
Film lokal yang mengangkat kisah drama percintaan rasanya sudah luar biasa banyaknya alias tidak terhitung lagi oleh jari tangan dan kaki. Tapi, coba sebutkan film yang meski mengangkat jalinan asmara dua insan beda jenis tapi memiliki ciri khas yang membedakannya dengan film serupa. Sulit? Sekarang tidak lagi karena hadir sebuah film yang menyelipkan sejarah di tengah-tengah kisah cinta sepasang remaja: Adriana.
Mamen (Adipati Dolken) adalah cowok playboy yang melihat cewek cantik sebagai petualangan. Di sisi lain, ia berteman dengan Sobar (Kevin Julio) yang lebih kalem dan pendiam. Sobar sendiri kerap terseret masalah akibat kelakuan playboy Mamen, di antaranya dikejar preman yang anaknya dipermainkan Mamen. Suatu hari, Mamen yang sedang ada di perpustakaan daerah bertemu sesosok gadis cantik. Terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan dari awal berkenalan, Mamen terkejut ketika si gadis misterius itu bukannya memberikan nama dan nomor telepon melainkan sederet teka-teki. Penasaran dengan cewek yang dianggapnya berbeda dari cewek cantik kebanyakan, Mamen pun memutuskan untuk minta bantuan Sobar dalam memecahkan teka-teki yang merujuk pada sejarah Jakarta.
Beres satu teka-teki, cewek itu masih belum menyerah. Iapun memberikan teka-teki baru untuk Mamen sekaligus petunjuk terhadap namanya, Adriana (eva Celia). Setali tiga uang dengan Adriana, Mamen juga semakin penasaran dan terus berusaha memecahkan teka-teki yang ada. Sementara itu, Sobar mulai merasa familiar dengan bayangan yang dikejar Mamen dan mulai berusaha menelusuri sendiri teka-teki itu. Tanpa keduanya sadar, mereka akan dibawa menelusuri berbagai sejarah, tidak hanya Jakarta tapi juga diri mereka sendiri yang akan menguji persahabatan mereka.

Dibintangi oleh tiga artis muda, yaitu Adipati Dolken, Kevin Julio, dan Eva Celia, karya pernyutradaraan terbaru Fajar Nugros ini terasa memberi angin segar di tengah-tengah film tentang drama cinta remaja yang wara-wiri di layar lebar. Meski temanya sendiri sudah sering diangkat (kalau tidak mau dibilang klise), namun sisipan sejarah Jakarta di dalamnya dan teka-teki yang menggelitik rasa ingin tahu penonton sedikit banyak memberikan rasa yang berbeda. Dengan lihai, Nugros bermain kata-kata dalam teka-tekinya sehingga penonton tidak hanya duduk diam dan menyaksikan perjuangan Mamen, tapi turut menebak -nebak di manakah lokasi pertemuan mereka selanjutnya.
Akting para pemainnya pun di luar dugaan menarik untuk disimak. Eva Celia berhasil menghidupkan sosok Adriana yang cantik, namun misterius; Adipati juga berhasil memerankan Mamen yang easy going; dan Kevin juga pas memerankan Sobar yang tenang, tapi di balik itu ternyata menyimpan masa lalu yang di luar dugaan. Akting kesemuanya terkemas apik ditambah dengan akting para pemeran pendukung seperti Agus Kuncoro dan Soleh Solihun yang sukses mengundang tawa satu teater. Selain itu, muatan sejarah Jakarta yang disisipkan dijamin akan menambah pengetahuan mengenai kota metropolitan tercinta ini. Leluconnya pun tidak terkesan terlalu dipaksakan dan mampu membuat penonton tidak hanya tersenyum, tapi juga tertawa terbahak-bahak.

Sayangnya, beberapa elemen tidak dijelaskan oleh Nugros sehingga menimbulkan plot hole, seperti bagaimana cara Mamen mendapatkan petunjuk kedua? Lalu, Adriana yang menari sendirian di Pekan Raya Jakarta itu maksudnya apa? Namun, plot hole ini memang tidak terlalu mengganggu kenikmatan para penonton menyaksikan Mamen, Adriana, dan Sobar berkeliling Jakarta untuk menguak teka-teki yang saling berhubungan. Namun, sejarah yang termuat sendiri mungkin hanya bisa dimengerti dan diresapi oleh warga Jakarta yang sudah sering melihat tempat tersebut. Untuk di luar Jakarta sendiri, pengetahuan ini bisa jadi akan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Tapi, tidak ada salahnya mengetahui tentang sejarah kota lain kan? Mungkin saja di kemudian hari para sineas tertarik untuk mengangkat kisah serupa dengan mengambil Yogyakarta, Surabaya, atau Bali sebagai latarnya?
All photos by: Erland Herlambang