justru tertutupi oleh kedua rekannya. Seperti pesan film ini sendiri, Rio tampil seperti tersesat dan kehilangan. Chemistrynya dengan Atiqah juga tidak cukup kuat. Ada cerita menarik soal ini. Saat press screening di IFI Thamrin, seorang wartawan melontarkan pertanyaan serupa. Menjadi pasangan suami-istri mestinya tidak kesulitan untuk menampilkan chemistry yang ciamik. Rio saat itu menjawab santai, "Belum tentu. Justru karena suami istri, chemistry-nya bisa jadi berbeda. Kadang, saya merasa Atiqah lebih dapat chemistry saat berakting dengan aktor lain. Begitu pun sebaliknya."


Bulan Di Atas Kuburan pun kurang menekankan perjalanan waktu yang dialami tokoh-tokohnya. Alur Bulan Di Atas Kuburan terasa membingungkan karena tidak adanya penanda waktu. Menurut saya, penanda waktu ini penting untuk menjelaskan kapan suatu peristiwa terjadi pada tokoh. Jadi ketika alur film berpindah dari satu kejadian ke kejadian lain, saya agak merasa kebingungan.

Poin minus lain yang saya temukan ada pada konklusi akhir pada karakternya. Setelah membuat ketiga karakter utama dilanda permasalahan hidupnya masing-masing, bagian penyelesaiannya justru terasa menggampangkan. Misalnya, taxi yang dikemudikan Sabar tiba-tiba dijungkirbalikkan dan dibakar oleh massa hanya karena dia menyerempet seorang pengendara motor. Mengingat Edo Sitanggang dan Dirmawan Hatta membutuhkan waktu hingga 2 tahun untuk riset, ini rasanya kurang masuk akal. Saya yakin, di kehidupan nyata, sebrutal dan sefrustasi apapun masyarakatnya, pelaku kecelakaan seperti ini tidak layak dibakar. Digebukin lalu ditangkap polisi, mungkin. Tapi dibakar hidup-hidup? Ini bukan begal!

Despite for minus notes, hal pertama yang jadi catatan favorit saya di film ini ada pada sinematografinya. Sejak awal, kita sudah disuguhkan pemandangan alam indah yang seolah loncat dari timeline twitter Earth Porn. Pun begitu ketika setting film sudah berpindah ke Jakarta, jarang rasanya melihat Jakarta yang kotor dan carut marut tetap terlihat sepuitis. Entah itu  di rooftop restoran mewah, stasiun Kampung Melayu saat dini hari, atau pinggiran kali perkampungan Cikini, semuanya seolah ikut berbisik kepada penonton, memberikan vibe yang menohok mata.

Catatan positif lain perlu disematkan kepada Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Sabar, pria Batak dengan mulut besar dan hati yang lebih besar. Penampilannya memang tidak sebanyak Rio Dewanto atau Donny Alamsyah, namun dengan porsi yang tak seberapa banyak itu, I can't stop thinking about him. Cara beliau membawakan karakter Sabar jadi salah satu hal utama yang membuat film ini begitu asyik untuk ditonton. Tapi ya udahlah ya, yang kita bicarakan ini Tio Pakusadewo. Di Toilet Blues, beliau hanya muncul sekilas, menjilati es krim dari kaki seorang wanita, tapi justru itu jadi adegan yang paling memorable. Jadi ketika ia mabuk dan menceramahi Sahat, penonton dibuat yakin ia betulan mabuk. Berbeda dengan Rio Dewanto yang tidak membuat saya yakin ia betul-betul seorang penulis berbakat, selain duduk di depan komputer dan dimarahi saat rapat partai.


Sindiran yang disisipkan oleh Edo Sitanggang dan Dirmawan Hatta pun cukup lucu dan menohok tanpa membuatnya jadi berlebihan. Misalnya saja para pemuda suku Batak yang gerah melihat Indonesia sudah terlalu lama dikuasai oleh suku Jawa, lalu membuat parpol dengan tujuan menjadi presiden Batak pertama di Indonesia. Pertunjukkan antara kelas atas dan bawah pun cukup mulus, walau untuk kasus film ini, saya sangat menikmati visualisasi kaum kelas buruh lewat sudut pandang Tigor, yang menjadi semakin pahit dan getir ketika menuju akhir film. Kumuhnya Jakarta persis seperti yang saya lewati setiap hari. Lucu, karena sejak menyaksikan penampilan cemerlang Donny Alamsyah, saya jadi rajin memperhatikan wajah supir angkot jurusan Senen - Kp. Melayu.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Bulan Di Atas Kuburan tetap menjadi sebuah film Indonesia yang sebaiknya ditonton, apalagi bagi generasi sekarang yang tidak tahu menahu mengenai film aslinya. Saat menulis ini, saya jadi teringat sebuah tulisan cerdas yang mengibaratkan semangkuk bubur ayam dengan strata sosial di masyarakat. Sejatinya, bubur yang ada di bagian bawah adalah simbolisasi kaum proletar, terlihat sepele padahal mereka adalah bagian yang paling fundamental. Ayam, seledri, dan taburan kacang adalah warga kelas menengah yang memberikan cita rasa. Dan kerupuk adalah perwujudan kaum borjuis. Ditaruh terlalu banyak hanya akan menjadi kekacauan. Tak ada orang yang ingin makan bubur yang kebanyakan kerupuk. Sungguh indah dan puitis bukan?

Buat banyak warga kelas atas yang penat dengan bisingnya kota Jakarta, hidup tenang di Samosir yang biru dan bebas bagaikan sebuah fatamorgana. Bagi rakyat kelas bawah, impian itu tak ubahnya seperti keinginan untuk vakansi. Pun begitu dengan warga kelas buruh dan pekerja, yang berbondong-bondong pindah ke Jakarta, bekerja keras untuk mendapatkan secuil kehidupan warga kelas atas. Kadang dengan banyak cara mengerikan. Ketamakan, ketidakpedulian, kesendirian, dan kesepian tumbuh merajalela seperti seekor monster di dalam hati manusia. Bukan bencana alam yang membunuh umat manusia, tapi apa yang tumbuh di diri kita. Pertanyaan itulah yang dilontarkan Bulan Di Atas Kuburan. Akankah kamu menjadi bulan yang bercahaya di atas kuburan, ataukah kamu menjadi jajaran batu nisan yang gelap yang tertimpa cahaya rembulan, tanpa benar-benar menjadi terang benderang?




Artikel Terkait