
Siapa bilang adaptasi layar lebar lokal hanya dikuasai oleh novel-novel teen-lit ataupun novel modern? Setelah penonton Indonesia disuguhkan Di Bawah Lindungan Kabah, kini satu lagi karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA) yang diangkat ke layar perak. Adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1937 dan telah mengalami cetak ulang hingga kini yang dipilih PT Soraya Intercine Films untuk dihadirkan dalam bentuk gambar gerak.

Kisahnya sendiri berfokus pada sosok seorang pemuda bernama Zainuddin yang memiliki darah campuran, Minang dari ayah dan Bugis dari ibu. Karena hal ini, ia dianggap tidak bertalian darah lagi dengan keluarganya di Minang. Keadaan ini membuatnya kerap menceritakan perasaan terasingnya dengan Hayati. Tidak butuh lama bagi keduanya untuk tumbuh benih-benih asmara. Namun, dengan kondisi Zainuddin dan perbedaan asal-usul keduanya, di mana Hayati berasal dari keluarga terpandang, Zainuddin diminta untuk pindah ke Padang Panjang oleh ibunda Hayati.
Sementara itu, Aziz, seorang pemuda asli Minang dan juga berasal dari keluarga kaya bermaksud meminang Hayati. Meski akhirnya Hayati menikah dengan Aziz, namun sebenarnya hatinya masih terpaut pada Zainuddin. Mengetahui hal ini, Zainuddin kontan marah dan memutuskan pindah ke Surabaya. Di sana, ia menjadi penulis terkenal dan hidup berkecukupan. Ternyata, Aziz dan Hayati juga pindah ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan. Namun, lambat-laun rumah tangga keduanya retak, ditambah lagi Aziz dipecat. Keduanya memutuskan untuk menumpang hidup di rumah Zainuddin. Di sinilah, cinta segitiga antara keduanya kian meruncing.

Keseriusan PT Soraya Intercine Films untuk mengadaptasi kisah ini sendiri tercemin dari proses praproduksi dan selama syuting berlangsung. Dimulai dari observasi, proses praproduksi, casting, hingga penulisan skenario film ini yang sudah dilakukan sejak lima tahun lalu, terhitung sejak tahun 2008. Pemilihan penulis skenario filmnya pun tidak main-main karena melibatkan dua novelis ternama Donny Dhirgantoro (5 CM) dan dibantu Riheam Junianti (Love in Prague). Proses produksi sendiri memakan waktu enam bulan dengan lokasi di kota-kota yang ada di dalam kisah aslinya, seperti Padang, Makassar, Jakarta, dan Surabaya dan menggunakan lebih dari 5000 orang figuran. Tidak hanya itu, kapal Van der Wijck pun kembali “dihidupkan” dengan skala 1:1 dengan eksterior dan interior yang serupa dengan kapal aslinya yang pernah berlayar dan tenggelam di lepas pantai Nusantara pada tahun 1930-an. Pembuatan kapalnya sendiri memakan waktu satu tahun.
Jajaran para pemainnya pun tidak dapat dipandang sebelah mata karena diisi oleh aktor dan aktris, baik muda maupun senior, yang sudah memiliki filmografi yang cukup impresif, seperti Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy Nidji, Arzeti Bilbina, Jajang C Noer, Afrizal Anoda, Fenny Bauty, dan masih banyak lagi.
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck siap tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 19 Desember 2013.
