Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemain: Ario Bayu, Maudy Koesnaedi, Tika Bravini, Lukman Sardi, Agus Kuncoro, Tanta Ginting

Soekarno kini hadir di ranah perfilman. Dengan proses yang rumit dan memakan jadwal syuting yang berkepanjangan, Soekarno menjanjikan cerita yang hebat dari tokoh yang bersejarah ini. Apakah memang film bisa menggambarkan secara jelas mengenai sosok Bung Karno ?
Soekarno dibuka dengan sebuah adegan yang menurut saya sendiri sangat kurang nikmat sehingga menjadi sebuah landasan yang sebenarnya kacau-balau. Apalagi secara keterlaluan, satu jam pertama diisi dengan momen percintaan. Hal yang lebih membuat saya berkerut kebingungan, yaitu adanya penyimpangan sejarah yang terjadi. Entah bermaksud dramatisasi cerita atau lebih menggigit, namun justru sangat merusak ritme film ini. Namun, setelah setengah jalan yang membosankan itu, akhirnya Hanung seperti memberikan performa terbaiknya. Ia membuat alur semakin meningkat dan menggetarkan. Apalagi ketika Bung Karno berjuang bersama pejuang lain. Plus, adanya beberapa tambahan informasi yang menjelaskan mengenai sejarah tersebut. Namun lagi, ada beberapa adegan di mana Hanung sepertinya bermain aman dan juga kehilangan arah lagi.

Ario Bayu bisa dibilang ‘lumayan’ sebagai Bung Karno. Ia bisa berwibawa dan juga memberikan pesona dalam setiap pidato yang diucapkan. Meski begitu, aktingnya terasa naik-turun dalam film ini. Sayangnya, Maudy sebagai Inggit dan juga Tika sebagai Fatmawati tidak lebih dari sekedar pemanis. Apalagi, saya terlanjur kecewa dengan penggambaran karakter Ibu Inggit yang digambarkan tidak semestinya. Begitupun karakter pendukung, seperti Lukman Sardi sebagai Bung Hatta dan Matthias Muchus yang sekedar numpang lewat. Sama halnya dengan Ferry Salim yang biasa saja. Saya sendiri memuji Tanta Ginting yang memberikan akting prima sebagai Sjahrir. Dia mencuri perhatian sepanjang film in iwalaupun adegannya tidak banyak.
Hanung Bramantyo hampir sama seperti beberapa film terakhir yang ia buat, kebingungan. Hal ini terlihat bagaimana ia kesulitan mengarahkan ke mana arah jalan cerita dalam film ini. Apalagi ada beberapa adegan yang terlalu berlebihan dan bertele-tele. Akan tetapi, keberaniannya dalam menyajikan sejam terakhir di film ini patut diacungi jempol. Sinematografi yang indah tidak lain berkat kerja keras Faozan Rizal. Memberikan pemandangan yang begitu indah. Dalam segi tata suara, Tya Subiakto cukup baik dalam mengiringi film ini. Ada scoring yang kurang atau malah tidak pas di beberapaadegan.
Soekarno bisa dikatakan sebuah film ambisius yang sayangnya tidak maksimal. Apalagi film ini seperti kesulitan dalam menuturkan sejarah perjuangan. Akan tetapi, film ini tetap direkomendasikan untuk ditonton. Mungkin suatu saat, akan ada film Soekarno lain yang bisa lebih baik lagi. Dengan biaya yang besar dan juga permasalahan di baliknya, Soekarno sulit untuk menjadi film yang ‘besar’.
