Wawancara Eksklusif Para Pemeran Bulan di Atas Kuburan: "Kami ingin jadi penyanyi!"

by dr. kawe


Bulan Di Atas Kuburan, salah satu film karya sutradara besar Asrul Sani ini, siap dirilis kembali pada 16 April 2015. Bukan dalam bentuk film lamanya, tapi di-remake dengan kisah yang lebih relevan dengan masa sekarang dan bintang-bintang yang sudah pasti dikenal oleh pencinta film sekarang ini. Disutradarai oleh Edo W. Sitanggang, film ini memajang deretan aktor dan aktris yang cukup punya nama di dunia perfilman lokal, seperti Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, Remy Sylado, Mutiara Sani, Atiqah Hasiholan, Annisa Pagih, dan masih banyak lagi. Beberapa waktu yang lalu, Layar-Tancep mendapatkan kesempatan berbincang secara eksklusif dengan tiga pemerannya, yaitu Rio, Donny, dan Annisa mengenai peran mereka dalam Bulan Di Atas Kuburan. Seperti apa keseruannya? Simak obrolan kami berikut.
 
 
Ketika pertama kali menerima peran ini, apa yang terlintas di pikiran? Bagaimana rasanya menjadi perantau dari Batak lalu ke Jakarta?
Rio Dewanto (RD): Kebetulan, saya sempat tinggal di Medan hampir empat tahun. Kurang lebih, kultur dan logat Batak sebenarnya sudah sedikit banyak saya kuasai, apalagi sekarang mertua saya juga orang Batak. Jadi, hal tersebut bukan hal yang baru. Justru yang lebih menantang adalah bagaimana menyampaikan pesan dari film ini kepada masyarakat supaya masyarakat sadar akan apa yang terjadi di lingkungan mereka karena film ini benar-benar menunjukkan potret realita.
 
Apa yang membuat kalian tertarik bermain dalam film ini?
RD: Ini film yang diangkat dari film Asrul Sani, tapi sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Awalnya tertarik karena sudah melihat film yang lama, tapi selain itu juga karena skenario baru yang dibuat sekarang. Ceritanya lebih luas, karakternya lebih banyak, tapi semuanya semakin menguatkan isi cerita.
Donny Alamsyah (DA): Ya, ada yang mewakili masing-masing orang dalam film ini karena film ini memang menggambarkan realita.
 
Adakah alasan lain sehingga tertarik bergabung dalam film ini?
DA: Awalnya saya justru tidak tahu bahwa film ini pernah dibuat sebelumnya pada 1973. Tapi, begitu melihat skenarionya, melihat apa yang ingin disampaikan, karakternya seperti apa, yang pertama kali menarik perhatian saya adalah karakternya yang kaya. Semua karakter dalam film ini mempunyai peran masing-masing dan memiliki fungsinya sendiri. Itu yang membuat saya tertarik. Jadi, setelah membaca skenarionya, lalu saya lihat filmnya yang dulu, dan saya baca lagi skenario yang sekarang, menurut saya film ini pasti akan jauh lebih baik dari yang dulu.
 
 
Teaser-nya enak dilihat dan menyejukkan mata. Bagaimana menurut kalian?
RD: Secara teknis, ini film pertama di Indonesia yang menggunakan lensa anamorphic.  Dari awal, film ini dibuat serius, tidak asal-asalan. Ini film yang memang diproduksi dengan baik.
Annisa Pagih (AP): Produk film ini sendiri ingin dibuat berkualitas dari segala sisi. Teknis diperhatikan, skenario yang kuat, dan artis-artis yang luar biasa.
RD: Ini juga film kolaborasi yang belum pernah ada di Indonesia. Semua ada di sini, mulai dari aktor, seniman, sastrawan, seperti Remy Sylado dan Adi Kurdi serta artis-artis masa kini, semuanya hadir di film ini.
 
Awalnya, Mas Edo tertarik menggarap film ini karena film ini mengangkat sukunya. Apakah Mas Edo memberikan arahan kepada kalian untuk film ini?
DA: Pertama, kami memang diminta membaca skenarionya. Tapi, setelah dibaca, kami mencari hal yang perlu kami ketahui untuk memperkuat akting kami, dan setelah itu Mas Edo hanya memberikan batasan kepada kami. Misalnya, ketika saya lupa mengeluarkan logat Batak saya. Tapi, selain itu, Mas Edo memberikan kebebasan. Tapi, tetap saja, kami diberikan banyak modal dari Mas Edo. Jadi, kami mengerti apa yang harus kami lakukan.
RD: Sebenarnya, pada dasarnya, sutradara itu bukan dalang yang memainkan wayang. Sebagai aktor, kami juga harus banyak berdiskusi, menawarkan pemikiran masing-masing, pandangan masing-masing. Mas Edo membebaskan kami, tapi sebagai aktor, kami juga harus aktif memberikan berbagai penawaran.
 
Adakah perubahan karakter dengan karakter di film BDAK sebelumnya?
DA: Kurang lebih sama, tapi lebih diperkaya dan disesuaikan dengan masa kini. Konfliknya juga sama, tapi, memang karakternya lebih kaya.
RD: Menurut saya sama, tapi di sini ada karakter Annisa yang merupakan penambahan untuk memperkuat cerita bahwa Tigor bisa merasakan cinta sejati.
AP: Ada karakter-karakter tambahan untuk memperkuat cerita. Ada Adi Kurdi, Annisa, yang juga tambahan untuk menceritakan beberapa angle yang berbeda.
 
 
Bisakah ceritakan dari sudut pandang Tigor, Sahat itu seperti apa? Dan, sebaliknya.
DA: Sebelum berangkat ke Jakarta, Tigor sempat bicara ke Sahat, ‘selama kita bersama, semua masalah bisa kita atasi’. Tapi, ternyata kehidupan di Jakarta berbeda. Sahat punya tujuannya sendiri. Sementara Tigor di Jakarta hanya bisa bertahan hidup. Melihat Sahat terus maju, Tigor tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa menemaninya. Tapi, belakangan juga Tigor ditinggalkan oleh Sahat. Tigor datang ke Jakarta awalnya karena iming-iming Sabar. Tapi, Tigor mengajak Sahat ikut serta dan Tigor percaya Sahat tidak akan mengkhianati persahabatan mereka. Tapi, ternyata semua berbeda. Sahat itu karakter yang bisa hidup di mana saja. Tipikal orang yang kalau sudah menemukan hal yang dia inginkan, dia akan fokus dan terus mengejar mimpinya itu. Karakter yang kuat.
RD: Tigor orang yang polos, punya mimpi yang besar, dan sangat suportif kepada Sahat. Tapi, karena egonya Sahat sangat tinggi, dia berambisi untuk bisa berhasil di ibukota dan mungkin karena itu dia rela melakukan segala hal. Ini memang penggambaran orang Batak.
 
Terkait judul, Bulan di Atas Kuburan apakah sudah menggambarkan isi cerita seluruhnya?
DA: Sangat. Bulan ada di atas, menggambarkan harapan. Tapi kita tinggal di kuburan yang sepi, kosong. Seperti yang dirasakan karakter Tigor, sepi seperti berada di kuburan. Tapi dia melihat ada harapan di atas, seperti bulan yang sulit dicapai. Karakter lain juga merasa begitu.
 
Sekarang, isilah titik-titik berikut. Seandainya saya jadi orang Batak, saya akan...?
DA: Jadi penyanyi! Karena saya tidak bisa menyanyi. Dan saya akan belajar main gitar.
AP: Langsung kepikiran jadi penyanyi.
RD: Jadi pengusaha, atau pengacara.
 
 
Dalam film ini, hal baru apa yang kalian pelajari?
DA: Dialek dan belajar main gitar, dan orang Batak saat bernyanyi suaranya lantang. Selain itu, tentang persaudaraan Batak yang kuat juga. Nilai-nilai yang mereka pegang tentang persaudaraan itu keren.
RD: Ceritanya yang tentang urbanisasi. Saya jadi punya pikiran untuk pindah dari kota ini.
AP: Kalau saya, banyak yang dipelajari tentang akting. Karena film ini melihat masyarakat saat ini, kami jadi benar-benar melihat di lokasi-lokasi di Jakarta, apa yang benar-benar terjadi di Jakarta. Ini bukan cuma cerita, tapi memang benar-benar terjadi di masyarakat saat ini.
 
Menurut kalian, perfilman Indonesia sedang berada di mana sekarang? Sedang baguskah? Atau sedang menurun?
AP: Secara ide dan semangat sedang naik menurut saya. Tapi, film bukan cuma soal film, tapi bicara soal budget dan pendapatan. Perfilman Indonesia  saat ini belum menjadi industri yang kuat. Sineasnya sendiri sudah bagus, tapi masih banyak hal yang belum tersistem dengan jelas. Jadi, dari ide dan usaha udah mulai naik, tapi untuk merealisasikan agar dapat dikatakan sudah berkembang, masih banyak sisi lain yang harus ditingkatkan lagi.
RD: Setuju dengan Nisa. Pasarnya semakin berkurang saat filmnya sudah mulai berkembang. Tapi, sekarang semuanya sama-sama mencari formula untuk perfilman Indonesia. Sekarang, semua mencari bagaimana caranya untuk membuat para penonton Indonesia mau ke bioskop menonton film Indonesia yang bersaing dengan film-film Hollywood. Mungkin kita jangan membuat film hanya sebatas film. Kita harus bepikir membuat sebuah produk. Jadi, kita harus bersaing dan menciptakan produk terbaik supaya masyarakat mau membeli.
DA: Film Indonesia seperti sedang naik tangga. Tapi, sebelum naik ke level berikutnya, selalu ada tantangan baru. Penonton, misalnya, harus ada yang baru dari semua yang sudah ada agar penonton Indonesia tertarik. Manusiawi kalau penonton bosan sehingga harus ada sesuatu yang baru dari para sineas supaya penonton Indonesia mau datang ke bioskop. Sebetulnya, bagi perfilman Indonesia, yang kurang saat ini hanya masalah pendataan. Formula. Kalau sudah ada data dan formula, kita bisa mempelajari pasar, momentum, timing, dan lainnya. Semua di Amerika memakai data. Semua yang berhubungan dengan bisnis mereka dan menghasilkan uang, pasti didata. Nah, mudah-mudahan, kita bisa mencontoh mereka dengan melakukan pendataan seperti itu.
 
 
Editor dan kontributor Layar-Tancep menyempatkan diri berfoto dengan para pemeran Bulan Di Atas Kuburan
 
 

Artikel Terkait