
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada 18 Desember 2013, beberapa Jelata yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam gala premiere film Laskar Pelangi 2: Edensor yang diadakan di Epicentrum XXI, Rasuna Said, Kuningan. Selain menyaksikan film lebih dulu daripada Jelata yang lain, mereka juga bisa bertemu dan foto dengan artis-artis yang hadir, di antaranya Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, dan masih banyak lagi. Lalu, apa sih pendapat mereka mengenai Edensor?

Tanto Kyen (@t4nt0)
Waktu pertama kali denger Film Laskar Pelangi 2 : Edensor, saya hampir lupa kalo sebelumnya ada film Sang Pemimpi yang diperankan Nazril Irham. Karena film ini menggunakan nama Laskar Pelangi 2. Tapi setelah screening film ini di Epicentrum 18 Desember lalu,Saya jadi tau apa maksud penamaan tersebut. Menurut saya, film ini biasa saja. Karena di luar prediksi saya yang berharap bahwa film ini akan 'wah' seperti bukunya sendiri yang 'best seller'. Banyak bagian2 yang di novel yang menarik, namun tidak ditampilkan di film ini. Oh iya 1 lagi, di film ini saya tidak merasakan semangat 'Laskar Pelangi' seperti di film sebelumnya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.

Agtusha Azizah P. (@tushatu)
Awalnya kecewa karena bagi saya, novel Edensor begitu luas dan yang paling saya suka di antara tetralogi Laskar Pelangi lainnya. Edensor menggambarkan satu-kesatuan titik dari petualangan Ikal dan Arai selama di Eropa bahkan penjelajahan sampai ke Afrika. tak ada film adaptasi yang bisa memvisualisasikan imajinasi pembaca dari novel yang difilmkan dengan sempurna. Sampai akhirnya saya sadar bahwa adaptasi adalah menyesuaikan bukan mengcopy-pastekan. Terlepas dari semua itu, saya mengakui bahwa film ini keren dan menghibur. Karena jalan ceritanya yang bisa terhubung dengan jelas walaupun masuk beberapa kali flashback, penonton tetap bisa mengikuti alurnya. Jadi walau ceritanya flashback tapi pemain dan semua komponen yang mendukung tetap diperhatikan. Om Benny Setiawan juga berhasil membantu pemain untuk memasukkan karakter (sifat) tokoh yang mereka perankan, sehingga apa yang terbayang tentang karakter yang bukan fisik tokoh dalam novel, dapat terlihat dengan nyata. Keren karena film ini menyuguhkan konflik yang indah, mengalir apa adanya. konflik yang tak perlu adegan menangis berlebihan, berteriak-teriak dan adegan lain yang menguras tenaga. kita sebagai penonton, bisa ikut merasakan konflik yang dialami pemain dengan permainan emosi yang sangat jujur. sangat dramatis. Film ini juga berhasil membuat saya tertawa dengan lepas. Akhir kata, saya pengen nonton lagi! dan temen-temen semua juga saya sarankan untuk nonton, karena gak akan rugi waktu dan biaya sedikitpun. :p

Sigit Koerniawan (@WhawanSigit_)
Kesan-kesan setelah nonton film LP2Edensor :
1. Film Indonesia yang sangat bagus dan berkualitas
2. Film yang menambah pengetahuan tentang belajar bagaimana untuk meraih MIMPI, CITA-CITA dan KESUKSESAN dalam pendidikan.
3. Film yang Mengispirasi anak muda untuk tetap bersemangat untuk menggapai impiannya.
4. Tidak hanya menceritakan pendidikan, tepai kita bisa melihat keindahan Paris dan Belitong (Indonesia)
5. Akting kedua Aktor yg sangat Apik, keren.
6. Lukman Sardi dan Abimana Aryasatya akting mereka sudah tidak diragukan lagi, BAGUS banget Aktingnya! GOOD !!!
Keseluruhan dari film, gue suka banget !!! Yang enggak disuka, cuma kurang ada "greget" nya aja . Kayaknya akan ada kelanjutannya lagi di film selanjutnya. "Ikal belom bertemu dengan Aling di Paris". sangat ditunggu sekali kalo memang nanti bakal ada kelanjutannya lagi.

Corina Khoirunnisa (@91708_)
Kecewa. Mungkin ini satu kata yang menggambarkan perasaan saya setelah menonton gala premiere Laskar Pelangi 2: Edensor. Terlalu banyak cerita menarik yang tidak ditampilkan di dalam film ini. Dan saya juga tergelitik untuk mengomentari penampilan Lukman Sardi di film ini. Aktingnya memang tidak perlu dikomentari lagi, akan tetapi penampilan fisik beliau di film ini terasa amat sangat tua, dan tidak sebanding dengan penampilan fisik Abimana. Meski saya merasa terhibur dengan humor-humor yang ada, tapi saya merasa humor tersebut terlalu banyak dan terlalu panjang. Ya, mungkin ini karena saya terlalu menaruh ekspektasi besar dengan jalan cerita yang sesuai dengan novel, maka saya merasakan kekecewaan setelah menonton film ini. Mungkin kalau saya belum membaca novelnya, saya tidak akan terlalu kecewa dan cenderung puas dengan hasilnya.
Demikian komentar dari para Jelata. Untuk Jelata lain yang ingin seperti mereka, tunggu terus kuis kami berikutnya di linimasa akun Facebook & Twitter kami yaaa.
PS Redaksi: Beberapa kalimat telah mengalami pengeditan dan pemotongan tanpa mengurangi isi komentar yaa...